DAFTAR BACA:

  • Peringati HUT IKM FTUI ke-48 Tahun, Mahasiswa FTUI Ikut Aksi Tuntaskan Reformasi Bersama Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Warisan BJ Habibie Untuk Indonesia dan Dunia

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Masih Perlukah Kita MUKER?

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • MUKER 9 IKM FTUI: Panggung untuk Kalibrasikan IKM atau Bubarkan IKM?

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Roket Falcon 9 SpaceX Bawa Satelit Nusantara Satu Terbang ke Angkasa.

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Peresmian Musholla Teknik Next Level

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Akun Instagram @ui.cantik Noda di Almamater

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Netizen Ribut di Timeline, Teknik Juara Olimpiade UI Jangan Dilupakan!

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Intip Sosok Pemimpin IKM FTUI 2019 Lewat Pemira

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Setelah Mundur Satu Hari Pemungutan Suara untuk Pemira FTUI Resmi dibuka

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Yuk, Membahas Pembangunan Perkotaan yang Berkelanjutan Bersama CENS UI

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Pandji Pragiwaksono ajak Mahasiswa Baru FTUI Berkarya untuk Indonesia

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Keindahan Orkestra dalam Dies Natalis ke-54 FTUI

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Buka Puasa Bersama Alumni di Affogato Coffee yang Penuh Kesan

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Potret Kejujuran Mahasiswa FTUI

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Istilah “Wibu” Yang Dipermasalahkan

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Meski Sementara, Harus Tetap Nyaman: Analisa Mikro dan Makro Musala Teknik Sementara

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Seminar Fintech UI dan Dana Cita “The Evolution of Fintech and Opportunities Ahead”

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • 2,8 Miliar Donasi Terkumpul, Renovasi Mustek Resmi Dimulai

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Hari Buruh Internasional: Serikat Buruh Sampai Pekerja Honorer

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Kerja Sosial FTUI 2018: Pengabdian FTUI kepada Masyarakat Desa Cikarae Thoyyibah

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Mungkinkah LPJ IKM FTUI Bertransformasi?

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Saham Uber Dicaplok Grab

    oleh admin, administrator
  • Mendengarkan Musik dan GPS Sambil Berkendara Ditilang?

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Ketua BEM UI Acungkan ‘Kartu Kuning’, Tanggapan BEM FT ?

    oleh Teknika FTUI, administrator

Masih Perlukah Kita MUKER?

muker

Poster Masih Perlukah kita MUKER?

Musyawarah Kerja (MUKER) IKM FTUI merupakan forum pengambilan keputusan tertinggi di IKM FTUI yang diadakan setiap empat tahun sekali untuk menyesuaikan dan menyempurnakan peraturan – peraturan yang ada di IKM FTUI. Mulai dari Eksistensi IKM FTUI, Kode Etik IKM FTUI, Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga (PD/PRT) IKM FTUI, serta Garis Besar Haluan IKM FTUI (GBHI).

Sejak IKM FTUI didirikan pada 14 September 1971 di Tugu, Puncak, IKM FTUI sudah menyelenggarakan delapan kali Musyawarah Kerja yaitu pada tahun 1971, 1974, 1976, 1995, 2003, 2007, 2011, dan 2015. Pada tahun 2019 IKM FTUI akan kembali menyelenggarakan Musyawarah Kerja yang ke Sembilan.

Agenda MUKER IX IKM FTUI ini akan berlangsung dari bulan Februari – Mei 2019.Pada bulan Februari telah dilaksanakan forum 1 dengan bahasan “Pembubaran IKM FTUI” yang menghasilkan keputusan bahwa IKM FTUI akan terus ada. Bulan Maret akan diadakan lima forum dengan bahasan “Kode Etik IKM FTUI”, “GBHI, Landasan, Sifat, Tujuan, dan Usaha”,”Forum Pengambilan Keputusan” dan “Kelembagaan dan Kemahasiswaan”.  Pada Bulan April forum “Kelembagaan dan Kemahasiswaan” serta “Aturan Peralihan” dan terakhir pada bulan Mei akan dilaksanakan TAP yang menyepakati aturan dari MUKER IX IKM FTUI yang telah dilaksanakan pada bulan Februari – Mei 2019.

Forum 1: IKM FTUI akan tetap ada.

 

Pada Forum 1 MUKER IKM FTUI yang diadakan tanggal 28 Februari – 1 Maret 2019 dihasilkan keputusan yang menyatakan IKM FTUI akan tetap ada dan masih relevan sampai saat ini. Keberadaan IKM FTUI masih diperlukan untuk menjaga persatuan antar mahasiswa yang ada di FTUI. Tetapi ada beberapa pembahasan yang cukup menarik pada forum 1  yang menyatakan IKM FTUI dirasakan cukup mengekang oleh beberapa pihak karena persoalan pembinaan yang ada di kegiatan kemahasiswaan IKM FTUI lebih memberatkan mahasiswa FTUI dibandingkan dengan kegiatan akademis yang ada di FTUI. IKM FTUI sudah menjadi budaya di mahasiswa FTUI sehingga keberadaannya masih diperlukan. Pada Aturan MUKER VIII masih belum dijelaskan mekanisme referendum pembubaran, sehingga hal ini masih belum jelas mengenai mekanisme pembubaran IKM FTUI itu sendiri.

Presidium Rapat MUKER IX terlambat dipilih

Presidium

Pemilihan Presidium MUKER pada tanggal 28 Februari 2019

Pada Tanggal 28 Februari 2019, Pembahasan mengenai Pembubaran IKM FTUI belum dilakukan dikarenakan Presidium Rapat MUKER IX yang seharusnya telah ditentukan sebelum tanggal 28 Februari, tetapi baru dapat ditentukan pada penghujung tanggal 28 Februari 2019. Sehingga, bahasan sesungguhnya Forum 1 MUKER IX IKM FTUI baru dapat dimulai pada awal tanggal 1 Maret dengan bahasan pembubaran IKM FTUI.

Rapat Malam sampai Pagi

 

Rapat malam sampai pagi merupakan hal yang sudah biasa pada kegiatan kemahasiswaan di IKM FTUI. Sebut saja pada saat eksplorasi calon Ketua IMD, BEM FTUI, hingga BEM UI juga dilaksanakan dari malam sampai pagi di lingkungan FTUI. Bahkan beberapa BO dan BOK di IKM FTUI juga menggelar eksplorasi calon ketuanya dari malam hingga pagi.  Tidak heran jika kegiatan Musyawarah Kerja IX IKM FTUI ini juga dilaksanakan dari malam hingga pagi hari. Tetapi hal ini banyak mendapatkan hambatan dalam mengambil keputusan. Pada rapat penting seperti Musyawarah Kerja IX IKM FTUI hal ini kurang ideal karena hanya segelintir orang yang bertahan mengikuti rapat semacam ini. Orang – orang yang bertahan mengikuti rangkaian rapat ini memiliki pemikiran yang cukup seragam dan setuju dengan sistem yang ada saat ini.

Pada Rapat Malam sampai Pagi ini tentu sulit untuk mendatangkan narasumber seperti dari kalangan Dosen, Alumni, maupun narasumber lainnya yang dianggap dapat membantu memberikan masukan terkait sistem IKM di FTUI ini. Perubahan pada MUKER IX IKM FTUI hanya mendengarkan mahasiswa FTUI yang datang pada saat rapat ini berlangsung.  Sehingga sulit untuk melakukan perubahan yang berarti untuk IKM FTUI di dalam MUKER IX yang dilaksanakan pada tahun ini.

FORUM 2 Dibatalkan karena 13 Lembaga di IKM FTUI tidak hadir

 

Forum 2 MUKER IX IKM FTUI yang membahas mengenai “Kode Etik IKM FTUI” Pada tanggal 1 Maret 2019 dibatalkan karena jumlah kuota forum (kuorum) tidak mencukupi baik dari peserta penuh MUKER IX IKM FTUI maupun dari perwakilan Lembaga yang ada di IKM FTUI. Bahkan 13 dari 25 Lembaga yang ada di IKM FTUI tidak menghadiri Forum 2 MUKER IX IKM FTUI hingga penghitungan kuorum terakhir dilakukan. Kesepakatan dari para peserta MUKER IX IKM FTUI menyatakan bahwa Forum 2 yang membahas mengenai “Kode Etik IKM FTUI”  dibatalkan karena jumlah kuorum yang kurang dan digantikan dengan rapat diskusi tanpa ada keputusan yang di TAP pada Forum 2 ini.

Lembaga IKM FTUI yang tidak hadir pada saat penghitungan kuorum terakhir di Forum 2 MUKER IX IKM FTUI adalah sebagai berikut:

Ikatan Mahasiswa Departemen

  • Ikatan Mahasiswa Elektro (IME) *hadir setelah perhitungan kuorum terakhir
  • Ikatan Mahasiswa Arsitektur (IMA) *hadir setelah perhitungan kuorum terakhir
  • Ikatan Mahasiswa Teknik Kimia (IMTK)

Badan Otonom / Badan Semi Otonom / Badan Otonom Kerohanian

  • Kamuka Parwata (KAPA)
  • Engineering Entrepreneur Cooperation (E-Corps)
  • Network and Information Center (NetIC)
  • Persekutuan Oikumene (PO)

Klub Peminatan Departemen

  • Society of Petroleum Engineers (SPE)
  • Society of Biotechnological Engineering (SBE)
  • Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI)
  • Nano Research Society
  • Hydromodelling Technology & Workshop (HTW)
  • Aeromodelling

Hanya sedikit Perubahan yang dilakukan pada Draft MUKER

 

Salah satu Dewan Pengarah (DP) MUKER IX IKM FTUI yang bertugas untuk menyusun draft MUKER untuk dibahas pada Forum MUKER IX IKM FTUI mengatakan bahwa hasil MUKER VIII IKM FTUI pada beberapa bagian masih relevan untuk dijalankan. Sehingga perubahan yang dilakukan hanya memperbaiki diksi yang ada pada hasil MUKER VIII IKM FTUI.  Salah satu ide yang ditambahkan pada draft MUKER IX IKM FTUI di Forum 2 yaitu menambahkan kata lingkungan hidup pada bagian kode etik IKM FTUI. Isu lingkungan hidup perlu ditambahkan pada bagian kode etik IKM FTUI dengan harapan bahwa Mahasiswa FTUI akan lebih peduli dan menjaga lingkungan hidup.

 

Penutup

 

Musyawarah Kerja (MUKER) merupakan forum pengambilan keputusan tertinggi di IKM FTUI dan hanya dilakukan empat tahun sekali. Sehingga hal ini merupakan agenda penting di IKM FTUI untuk menyesuaikan segala aturan yang ada di IKM FTUI. Masih perlukah kita meluangkan waktu untuk mengikuti MUKER ? Akankah IKM FTUI menjadi lebih baik setelah MUKER ini berakhir? Memulai suatu perubahan mungkin tidaklah mudah. Banyak yang perlu kita pikirkan untuk merubah suatu aturan yang sudah cukup baik pada saat ini.

Penulis : Irmansyah Turhamun

Editor: Redaksi Teknika FTUI



Opini: Terancam Pidana Karena Memencet Semut ketika RKUHP Disahkan

Rancangan Undang-Undang Kitab Umum Hukum Pidana (RKUHP) mengandung beberapa pasal yang cukup kontroversial dan dapat saja menjadi multitafsir jika disahkan menjadi KUHP yang baru. Salah satu pasal yang dapat menjadi multitafsir adalah Pasal 341 dan Pasal 342 yang ada di dalam RKUHP yang pengesahannya ditunda setelah aksi unjuk rasa mahasiswa. Pasal 341 dan Pasal 342 membahas mengenai penganiayaan terhadap hewan. Sehingga jika masyarakat menganiaya atau membunuh hewan untuk tujuan yang tidak patut sesuai yang dijelaskan pada butir penjelasan Pasal 341 dan 342 RKUHP akan dapat dipidana sesuai ketentuan yang berlaku pada peraturan tersebut.

.

Menengok Pasal 341 dan 342 RKUHP

Bunyi dari Pasal 341 dan 342 dalam RKUHP adalah sebagai berikut:

PASAL 341

(1) Dipidana karena melakukan penganiayaan hewan dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau pidana denda paling banyak kategori II, Setiap Orang yang:

  1. menyakiti atau melukai hewan atau merugikan kesehatannya dengan melampaui batas atau tanpa tujuan yang patut; atau
  2. melakukan hubungan seksual dengan hewan.

(2) Jika perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan hewan sakit lebih dari 1 (satu) minggu, cacat, Luka Berat, atau mati dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun 6 (enam) bulan atau pidana denda paling banyak kategori III.

(3) Dalam hal hewan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) milik pelaku Tindak Pidana, hewan tersebut dapat dirampas dan ditempatkan ke tempat yang layak bagi hewan.

Pasal 342

(1) Dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau pidana denda paling banyak kategori II, Setiap Orang yang:

  1. menggunakan dan memanfaatkan Hewan di luar kemampuan kodratnya yang dapat berpengaruh terhadap kesehatan, keselamatan, atau menyebabkan kematian Hewan;
  2. memberikan bahan atau obat-obatan yang dapat membahayakan kesehatan Hewan; atau
  3. memanfaatkan bagian tubuh atau organ Hewan untuk tujuan yang tidak patut.

(2) Setiap Orang yang menerapkan bioteknologi modern untuk menghasilkan Hewan atau produk Hewan transgenik yang membahayakan kelestarian sumber daya Hewan, kesehatan dan keselamatan masyarakat, dan kelestarian fungsi lingkungan hidup dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau pidana denda paling banyak kategori IV.

Butir penjelasan pada Pasal 341 dan Pasal 342 dalam RKUHP adalah sebagai berikut:

Pasal 341

Cukup jelas.

Pasal 342

Ayat (1)

Huruf a

Cukup jelas.

Huruf b

Cukup jelas.

Huruf c

Yang dimaksud dengan “tujuan yang tidak patut” antara lain selain untuk konsumsi, ilmu pengetahuan, penelitian dan medis.

Ayat (2)

Cukup jelas.

Pada Penjelasan pasal 341 dan 342 RKUHP terdapat frasa ‘Cukup jelas’. Menurut hukumonline.com, “Jika peraturan perundang-undangan tidak lengkap atau tidak jelas, dan frasa ‘cukup jelas’ justru ditafsirkan berbeda oleh masyarakat, peraturan itu tetap harus dilaksanakan Jika perbedaan pendapat itu sampai pada sengketa yang dibawa ke pengadilan, maka tugas hakimlah yang menemukan hukumnya”.

Jika mengacu pada pasal 341 dan 342 RKUHP maka setiap warga negara Indonesia tidak boleh melakukan penganiayaan terhadap hewan apapun kecuali untuk tujuan konsumsi, ilmu pengetahuan, penelitian dan medis.

Apakah Dapat Dipidana Karena Memencet Semut?

Pada Pasal 341 dan Pasal 342 tidak ada penjelasan mengenai definisi dari kata hewan, sehingga definisi atau pengertian hewan dapat diambil dari sumber lain yaitu pada UU No 16 Tahun 2009 Tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Hewan adalah binatang atau satwa yang seluruh atau sebagian dari siklus hidupnya berada di darat, air, dan/atau udara, baik yang dipelihara maupun yang di habitatnya.

Pasal 341 dan Pasal 342 RKUHP memberikan perlindungan hukum bagi semua binatang yang hidup di darat dan ada di Indonesia. Jika kita merujuk pada pengertian hewan pada UU No 16 Tahun 2009 tersebut.

Semut merupakan hewan yang tergolong dalam kelas serangga yang hidup sangat dekat dengan manusia. Namun, Semut sering dianiaya bahkan dibunuh dengan cara dipencet,dihantam dengan benda keras bahkan diinjak oleh masyarakat Indonesia dengan tujuan selain dari konsumsi, ilmu pengetahuan, penelitian, ataupun medis. Alasan masyarakat memencet semut merupakan tujuan yang tidak patut sesuai dalam butir penjelasan pasal dalam RKUHP.

Namun kegiatan memencet semut ataupun meracun tikus masih dapat dimaklumkan dalam norma yang ada di masyarakat. Undang-Undang yang mengatur dan membahas mengenai hewan lebih banyak membahas mengenai hewan peliharaan, hewan ternak, satwa dilindungi dan hewan liar. Namun untuk serangga seperti semut dan kecoa tidak ada peraturan yang lebih khusus membahas mengenai penganiayaan kepada hewan tersebut.

Penutup

Rancangan Undang-Undang Kitab Umum Hukum Pidana (RKUHP) masih perlu diperbaiki karena adanya pasal-pasal yang tidak jelas dalam penjelasannya sehingga dapat menimbulkan kesalahan penafsiran seperti Pasal 341 dan Pasal 342. Penjelasan mengenai definisi dari hewan yang dimaksud dalam pasal tersebut hendaknya lebih diperjelas sehingga tidak menjadi definisi umum dari hewan. yang ada. Tujuan tidak patut seperti dalam Pasal 341 dan Pasal 342 perlu dijelaskan lagi karena jika kita melukai hewan selain daripada tujuan yang dijelaskan dalam penjelasan Pasal 341 dan Pasal 342 RKUHP dapat saja terjerat dengan hukuman pidana.

Penulis : Irmansyah Turhamun



MUKER 9 IKM FTUI: Panggung untuk Kalibrasikan IKM atau Bubarkan IKM?

Muker IX

Poster Publikasi Muker IX

Hampir dua tahun menyatu dengan kehidupan yang sebeumnya sama sekali tak dikenal, dinamika, budaya, ideologi, serta pandang pikirnya. Di sini seperti berada di miniatur Indonesia, melihat 1,905 juta km2 tanah Indonesia melalui sepetak tanah di Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI).

Menolak lupa perkenalan pertama kali dengan segala pernak-pernik “Undang-Undang”-nya Ikatan Keluarga Mahasiswa (IKM) FTUI, yaitu saat Masa Adaptasi Dunia Kampus (MADK) 2017 berlangsung. Masih sederhana, hanya seputar tujuan, usaha, dan kode etik IKM FTUI. Lambat laun dengan pelan tapi pasti kita mengenal hal-hal kompleks lain seperti Garis-garis Besar Haluan IKM FTUI (GBHI) dengan sembilan strateginya juga Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga (PDPRT) dengan segala ayatnya –meski tak banyak yang hafal.

IKM FTUI

Ilustrasi Buku Peraturan IKM FTUI (Sumber: MPM FTUI 2014)

Setelah mulai terbiasa dengan semua itu, ternyata undang-undang IKM FTUI telah memasuki masa “amandemen” –bahasa kerennya –melalui pristiwa sangat besar di IKM FTUI. Hanya diadakan empat tahun sekali, jadi setiap mahasiswa FTUI pasti akan mengalami peristiwa ini minimal sekali selama masa studinya. Bahkan kemarin saat masa-masa eksplorasi para calon pemimpin lembaga di IKM FTUI, pertanyaan tentang hal ini menjadi salah satu primadonanya. Apalagi jika bukan forum pengambilan keputusan nomor wahid di IKM FTUI menurut Peraturan Dasar IKM FTUI BAB VII pasal 15, yaitu Musyawarah kerja (Muker). Terakhir Muker diadakan pada 9 April hingga 8 Mei 2015 dan menghasilkan Ketetapan Musyawarah Kerja VIII. Kata Hardiansyah, Ketua BEM FTUI 2017, saat eksplorasi calom Ketua BEM FTUI 2019, hanya mengubah sedikit sekali di bagian mukadimah dari Ketetapan Muker sebelumnya.

Intinya di muker ini kita bisa membubarkan IKM FTUI, menarik sekali, bukan? Dan jika dilakukan referendum seluruh IKM FTUI ternyata mayoritas rakyat FTUI menyatakan harus bubar, maka bubarlah. Muker pun selesai, senanglah hati Project Officer dan para peserta penuh muker karena jadi tidak perlu sering pulang pagi. Namun menangis darah bagi SC dan para Panitia DP Muker yang dari tahun lalu sudah membuat draft dengan susah payah dan tertatih-tatih demi menyiapkan muker yang kondusif. Tetapi, alasan apa yang sebading dengan segala pertimbangan dan perjuangan para pendahulu hingga IKM FTUI ini berdiri. Menjadi tempat berkembang para awaknya, dan banyak membawa kebermanfaatan untuk para anggotanya. Jika IKM FTUI ini buabar, bayangkan, siapa yang akan membuat diktat untuk para mahasiswa muda yang super murah meriah? Siapa yang akan mengadakan berbagai workshop dan career festival untuk para mahasiswa tua? Siapa yang akan mengadakan seminar yang snack atau makan siang gratisnya bisa menyelamatkan dompet di tanggal tua? Ah, itu baru hal yang paling remeh, kawan!

Ayolah, dari pada ribut soal pembuabaran IKM karena sudah tidak relevan atau apalah, justru itulah fungsi “amandemen” ini; untuk mengalibrasikan supaya arah gerak IKM FTUI bisa relevan dengan kebutuhan mahasiswa FTUI yang sebagian besar merupakan generasi milenial ini.

Lebih baik memperbaiki sistemnya dari pada mengakhirinya. Banyak yang harus dipikirkan. Jika dilakukan perbaikan di sana sini pasti akan menjadi baiklah IKM FTUI. Contohnya seperti Pemilihan Raya (Pemira) kemarin. Apakah dengan membuat peraturan bahwa calon untuk ketua BEM FTUI tidak boleh calon tunggal dengan mengambil –secara paksa –satu calon dari tiap-tiap departemen –seperti yang diatur dalam PRT IKM FTUI –akan berdampak baik pada panggung demokrasi IKM FTUI? Lalu buat apa itu semua dilakukan, jika ternyata nantinya akan ada mekanisme pengunduran diri? Seakan-akan mereka yang diajukan itu akhirnya mau maju untuk mundur. Haha pantas saja debat calon ketua BEM FTUI tidak jadi berjalan karena semua kecuali satu calon tidak ada yang bersedia mengikuti debat. Bahkan saat pemberitahuan debat dibatalkan, di situ tidak disertakan alasannya.

Rapat Pra Muker

Suasana Rapat Pra Muker 25/2/2019 (Dokumentasi Teknika 2019)

Namun ya sudah. Ini bukan tulisan untuk mengkritik Pemira kemarin, tetapi sebagai pengingat tahun ini kita punya agenda super penting, yaitu muker. Tulis dalam buku agendamu! Kita saksikan bersama panggung muker ini. Seberapa kita semua berjuang mengalibraskan IKM FTUI ini menjadi relevan. Bukan omong kosong pembubarannya. Mari kita kalibrasikan IKM.

Penulis: Ika N.P (Kontributor Teknika FTUI 2019)

Editor: Redaksi Teknika FTUI 2019



Menuju 50 Tahun IKM FTUI

Lambang IKM FTUI

“Mahasiswa FTUI? Apa bedanya sama mahasiswa fakultas teknik universitas lain?” dengan bangga, seorang mahasiswa FTUI menyerukan “IKM FTUI”. IKM FTUI berisikan berbagai lembaga dan mengadopsi konsep trias politika, yang dimana lembaga-lembaga tersebut merupakan wadah bagi para mahasiswa untuk menjadikannya seorang yang berkualitas dan patut dikatakan berhasil.

Hampir 50 tahun sudah IKM FTUI kokoh berdiri. Layaknya sebuah pondasi yang berdiri dan memopang beban yang menimpanya, mahasiswa FTUI tiada hentinya berkiprah agar senantiasa berguna bagi bangsa, agama, dan negara. Tetapi, apakah sudah semua mahasiswa berkontribusi? Jawabannya adalah sudah. Kontribusi disini tidaklah harus selalu dan melulu mengikuti organisasi, berkompetisi, dan berprestasi. Pertanyaan sesungguhnya ialah “Seberapa besarkah kuantitas konstribusi tersebut?”

Banyak lembaga BO dan BSO yang hadir dan siap menjadi tempat pembelajaran. Hanya satu kata dan satu sifat yang dibutuhkan untuk bergabung kedalam lembaga tersebut, yaitu BERANI. Tidak perlu ragu jika keberanian tersebut terhambat karena pengalaman. Karena kalian disini menawarkan masa depan bukan masa lalu. Jikalau masih ditolak? Coba lagi, jangan berhenti, bidang lain menanti.

Memang, tidak semua usaha dan tenaga yang diberikan akan berbuah hasil yang manis. Tunggu saja, usaha saja, “Tuhan menaruhumu di tempat yang sekarang, bukan karena kebetulan. Orang yang hebat tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan. Mereka dibentuk melalui kesukaran dan air mata.” – Dahlan Iskan.

Jangan pernah merasa gagal akan suatu hal karena satu belalang akan kalah dengan ribuan semut. Ialah mereka yang gagal jika berhenti disitu saja. Menuju 50 tahun perayaan IKM FTUI sudah selayaknya dirayakan dengan meriah dan disambut dengan baik oleh seluruh warga FTUI entah itu bagi mereka yang sudah berada diatas atau bagi mereka yang masih dibawah dan sudah berani mencoba. Percayalah, seseorang akan berhasil jika mereka sedang di titik terbawah ataupun titik teratas.

Akhir kata, selalu ingat dimana diri kalian berada, dimana diri kalian memulai, hal tersebut dapat menjadi acuan dan menjadi pengingat jikalau suatu saat kalian sudah terlalu terbuai dengan dunia ini tawarkan.

 

HIDUP IKM FTUI, HIDUP MAHASISWA, HIDUP INDONESIA.

 

Penulis: Hallyena Risfenti

 



Kematian Beberapa Superhero Bawa Avengers Infinity War Pecahkan Rekor

Siapa yang tidak tahu superhero-superhero terkuat layaknya Iron Man, Captain America, Thor, ataupun Hulk? Kini mereka kembali beraksi pada film terbaru garapan Marvel Studios yakni Avengers Infinity War yang rilis pada 25 April 2018 di Indonesia. Disutradarai oleh kakak-beradik Anthony dan Joe Russo, film ini berhasil memecahkan rekor Box Office pembukaan debut akhir pekan terbesar dengan angka total $641 juta atau setara Rp. 8,9 T secara global (forbes.com), yang sebelumnya dipegang oleh Star Wars: The Force Awakens. Film ini sebelumnya telah memecahkan rekor untuk trailer yang paling banyak ditonton dalam 24 jam ketika rilis di youtube.com (29/11/17) dengan penonton sebanyak 230 juta. Film ini telah mendapatkan rating 9.0/10 dari situs IMDb dan 84% pada Rotten Tomatoes.

Sebagai ringkasan cerita film-film sebelumnya, pada Captain America: Civil War (2016) tim Avengers terpecah dikarenakan perbedaan pendapat mengenai perjanjian Sokovia yang membuat Avengers hanya tinggal sebuah nama tanpa benar-benar ada anggota didalamnya. Di sisi lain, ketika Hulk (Mark Ruffalo) menghilang pada akhir film Avengers Age of Ultron dan ternyata terdampar pada planet Sakaar akhirnya dipertemukan dengan Thor dan Loki pada film Thor Ragnarok (2017). Para Avengers ini kemudian dipersatukan kembali setelah terpecah belah bersama dengan hero lainnya seperti Guardians of the Galaxy, Dr. Strange (Benedict Cumberbatch), dan juga Spiderman (Tom Holland) untuk melawan supervillain Thanos dan para anak buahnya, The Black Order yang berencana untuk mengumpulkan 6 infinity stones.

Berlatar belakang dari planet Titan yang diambang kehancuran dikarenakan banyaknya populasi yang tidak seimbang dengan sumber daya yang ada, Thanos (Josh Brolin), seorang titan yang memiliki ambisi untuk melenyapkan setengah populasi dari dunia tanpa pandang bulu agar dunia mencapai keseimbangan dan tidak overpopulasi akhirnya dijuluki Mad Titan. Thanos sendiri mengincar keenam infinity stones yang dapat memanipulasi waktu (time stone), jiwa (soul stone), kekuatan (power stone), ruang (space stone), pikiran (mind stone), dan realita (reality stone) untuk melancarkan misinya tersebut semudah menjetikkan jari. Thanos sendiri tidak sendiri sebagai antagonis dari film ini, ia ditemani oleh para anak angkat Thanos (Children of Thanos) atau Black Order yang beranggotakan Corvus Glaive, Ebony Maw, Proxima Midnight, dan Cull Obsidian.

Loki Menyerahkan Tesseract pada Thanos (Foto : justinkownacki.com)

Film ini dikemas cukup padat berdurasi 149 menit dan memiliki atmosfer yang cukup berbeda dibandingkan dengan film-film Marvel sebelumnya dimana lebih membawa suasana serius dan emosional, walaupun masih memiliki sedikit unsur komedi. Selain itu film ini juga cukup menyorot hubungan dari Vision (Paul Bettany) dan Scarlet Witch (Elizabeth Olsen) serta hubungan ayah dan anak antara Thanos serta Gamora (Zoe Saldana) yang berperan penting dalam alur perkembangan film Infinity War. Penulis naskah dari film ini, Stephen McFeely juga mengkonfirmasi bahwa penonton harus siap untuk mengucapkan selamat tinggal untuk beberapa karakter mayor dari film-film Marvel. “It’s safe to say we will say farewell to people,” ujarnya pada independent.co.uk. Ending yang terkesan cukup menggantung membuat penonton harus menunggu berbagai film Marvel selanjutnya seperti Ant-Man and the Wasp yang akan rilis Juli 2018 mendatang dan Captain Marvel yang rilis Maret 2019 sebelum akan mendapatkan jawaban dari film Avengers keempat yang masih belum memiliki judul dan akan rilis Mei 2019.

Infinity War merupakan film ke-19 dari Marvel Cinematic Universe sekaligus menandai 10 tahun berdirinya Marvel Studios. Berlatarkan tepat setelah film Thor Ragnarok yang rilis pada bulan Oktober 2017 lalu, film ini merupakan puncak dari alur cerita Marvel fase ketiga dimana hampir seluruh superhero bergabung untuk melawan Thanos, yang sebelumnya telah disinggung sejak 6 tahun lalu pada film The Avengers (2012). Setidaknya ada lebih dari 24 superhero yang muncul berdasarkan dari Anthony dan Joe Russo, namun nampaknya kita harus bersabar untuk menanti kemunculan dari Hawkeye, Ant-Man, maupun superhero baru The Wasp dan Captain Marvel yang sudah dipastikan tidak akan ikut serta pada film Avengers kali ini.

Tony Stark Pada Salah Satu Scene di Infinity War (Foto : nerdist.com)

Avengers Infinity War dirilis secara global pada tanggal 27 April 2018 serentak dengan pengecualian untuk beberapa negara seperti Indonesia dan Singapura yang berkesempatan menikmati jadwal rilis terlebih dahulu pada tanggal 25 April 2018 atau China yang baru akan rilis pada bulan 11 Mei 2018 (hollywoodreporter.com). Beberapa pemain film Infinity War juga berkesempatan untuk menghadiri Red Carpet Premiere di berbagai negara, salah satunya di Marina Bay Sands, Singapura (16/04) yang dihadiri oleh Robert Downey Jr. (Tony Stark/Iron Man), Benedict Cumberbatch (Dr. Strange), Karen Gillan (Nebula), dan Joe Russo (Director).

Penulis : Talitha Zada Gofara

Editor : Ali Hamdani & Abiyyah

 

 



Infinity War, Ngetrend Atau Ikut-Ikutan Ngetrend?

Avengers Infinity War yang menjadi film paling hits tahun ini (Foto : marvel)

Beberapa hari terakhir, seakan-akan media sosial sedang happening banget sama yang namanya Infinity War. Yap! Gak Cuma di medsos aja, bahkan obrolan kamu bersama teman-teman dikelas juga berubah menjadi film anyar besutan Marvel ini bukan? Bahkan kamu dan teman-teman kamu saling berargumen bahwa kitalah yang paling mengerti alur cerita film ini?

Ya benar, Film Marvel yang ke 19 ini seperti mengulang kesuksesan film Black Panther yang sempat hits di awal Februari lalu. The Avengers: Infinity War ini bercerita mengenai tokoh Thanos yang ingin menghancurkan dunia demi ambisi terselubungnya, para Avengers harus berjuang melawan Thanos dengan segala cara, dan tentunya sangat seru dan menegangkan.

Oke, terlepas dari itu semua, kebayang juga dong gimana kondisi bioskop di sekitar kalian? Semua berlomba menayangkan film ini, bahkan 1 bioskop full dengan jam tayang yang hanya berjarak 30 menit saja! Ya seperti teori yang ada, semakin tinggi demand, maka semakin tinggi pula supply yang ditawarkan. Satu minggu sebelum ditayangkan perdana, tepatnya Rabu 18 April lalu penjualan tiket telah dibuka, dan perebutan tiket dengan jadwal dan seat favorit pun dimulai. Sama seperti SIAK-War ala anak UI, atau perebutan tiket mudik, bahkan beberapa aplikasi dan website resmi teater bioskop sempat DOWN selama beberapa saat. Sama halnya juga terjadi di bioskop dimana antrian luar biasa dan mengular tak terhindarkan. Beberapa orang pun sempat mengalami kekecewaan dan harus pulang lebih awal dikarenakan tidak mendapatkan tiket. Tidak hanya tiket weekend yang terus diburu penonton, tetapi stok tiket weekdays pun ludes dibeli bahkan hingga seat paling depan, atau persis di depan layar! (Gak kebayang dong nonton dengan kondisi seperti ini).

Karena padatnya kegiatan dan kehabisan tiket di weekdays, penulis baru berkesempatan menonton film ini di hari Sabtu, 28 April. Masuk bioskop disambut dengan hiruk pikuk “keluarga cemara” yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak serta sanak saudaranya untuk ikut menonton. Setelah mengantri, akhirnya penulis mendapatkan tiket dan mulai menonton. Kondisi di dalam studio memang benar-benar full seats. Walaupun film ini memiliki Genre 13+ tetapi penulis masih menjumpai beberapa orangtua yang membawa balita atau anak-anak yang masih dibawah usia minimal syarat menonton. Memang sebaiknya anak-anak tidak diikutsertakan dalam pertunjukan bioskop karenan masih rentan untuk bertingkah aneh-aneh seperti berisik atau tiba-tiba menangis, dan mengganggu penonton lain. Anak-anak ini pun sepertinya tidak begitu memahami alur cerita film. Walaupun tidak salah ketika di tengah film tercetus “ma, itu siapa?” “Pah Tony Stark nya mana?” ataupun “Hulk ya kok warna hijau pah?” karena tujuan menonton film adalah untuk hiburan dikala akhir pekan. Yang menjadi persoalan adalah, apakah para penonton ini murni untuk menonton? Atau hanya ikut-ikutan menonton karena takut di-campak-kan karena belum menonton?

Ini merupakan sebuah masalah yang tidak mudah untuk terpecahkan, walaupun motif untuk menonton setiap orang berbeda-beda, tetapi anggapan untuk “ikut-ikutan aja” sepertinya harus dihilangkan, karena memengaruhi segala aspek, misalnya ada fans berat MCU (Marvel Cinematic Universe) yang kecewa gara-gara kalah war tiket sama yang gak tau Thor itu yang mana, ‘sakit’ bukan? Hehehe. Selain itu, ketegasan pihak bioskop untuk melarang anak-anak yang masih dibawah umur dari genre film untuk ikut menonton harus ditingkatkan dan kesadaran orangtua akan pemilihan film harus lebih teliti dan cermat. Jangan sampai tontonan yang awalnya hanya bertujuan untuk hiburan akhir pekan hanya membawa keburukan untuk sang anak! Tentunya gak mau kan?

Penulis : Wiby Adhitya Prayoga

Editor : Naufal Farras Fajar

 



TapCash di Kantek, Apa Kabar ?

 

Akhir tahun lalu,  Dekanat atau pihak Fakultas sangat menggencarkan transaksi Non-Tunai menggunakan kartu sebagai pengganti uang sebagai alat pembayaran yang sah di Kantek FTUI. Dalam hal ini digunakan kartu TapCash yang merupakan produk dari BNI. Pada awal peresmian hingga 4 bulan setelah pengoperasian, nampaknya penggunaan TapCash sudah menjadi hal yang biasa untuk membeli makanan di Kantek. Selain menggunakan kartu debit BNI, KTM juga bisa berperan sebagai TapCash jika diisi saldo. Kasir pengisian TapCash pun selalu ramai oleh mahasiswa yang akan mengisi dan top up saldo TapCash nya.

Banner himbauan kepada mahasiswa dan warga FT UI untuk menggunakan TapCash sebagai alat transaksi non-tunai.

Masalah dimulai ketika keadaan dimana banyak oknum yang tidak memiliki KTM tetapi tetap memaksa untuk membeli makanan dengan uang cash, selain uang cash lebih simple, uang cash juga lebih cepat masuk ke kas pedagang. Padahal ada sanksi dari Fakultas, jika kedapatan tidak menggunakan TapCash pada saat transaksi. Selain masalah tersebut, mesin EDC (Electronic Data Capture) yang sering error atau mati menjadi masalah yang dikeluhkan pedagang dan mahasiswa di Kantek. Bahkan pernah dalam beberapa hari, transaksi pedagang sama sekali tidak terdata/tercatat oleh sistem mesin EDC, itu artinya para pedagang rugi dan tidak memiliki modal untuk berjualan keesokan harinya. Banyak permasalahan lain, seperti penggunaan KTM untuk TapCash yang sangat rentan terhadap resiko kehilangan atau bahkan patah dan pudar karena sering digunakan untuk bertransaksi.

Untuk itu, akhir-akhir ini, pedagang dan mahasiswa lebih suka kembali memakai uang cash. Selain lebih efisien, penggunaan kembali uang cash pun mengurangi sampah kertas dari bukti transaksi yang dicetak setiap memakai mesin EDC. Padahal pada waktu awal diterapkan “Kantek Non Cash” ini bertujuan untuk mempermudah mahasiswa dan pedagang untuk tidak memikirkan kemungkinan uang kembalian dan menjaga makanan agar lebih higienis.

Jadi kamu pilih mana? Cash? Atau TapCash?

Poster sosialisasi dari pedagang Kantin Teknik (Kantek) kepada mahasiswa dan warga FTUI untuk menggunakan TapCash (Foto : BEM FTUI 2017)

Penulis : Wiby Adithya P (Kontributor)

Editor : Naufal Farras Fajar



Momentum IKM FTUI

IKM FTUI memasuki tahun emasnya, tahun kelima-puluh sejak terbentuk. Setiap tahun tentu memiliki lika-liku yang berbeda seirama dengan dinamika mimpi dan tujuan kepala beserta ekor setiap lembaganya. Improvisasi dan konsep berkelanjutan seringkali mengikuti semangat pergantian periodisasi atau mandataris terhadap kader lembaga naungan IKM FTUI. Namun tak banyak yang sadar, sudahkah ia menggunakan wadah mulia itu untuk tujuan mulia?

IKM FTUI sejatinya adalah wadah perjuangan. Tempat mahasiswa mengekspresikan apa yang dia senangi ataupun apa yang mau dia senangi. IKM FTUI adalah laboratorium terbesar bagi mereka yang mau menggunakannya untuk mencoba, mengubah, dan menebar. Tidak dapat dipungkiri bahwa tak banyak yang mengartikan IKM FTUI secara benar. Mereka yang hanya ingin punya kesibukan, tanpa tahu apa yang ingin mereka betul-betul pelajari. Mereka yang hanya ingin menyebarluaskan relasi, tanpa ingin mengabdi. Mereka yang sangat ingin bertanggung jawab di organisasi, namun melepas pikiran mengapa di universitas ini mereka harus berdiri.

Sudahkah komponen IKM FTUI berbenah diri? Sudahkah mereka sadar hal besar yang mereka miliki tak hanya untuk bermanfaat, tetapi harus berdampak? Semangat kontribusi seringkali mengikuti saat awal mengenal banyak tempat untuk bersanding. Orientasi untuk memupuk pencapaian untuk masuk ke daftar CV. Orientasi untuk mendapat, mendapat, mendapat. Orientasi untuk dikenal.

Bergabung dengan IKM FTUI harus lebih dari sekedar hal tersebut. Ketika kita berpikir apa yang hendak kita dapat dan benefit apa yang dapat diberikan oleh suatu organisasi, cobalah berpikir juga apa yang bisa kita berikan dari diri kita. Tentu hukum tabur tuai berlaku, tuaian akan berbanding lurus dengan taburan. Jika ingin menuai banyak, haruslah menabur banyak. Kita harus tahu bahwa IKM FTUI bukanlah provider, yang menyediakan semua target-target hidup kita. IKM FTUI adalah mediator yang berisi orang-orang yang sama-sama ingin mengusahakan orang lain. Tentu, orang-orang yang telah terlibat di dalamnya harus membentuk kekuatan itu.

Menjadi bagian IKM FTUI tak lepas dari tanggung jawab. Mari kita hargai individu yang memilih untuk tidak bergabung, ketimbang mereka yang tidak bertanggung jawab! Bukan, bukan hanya bertanggung jawab di organisasi mereka, melainkan juga bertanggung jawab dengan kewajiban utama mereka mengapa mereka ada di kampus UI. Tidak keren jika hanya sukses di perorganisasian, tapi lalai dalam studi yang ditekuninya. Tidak keren jika di komunitas tersebut dikenal sebagai orang yang cekatan, namun tidak pernah memprioritaskan penuh bahkan tidak mengerti sebegitunya tentang ajaran dosen. Tidak keren jika menjadi outstanding di organisasi, tetapi sering lupa dengan komitmen dia dengan orang tua untuk lulus dengan baik.

IKM FTUI mulai menua, mulai membentuk pola mandirinya. Baikkah hal tersebut? Menjadi IKM FTUI yang ‘gitu-gitu aja’. Sebagai penggerak lembaga, kepekaan memang harus ditumbuhkan. Cobalah untuk peka dengan keadaan saat ini pada IKM FTUI! Masihkah ideal? Sebagai lembaga rasional yang adaptif, IKM FTUI harus selalu merajut dan mengganti hal yang sudah tidak cocok lagi.

Momentum 50 Tahun IKM FTUI harus kita jadikan sebagai semangat bersama membangun wadah perjuangan yang terus mencetak mahasiswa yang benar-benar berkualitas sesuai tuntutan zaman, tidak bertahan dengan stagnansi yang membosankan dan terus mengeliminasi peminat orang-orang untuk menjadi penggerak. Jangan mau dimatikan oleh kesia-siaan!

 

Penulis : Dody Rainaldo (Kontributor)

Editor : Sabiq Mufarriq

 



Film Horror yang Sangat Sunyi : A Quiet Place

Film A Quiet Place memiliki konsep yang datang dari kehidupan sehari-hari. Satu hal yang ditonjolkan di film ini yaitu keheningan. Film ini mendatangkan kengerian berdasarkan konsep bahwa untuk bertahan hidup manusia harus berjuang untuk tak mengeluarkan suara. Suara apapun, sesedikit apapun, karena bisa berujung maut. Film ini disutradarai sendiri oleh salah satu aktor utamanya, John Krasinski, yang juga menulis skrip bersama Bryan Woods dan Scott Beck.

Diceritakan bumi diserang makhluk antah berantah yang buta tetapi mempunyai pendengaran yang luar biasa tajam. Manusia hampir punah karena dibunuh oleh makhluk-makhluk itu. Hanya tinggal sedikit sekali dan masing-masing bersembunyi dalam hening.

 

Pokok cerita film fokus pada keluarga Abbott. Mereka terdiri dari ayah (John Krasinski), ibu (Emily Blunt), serta anak-anak (Millicent Simmonds, Noah Jupe). Pasangan suami-istri Abbott yang diperankan oleh pasangan betulan juga tak perlu diragukan lagi chemistry dan aktingnya. Mereka sudah tahu akan keberadaan monster, sehingga mereka mengendap-endap dan berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Dengan keadaan seperti itu, tidak menyurutkan keinginan pasangan Abbott untuk memiliki anak lagi setelah kehilangan si bungsu karena sewajarnya perilaku anak kecil yang rasa ingin tahunya besar.

 

Menuju akhir film, terselip drama keluarga yang bikin haru dan tumbuh perasaan optimis bahwa masih ada harapan untuk membasmi makhluk yang hampir tak punya kelemahan itu.

 

Penulis : Muhammad Rafi

Editor : Irman Turhamun



Kualitas Lulusan Sekolah Harus Menyesuaikan Zaman

Kebutuhan tenaga kerja di Indonesia telah berubah jika dibandingkan dengan tempo dahulu. Dengan adanya hal ini, kualifikasi yang dibutuhkan perusahaan pun ikut berubah. Pada industri modern seorang calon pelamar kerja harus memiliki kemampuan 5C, yaitu communication, collaboration, critical thinking, creativity, dan computational learning. Kreativitas dan kecakapan dalam menggunakan teknologi merupakan kompetensi utama yang harus dimiliki pekerja pada era milenial.

Di Indonesia, hanya sekolah-sekolah yang ada di kota saja dan sekolah yang berkecukupan yang bisa mengajarkan hal seperti itu kepada siswanya. Seharusnya, semua kemampuan seperti itu sudah harus diajarkan ke semua anak sejak dini sehingga kualitas lulusan sekolah di Indonesia dapat merata. Terbukti dari angka yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS), angka pengangguran Indonesia per Agustus 2017 sebanyak 7,04 juta orang dimana lulusan SMA memiliki presentase 8,29 persen dari total pengangguran dan SMK dengan 11,41 persen. Pemerintah harus bisa memastikan semua sekolah dapat menyediakan sarana prasarana yang mencukupi untuk memaksimalkan potensi setiap siswa.

Ilustrasi pengguunaan gadget oleh anak-anak. (Sumber: shutterstock.com)

Generasi Z merupakan generasi yang sangat akrab dengan internet dan gadget. Teknologi tersebut bisa difungsikan sebagai wadah untuk mempelajari hobi, mengetahui sumber informasi, hingga alat bantu untuk mengajar. Oleh karena itu, setiap sekolah sebaiknya dapat menerima gadget dan akses internet dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari. Contoh penggunaannya adalah pekerjaan rumah yang melibatkan komputer dan internet seperti menulis artikel di blog, membuat konten video, dan menonton tayangan inovatif di YouTube yang dapat melatih anak untuk dapat berpikir kreatif.

Teknologi digital pun diperlukan dalam proses belajar mengajar di kelas seperti penggunaan tablet yang telah terkoneksi dengan internet yang telah dilengkapi dengan pembelajaran online. Dengan adanya metode ini, diharapkan dapat dihasilkan lulusan yang berkompeten untuk dunia industri modern dengan kemampuan berpikir yang kreatif serta cakap dalam penggunaan teknologi.

 

Penulis: Reno Adrian (Kontributor)

Editor: Septiana Pratama Nugraheni dan Himawan Nurchayanto



Gaya Berpakaian Mahasiswa Berdasarkan Fakultas Masing-masing

Setiap hari ketika kita beraktifitas di dalam kampus, kita akan menemukan banyak mahasiwa dengan gaya berpakaian yang berbeda satu sama lain. Hal ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan masa SMA, ketika semua siswa ataupun siswi lain hanya menggunakan seragam sekolah berwarna putih-abu. Tetapi, dibalik semua perbedaan itu, ada beberapa kesamaan dari cara berpakaian para mahasiswa berdasarkan fakultas yang mereka ambil. Berikut adalah beberapa tipe berpakaian berdasarkan fakultasnya.

Yang pertama adalah mahasiswa fakultas hukum, ilmu politik, dan ekonomi yang selalu rapih, bersih, atau dapat disebut dengan parlente. Gaya itu menjadi gaya yang paling sering digunakan oleh mereka karena pada umumnya, dalam pekerjaan yang mereka inginkan seperti praktisi hukum, ekonom ataupun politisi, cara berpenampilan akan menjadi cara mereka berkomunikasi ataupun menunjang performa.

Yang kedua adalah mahasiswa kedokteran yang juga selalu berpenampilan rapih yang tidak hanya sekedar ingin, tetapi merupakan sebuah tuntutan untuk melayani dan menyenangkan pasien. Paduan kemeja dan chinnos adalah pilihan yang paling populer bagi anak kedokteran.

Berbeda dengan cara berpakaian mahasiswa hukum, ilmu politik, ekonomi, dan kedokteran, mahasiswa sastra dan bahasa mengungkapkan ragam budaya melalui penampilannya yang bermacam-macam. Ada yang berpenampilan hipster, ada juga yang berpenampilan ala rocker, dan ada juga yang berpenampilan reggae atapun esteris ala kedaerahan.

Selain mahasiswa sastra yang mengungkapkan ragam budaya melalui penampilan, mahasiswa dari fakultas seni yang menggunakan pakaian unik, tetapi indah tanpa memedulikan merek ataupun bahan yang digunakan.

Ilustrasi ragam gaya berpakaian mahasiswa masa kini (Foto : Penn State)

Tidak kalah dengan gaya berpenampilan mahasiswa dari fakultas lainnya, mahasiswa teknik juga memiliki ciri khas tersendiri. Cenderung cuek dengan gaya mereka berpakaian. Untuk-anak teknik, gaya tidaklah penting. Yang lebih penting adalah deadline dan tugas yang menumpuk.

Itulah beragam gaya berpakaian khas mahasiswa di setiap fakultas. Walaupun sebenarnya, gaya di atas tidak mutlak menjadi gaya andalan setiap mahasiswa dari fakultasnya masing-masing, tetapi yang jelas, apapun gayanya, yang terpenting adalah nyaman dipakai dan meningkatkan kepercayaan diri.

 

Penulis : Ichsan Perkasa



Kereta Bergerak Maju

Tidak hanya kereta yang mampu bergerak maju, kini industri kereta di Indonesia juga bergerak maju dengan kemampuan untuk memproduksi sekitar 70 persen dari total kebutuhan komponen kereta api nasional, PT Industri Kereta Api (persero) juga dikabarkan mulai membangun pabrik kereta api di Banyuwangi yang menurut Direktur Utama PT Industri Kereta Api, Budi Noviantoro mampu mengurangi biaya ekspor “Nanti ke depannya harus di sana. Karena di sana ada fasilitas pelabuhannya, dekat pelabuhan,  kalau  di  sini  (Madiun)  mahal.  Kirim  ke  Bangladesh  harus  pakai trailer, itu mahal,”.

Pada tahun 2018 direncanakan sebanyak 13 proyek kereta api di Indonesia akan mulai beroprasi, salah satu yang paling terkenal adalah banyaknya rencana pembangunan LRT (Light Rail Transit). Pembangunan LRT di Jakarta dan beberapa kota lain akan menjadi suatu titik loncatan untuk perekonomian Indonesia kedepannya, sarana LRT mampu mempermudah transportasi masing-masing individu yang bekerja, dengan kemampuan mandiri untuk menyediakan kereta, maka akan terjadi keuntungan yang seharusnya sangat banyak, paling tidak terjadi kesejahteraan yang lebih tinggi. Pembangunan LRT Jabodebek merupakan salah satu proyek strategis pemerintah dalam rangka untuk memberikan kemudahan dan kecepatan transportasi kepada masyarakat. Untuk pengerjaan LRT yang menghubungan Jakarta – Bogor – Depok – Bekasi ini, PT INKA (Persero) sudah mendapat dukungan keuangan sebesar Rp 4,050 Triliun dari 3 sindikasi perbankan yakni dari PT BNI (Persero) Tbk, PT SMI (Persero) dan PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia. PT INKA juga menangani proyek LRT di Sumatra untuk menunjang fasilitas Asian Games 2018.

Interior kereta LRT Palembang produksi PT. INKA Madiun (Sumber : CNBC Indonesia)

Terdapat agenda yang dilakukan PT INKA diantaranya adalah penandatanganan kerja sama Konsultasi dan Riset bersama antara PT INKA (Persero) dengan Kemenristekdikti, BPPT dan Perguruan tinggi negeri (ITB, ITS, UNS dan UGM). Pada kontrak kerjasama ini tidak nampak nama Universitas Indonesia kita yang tercinta. UI sepertinya mampu untuk menyumbang kontribusi dalam mengembangkan industri kereta api di Indonesia, dan memang sudah semestinya fakultas teknik UI mampu untuk membantu dalam pengembangan industri kereta api Indonesia.

Hal yang sedang terjadi pada perindustrian kereta api di Indonesia saat ini merupakan hal baik yang semoga kedepannya dengan dukungan masyarakat terutama kalangan mahasiswa mampu untuk memajukan perindustrian dan teknologi kereta api ke  tingkat yang lebih tinggi dan mampu menguasai pasar dunia.

Penulis : Abdul Aziz – Kontributor Teknika FTUI 2018



Lebih dari Teman

Jenuh.

Lelah.

Pusing.

Kapan kepengurusan ini selesai?

 

Bisa jadi, hal-hal itu pernah berkelebat di benak kita. Semangat yang dulu menggebu di awal tahun karena kita akhirnya bisa memilih fokus di satu (atau lebih) ranah serta bisa bertemu lingkaran pertemanan yang baru, kini mulai surut dan digantikan oleh kehampaan yang tersembunyi di balik senyum basa-basi. Segala program kerja yang dulu dicanangkan dengan parameter ambisius kini terasa sebagai beban dan formalitas belaka. Perjumpaan antar sesama pengurus pun seolah angin lalu di mana badan hadir dan mengetik notulensi namun entah jiwa sedang melayang ke mana.

Menghabiskan malam dari satu rapat ke rapat lainnya.

Menghabiskan pagi dengan mengerjakan tugas yang tertunda.

Menghabiskan akhir pekan dengan pamit pada keluarga karena harus pergi memenuhi agenda.

 

Jujur, saya pun merasakan semuanya. Namun pada suatu hari saya ditakdirkan untuk hadir di pelatihan pengurus TIS 2017 sebagai moderator, mendampingi kedua pembicara bernama Davigara Dwika dan Muhammad Akbar yang benar-benar keren dalam menyampaikan materi terkait interaksi dan kepemimpinan. Atas takdir Allah pula, keresahan saya terjawab oleh materi dari kedua orang tersebut.

Berada dalam organisasi memang membuat orang-orang di dalamnya memiliki hubungan layaknya rekan kerja. Atasan, bawahan, anggota bidang; secara tak sadar itulah gelar yang kita sematkan satu sama lain ketika saling berinteraksi. Tanpa kita sadari, jabatan tersebut membangun sekat tak terlihat di antara pengurus organisasi. Saling suruh tanpa melihat bahwa teman kita baru menyeka peluh. Saling mencari tanpa tahu kabar mereka sehari-hari. Saling hilang seolah sudah tak punya tempat berpulang.

Mungkin kita perlu mengingat bahwa profesionalitas bisa berjalan seiring kebersamaan. Kebermanfaatan yang luas memang bisa didapatkan dengan menyatukan kinerja antar pengurus, tetapi sebuah organisasi bukanlah pabrik yang sekedar memanfaatkan pengurusnya seperti robot. Terlalu sering bertemu dalam lingkup profesional membuat kita saling lupa bahwa kita pun perlu saling bertemu sebagai teman. Terlalu sering melihat program kerja dipenuhi sebagai kewajiban membuat kita lupa bahwa ada rangkaian proses yang perlu diapresiasi dengan tulus.

Mari kita mulai dari awal lagi.

Membuka kata sapa agar kita kembali seperti sedia kala, mengucap terima kasih dengan apresiasi sebesar-besarnya, menerima kekurangan teman yang mengganjal kelapangan dada, serta menjalin tali silaturrahim dengan memenuhi hak antar sesama.

Karena kita lebih dari teman.

Kita adalah individu yang pernah mengikat janji untuk berlelah bersama dalam kebaikan. Kita adalah individu yang terbentur konflik demi membentuk pribadi yang lebih baik. Kita adalah orang-orang hebat yang bersedia mengambil peran lebih dan bergabung menjadi sebuah tim hebat dengan rencana yang menanti untuk diselesaikan.

Jangan berhenti.

Bersama-sama kita akan menyelesaikan semua ini.

 

Penulis: Kanya Citta Hani Alifia – Kontributor Teknika FTUI 2018

Teknologi Bioproses / 2015



Untuk Apa Semua Teknologi Ini?

Sebuah pabrik bekas (Sumber: rumahdijual.com)

Teknologi dipelajari di mana-mana, di semua sekolah dan kampus, apalagi di jurusan-jurusan teknik. Term teknologi tentunya tidak terbatas pada teknologi informasi komunikasi (TIK) atau hal-hal yang “canggih”, karena hal sesederhana gerobak pedagang pun merupakan sebuah teknologi. Hal yang membedakan hanyalah umur, disiplin ilmu yang mempelajari, dan kegunaan teknologi itu.

Kebetulan mahasiswa teknik, termasuk FTUI, diarahkan untuk mengembangkan teknologi sederhana tersebut menjadi lebih rumit dan aplikatif. Di dalam kelas, kita mempelajari teknologi yang sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing. Dalam skripsi, tugas akhir, bahkan kadang-kadang di ujian, kita belajar mengembangkan teknologi tersebut supaya semakin aplikatif ke masyarakat atau minimal dapat menjelaskan persoalan yang terjadi dalam penerapannya. Kalau belajar dengan benar di kelas pasti dapat mengerti hal-hal ini.

Kita sudah belajar dengan baik dan benar tentang teknologi sesuai bidang departemen, contoh-contoh yang mewakili adalah analisis tanah, aliran udara ketika sebuah mobil melaju, penyaluran tenaga listrik ke rumah-rumah, ketahanan sebuah material pada perlakuan tertentu, desain bangunan yang mempertimbangkan perilaku penghuni rumah, pengaturan reaksi kimia, hingga bagaimana menjelaskan distribusi suatu produk secara ilmiah. Tentu belum semua pelajaran departemen terwakili di sini hahaha.

Sekarang, untuk apa semua teknologi itu? Disimpan sendiri? Dibuang begitu saja?

Pilihan paling bijak adalah menerapkannya ke masyarakat luas. Bolehlah ikut PKM yang tujuan akhirnya adalah aplikasi teknologi ke masyarakat luas. Boleh juga dengan melamar di pekerjaan yang berhubungan dengan hajat hidup orang banyak, contohnya di pabrik – namun yang berbeda adalah mindset dalam bekerja. Kalau orang lain bekerja ya hanya untuk mendapatkan uang, kamu bisa menambah mindset menjadi bekerja untuk kepentingan umum, contohnya “kalau tidak bekerja dengan benar warga kampung sekitar sini bisa meninggal karena kecelakaan kerja.” Hal seperti itu sudah termasuk penerapan “teknologi kerakyatan” dan “teknologi yang merakyat”.

Pertanyaannya, sudahkah kamu berpikir bagaimana caranya menggunakan ilmu teknik yang dipelajari untuk kepentingan umum? Kalau Teknika jelas sudah dengan berita-berita keteknikan yang kadang-kadang bisa menyerempet topik bahasan mata kuliah salah satu departemen.

Oh iya, jangan heran kalau Teknika membahas hal-hal yang sangat dekat dengan yang dipelajari di kelas. Teknika memang menganggap pelajaran di kelas sebagai sebuah pengetahuan yang harus diketahui orang banyak….

 

Penulis: Misael Satrio

Editor: Septiana Pratama Nugraheni dan Himawan Nurcahyanto



Review Game : Rules of Survival

Gambar 1 Tampilan depan dari Rules of Survival (Sumber: Dokumentasi Teknika

Rules of Survival (RoS) merupakan salah satu game pada platform Android dan iOS yang sangat digandrungi oleh gamers pada kedua platform tersebut saat ini. Game yang mengadaptasi genre bertema “Battle Royale” tersebut mulai menggeser popularitas mobile games lainnya seperti Mobile Legend dikarenakan game ini membutuhkan komunikasi tim yang kompak. Game yang dapat dimainkan hingga 300 orang dalam satu match ini dibuat oleh game developer bernama Netease Games yang berbasis di Hong Kong.  Sejak dirilis pada 15 November 2017, hingga saat ini sudah lebih dari 900 juta user Android dan iOS yang telah mengunduh dan memainkan game ini. Game ini juga tersedia dalam platform PC, sehingga kalian bisa menyarankan teman kalian yang mempunyai handphone kentang untuk mencobanya pada laptop mereka. Untuk memainkan versi PC, kalian dapat mendownload langsung pada www.rulesofsurvivalgame.com dan kalian harus login menggunakan RoS versi mobile kalian.

 

Tampilan lobby pada Rules of Survival (Sumber: gamegeek.gg)

Sebetulnya, game dengan genre Battle Royale terlebih dahulu dipopulerkan oleh PlayerUnknown’s Battleground atau lebih dikenal sebagai PUBG. Namun, walaupun PUBG sangat populer, game tersebut saat dirilis masih belum stabil dan terlebih lagi untuk memainkannya kita harus merogoh kocek sebesar Rp 250.000, belum untuk biaya mengupgrade PC dimana PUBG ini adalah game yang sangat berat. RoS melakukan langkah yang sangat lihai dalam menarik pemain mereka. Mereka melihat bahwa game mobile sangat digandrungi saat ini dikarenakan game ini dapat dimainkan kapan saja dan dimana saja. Terlebih lagi, game ini juga gratis. Tidak heran kalau game ini sudah diunduh oleh lebih dari 900 juta pemain setelah 5 bulan dari tanggal rilisnya. Microtransaction pada RoS sendiri hanya untuk barang kosmetik semata. Jadi, barang yang kalian punya tidak memengaruhi karakter kalian sehingga game ini bukanlah game pay-to-win.

Diadaptasi dari pesaing platform PC. Game ini berlatar belakang pada suatu pulau dimana 100 hingga 300 orang akan bersaing untuk menjadi yang nomor satu. Bisa dikatakan mirip Hunger Game. Namun, kalian akan dibekali dengan senjata militer hingga peralatan dan kendaraannya. Sebut saja AK-47 atau M4A1, senjata yang sangat populer pada game genre shooting. Yang menarik lagi, senjata yang tersedia pada RoS dapat ditingkatkan langsung dengan menambah beberapa attachment. Tidak, kalian tidak perlu mengeluarkan uang untuk meningkatkan senjata kalian. Cukup mencari part untuk senjata kalian pada peta sebesar 8 x 8 km. Attachment pada senjata kalian bisa dimulai dari red dot sight scope hingga scope dengan perbesaran hingga 8x, extensive magazine, atau grip sehingga recoil senjata kalian dapat dikurangi. Untuk perbekalan bertahan, kalian dibekali dengan armor mulai dari rompi polisi hingga military vest dan untuk helm kalian bisa melindungi kepala kalian cukup dengan helm sepeda motor (yang pasti sudah SNI) hingga helm full-face. Beberapa senjata dan peralatan ada yang dapat dicari langsung pada map tersebut dan juga ada yang hanya dapat ditemukan pada jangka waktu tertentu dimana suatu pesawat akan mengirimkan supply box pada area yang tidak tentu.

Third person shooter view dari Rules of Survival (Sumber: gamingcypher.com)

Walaupun peta yang dimainkan sangat luas, itu bukanlah halangan untuk game dengan genre Battle Royale. Setiap dua menit sekali, akan ditentukan suatu area yang berbentuk lingkaran. Semua pemain harus masuk ke dalam area lingkaran ini sehingga semua pemain yang tersebar di pulau akan bertemu dan membunuh satu sama lain. Bagi pemain yang berada pada di luar lingkaran, health bar mereka akan berkurang sehingga mengurangi risiko suatu pemain menjadi camper atau bagi orang Indonesia dikenal sebagai ngendok. Saat-saat krusial biasanya akan dirasakan apabila area lingkaran tersebut sudah sangat kecil sehingga para pemain akan kebingungan atau berada di keadaan yang sangat panik dikarenakan mereka harus dapat menyembunyikan badan mereka sembari melihat pergerakan musuh. Apabila seorang pemain menjadi pemenang diantara 100 hingga 300 orang yang bermain, mereka akan makan malam dengan ayam. Iya, chicken dinner. Kalimat ini kerap digunakan untuk mereka yang menjadi nomor satu pada suatu match di game ini.

Sayangnya, bak raja yang menginginkan tahtanya kembali, Bluehole selaku developer game PUBG menjual aset game ini kepada Tencent, raksasa internet dari Tiongkok. Setelah mengetahui bahwa ketenaran genre Battle Royale diakuisisi oleh RoS, Tencent lalu mengeluarkan versi mobile dari PUBG yang jauh lebih baik dengan mengadaptasi fitur yang telah dikenalkan oleh RoS sebelumnya. Tidak kurang-kurang, PUBG lalu menyeret RoS ke meja hijau dikarenakan RoS mencuri properti intelektualitas PUBG dalam menciptakan game dengan genre Battle Royale. Diduga RoS akan mendapatkan hukuman denda sebesar $150.000 atau setara dengan 2 miliar rupiah per copyright infringement. Apakah ini menjadi akhir dari Rules of Survival? Well, tidak ada yang tahu. Setidaknya sampai sekarang kalian sudah pernah chicken dinner pada genre battle royale, kan?

 

Penulis : Mohamad Farhan

Editor : Ali Hamdani dan Abiyyah



AADTC? – Ada Apa Dengan Teknik Cup?

Siapa sih yang belum pernah tahu acara besar satu ini? TC, Teknik Cup, salah satu acara tahunan di Fakultas Teknik yang paling fenomenal banget. Sebuah acara kompetisi se-Teknik bidang Olahraga dan Seni yang diikuti oleh 7 departemen dan 1 program internasional. Bahkan hampir sebagian besar mahasiswa udah gak sabar banget menanti acara TC. Dan di sinilah sebagian mahasiswa Fakultas Teknik akan berlomba-lomba menyalurkan bakat-bakat baik di olahraga maupun seni. Sayang sekali kan kalau punya potensi tapi gak disalurkan apalagi kompetisi?

Biasanya TC ini berlangsung kurang lebih 3-4 minggu, dimulai sekitar Maret/April dan berakhir kira-kira sebelum bertemu ujian. Cabang yang dilombakan di TC ada dua, yaitu, olimpiade olahraga dan seni. Olimpiade olahraga ini dibagi dua, Mayor dan Minor. Bedanya? Lomba mayor ini meliputi olahraga atau yang melibatkan fisik seperti futsal, basket, voli, bulu tangkis, tenis, dll. Sedangkan minor biasanya lebih gak bersifat fisik seperti bridge, panco, gaple, dota (hebat yekan ada dota!) dll. Lalu juga lomba seni terbagi atas vocal group, solo vocal, melukis, dance, kaligrafi, baca puisi, stand up comedy, dll. Nah, kira-kira, apa ada apa sih dengan TC sampai seru banget?

Nah ini salah satu kerennya TC, ada supporteran layaknya kalian nonton pertandingan sepak bola persjia/persib di Gelora Bung Karno. Udah gitu, setiap departemen punya ciri-ciri khas supporter masing-masing misalnya dari atribut (+maskot) dan lagu-lagunya yang gak kalah seru. Belum lagi, supporteran pada heboh-heboh supaya suasana tambah asyik. Ini, lumayan kan buat kalian yang pada stress kuliah terus butuh teriak-teriak? Supporteran oke banget apalagi buat teriakin “AYO AYO!!”. Apalagi nih, kalau udah semakin ke final, supporterannya makin panas euy! Tambah semangat, yegak?

Lalu, biasanya setiap departemen berlomba-lomba banget (ya level ambisnya lebih dari belajar deh hahaha) merebut medali emas baik di olahraga (mayor-minor) maupun seni. Siapa yang gak mau sih bangga-bangga banyak koleksi medali emas, dan jadi juara umum? Bahkan ada satu orang bisa ikut banyak cabang lomba loh, keren kan? Nah jadi tunggu apalagi? Daftarkan diri menjadi kotingen dan lakukan yang terbaik untuk menyabet emas! Nah, kalian akan ikut atau pernah ikut cabang lomba apa? Kalau gue sendiri pernah ikut di TC cabang kaligrafi tapi gak menang hehehe. Jadi, kalau punya bakat gak ikut sih sayang loh. FYI, juara umum tahun lalu (2017) direbut oleh DTS, dan dua tahun lalu (2016) direbut oleh DTM/DTMM (gue lupa ).

Jadi, bagaimana guys? Kembangkan potensimu dan tunjukkan kehebatan seni dan olahragamu di Teknik Cup!! Jangan mau dikalahin sama departemen lain nih. Jadi, siapa yang bakal nyabet piala umum tahun ini? Hehehe, mari kita pantau terus TC ini

Penulis : Sentani Ayu – Kontributor Teknika FTUI 2018



Jakarta dan Palembang Menyambut Asian Games

Indonesia menjadi tuan rumah kompetisi olahraga terbesar di Asia yakni Asian Games untuk kedua kalinya setelah tahun 1962. Tahun 2018 menjadi penyelenggaraan Asian Games untuk ke-17 kalinya setelah 4 tahun yang lalu Asian Games diselenggarakan di Incheon, Korea Selatan. Asian Games ke-18 akan diselenggarakan di dua kota Indonesia yakni Jakarta dan Palembang. Jakarta sendiri sebelumnya sudah sekali menjadi tuan rumah Asian Games di tahun 1962. Sedangkan, Palembang juga pernah menjadi tuan rumah Sea Games ke-26 di tahun 2011 yang lalu.

Persiapan dilakukan sejak jauh-jauh hari. Adapun renovasi besar-besaran telah dilakukan kepada Kompleks Gelora Bung Karno. Stadion Utama Gelora Bung Karno telah rampung direnovasi dan telah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo bersamaan dengan pertandingan persahabatan Indonesia-Islandia pada tanggal 14 Januari 2018. Stadion Utama Gelora Bung Karno sendiri telah direnovasi besar-besaran seperti adanya pemasangan rumput sintetis dengan standar internasional, perubahan kursi penonton menjadi lebih baik, bahkan hingga pemasangan lampu LED berkekuatan 3.500 lux yang diklaim menjadi pencahayaan stadion terbaik di dunia sebelum dikalahkan oleh Tokyo pada tahun 2020 nanti. Selain Stadion Utama, bagian-bagian lain Kompleks GBK seperti Istora dan beberpa venue cabang lomba juga sudah direnovasi dan diperbaiki. Adapun renovasi Stadion Utama Gelora Bung Karno sendiri dilakukan oleh gabungan beberapa kontraktor, sedangkan ada beberapa pekerjaan pula yang dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat di Kompleks GBK seperti perbaikan beberapa venue dan penataan kawasan GBK.

Penuansaan untuk Asian Games juga sudah dilakukan agar seluruh masyarakat merasakan euforia Asian Games. Selain melalui media konvensional maupun online, promosi Asian Games juga sudah dapat dilihat di sebagian bus Transjakarta yang menghias 150 bus dengan tampilan yang bertemakan Asian Games. Selain armadanya, ternyata penuansaan Asian Games juga terlihat di beberapa halte Transjakarta seperti Halte Tendean dan Istiqlal. Selain dua halte tersebut, ada sekitar 50 halte yang akan dihias dengan ornamen terkait Asian Games.

Sementara, persiapan yang ada di Palembang tidak kalah gencar dilakukan. Contohnya adalah pembangunan Jembatan Musi VI yang terus dikebut menjelang Asian Games. Selain Jembatan Musi, juga ada Jakabaring Sport City yang akan dilengkapi dengan mobil dengan bahan bakar listrik dan hidrogen khusus untuk mobilisasi para atlet menuju venue pertandingan. Nantinya, hanya kendaraan itu saja yang dapat diperbolehkan untuk transportasi panitia dan atlet Asian Games selama ada di Kompleks Jakabaring Sport City. Kawasan Jakabaring Sport City akan terhubung langsung dengan Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II melalui LRT (Light Rapid Transit) yang juga tengah dibangun.

http://www.tribunnews.com/sport/2017/11/22/jsc-dan-lrt-dua-ikonik-sukses-asian-games-2018-di-palembang?page=3

https://www.antaranews.com/berita/680714/jembatan-musi-vi-diminta-rampung-sebelum-asian-games-2018

http://megapolitan.kompas.com/read/2018/01/10/19412001/warna-warni-halte-transjakarta-jelang-asian-games

https://asiangames2018.id/about

http://www.tribunnews.com/superskor/2018/01/10/dalam-hal-ini-stadion-utama-gelora-bung-karno-sugbk-jadi-stadion-terbaik-di-dunia?page=2

https://www.antaranews.com/berita/677347/renovasi-gelora-bung-karno-selesai-100-persen



Memaknai Wadah Perjuangan si Makara Biru

Kurang lebih 47 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 15 September tahun 1971, berdiri suatu wadah kemahasiswaan Fakultas Teknik Universitas Indonesia di Tugu, Puncak, Jawa Barat. Ikatan Keluarga Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia atau yang biasa disebut IKM FTUI, adalah nama yang lahir pada saat itu. Generasi ke generasi telah tumbuh dari Fakultas bermakara biru. Membentuk mahasiswa yang berguna bagi Agama, Bangsa, dan Negara adalah tujuan mulianya. “Bahwa sesungguhnya Mahasiswa adalah manusia terdidik penerus bangsa yang didasari oleh semangat perjuangan bersama, cita-cita luhur para pendahulu, dan Tri Dharma Perguruan Tinggi…”. Kalimat yang singkat namun penuh makna tersebut mengawali Pembukaan IKM FTUI di alinea pertamanya. Lalu pertanyaan yang muncul adalah, apakah sampai saat ini mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia sudah menjadi mahasiswa yang sesungguhnya?

Bak miniatur Indonesia, IKM FTUI memiliki berbagai aspek seperti pemerintahan Indonesia.  Terdapat tujuan, dasar (kode etik), sampai identitas pun dimiliki oleh FTUI. Aspek-aspek tersebut dibungkus secara apik dan diturunkan dengan dibentuknya berbagai kelembagaan yang menarik. Serangkaian pembinaan pun dilaksanakan semata-mata untuk melahirkan sejatinya Mahasiswa Teknik.

Satu hal yang harus disadari adalah IKM FTUI memiliki berbagai organisasi ataupun badan yang mencakup semua bidang. Hal tersebut cukup menjadi wadah mahasiswa teknik untuk berkontribusi dan berprestasi. Namun sangat disayangkan ketika terdapat mahasiswa FT UI yang menutup mata akan kehadiran IKM FTUI dan tidak memanfaatkan status ke IKM-annya dengan baik, serta  terdapat pula mahasiswa yang moralnya tidak merepresentasikan kemahasiswaan FTUI.

Tak perlu menunggu lama, IKM FTUI akan genap 50 tahun berada. Instropeksi serta evaluasi haruslah dihadirkan dalam setiap insan yang peduli terhadap kemahasiswaan di Fakultas Teknik. Maka dari itu, memanfaatkan dan mengoptimalkan IKM FTUI adalah cara dan solusi terbaik untuk menjadi mahasiswa yang sesungguhnya sebagaimana disebutkan dalam pembukaan IKM FTUI. Karena dampak dari pemanfaatan tersebut bisa membuahkan hasil yang nantinya menjadi hadiah terindah untuk 50 tahun IKM FTUI.

Membangun IKM FTUI , berarti membangun Universitas Indonesia. Dan seperti yang dikatakan oleh Usman Chatib Warsa, salah satu tokoh Inspirasional UI, bahwa membangun Universitas Indonesia adalah membangun masa depan Bangsa. Tentunya menjadi hal yang hebat jika kita berhasil merealisasikan perkataan yang sampai saat ini perkataan tersebut tertulis di dinding lantai 1 Gedung Rektorat UI. Yakinlah, bahwa menjadi mahasiswa yang sesungguhnya adalah mahasiswa yang dapat memaknai wadah perjuangan IKM FTUI.

Oleh Fauzan Marwan (Elektro 2017)



Menjaga Kerukunan

Ilustrasi kerukunan umat beragama (Foto : Tempo)

Sebagai kampus yang dekat dengan Ibukota – bahkan memiliki bagian yang berkontribusi besar terhadap besaran ruang hijau Ibukota, Universitas Indonesia sangat terpengaruh kondisi yang ada di Ibukota dan tentunya Indonesia. Beberapa kali terdengar celetukan “UI itu menggambarkan kondisi Indonesia sesuai namanya.” Hal seperti ini tidak mengherankan karena UI terdiri dari berbagai macam orang – hal yang sama mungkin hanya range umurnya yang sudah dikatakan dewasa.

Di UI – tentu termasuk FTUI – terdapat berbagai jenis manusia, mulai dari yang suka makan di warkop sampai makan dibawakan orang tua, tim pulang malam versus tim pulang sore, dan tentunya tim pacaran dari SMA sampai hanya bisa berkhayal pacaran dengan Isyana. Ada yang “anak gaul Jakarta banget”, namun ada yang baru beradaptasi dengan kehidupan sekitar kampus UI saja sudah susah. Perbedaan pendapat di luar hal yang dituliskan tadi tidak usah dibahas tentunya karena sensitif.

Dengan berbagai perbedaan yang terdapat di kampus ini, tentu ada potensi perselisihan akibat perbedaan pendapat bahkan perbedaan hal yang substansial seperti asuhan orang tua sampai urusan SARA. Tidak jarang bisa sampai ribut terbuka di media sosial atau bahkan di dunia nyata, padahal sesama anak UI. Pastinya akan keluar celetukan “katanya anak UI pintar” ketika perselisihan semakin meruncing.

Kita sering diingatkan untuk menjaga kerukunan, namun mengapa konflik bahkan perang selalu terjadi dalam sejarah manusia – artinya kerukunan tersebut hilang? Mengapa pula intoleransi sering terjadi, sebenarnya di sepanjang sejarah? Sejujurnya, manusia secara normal meskipun punya tendensi untuk berdamai, namun juga punya tendensi untuk ribut dan berselisih dengan berbagai alasan. Hal ini menyebabkan permusuhan selalu ada di setiap sejarah manusia. Sudah rukun, namun ada yang mencoba bikin keributan, akhirnya kacau lagi.

Ilustrasi toleransi yang telah dipupuk sejak dini (Foto : google.com)

Meskipun kita sebagai manusia cenderung punya keinginan merusak kerukunan dan perdamaian, namun kita tidak boleh menyerah kepada keadaan. Jangan karena kita manusia, namun kita terus ingin tenggelam dalam dosa. Jangan karena sulit untuk menjaga perdamaian, akhirnya kita cari gampang dan malah bikin permusuhan. Malah kita harus berjuang mempertahankan kedamaian tersebut.

Paling mudah dari menjaga kerukunan: sudahkah kamu tidak meributkan hal yang tidak penting hari ini?



Pentingnya Verifikasi Isu

Isu tidak terverifikasi beredar di sekitar kita. Rupa-rupa isunya. Mulai dari isu akademis seperti kuis, isu kenegaraan yang kerap dikaji lembaga kemahasiswaan IKM FTUI, sampai isu pribadi (tidak akan disebutkan di sini jelas). Apa itu isu tidak terverifikasi?

Dalam klasifikasi berita, tidak ada yang namanya berita hoax. Hoax bukanlah suatu berita karena dalam pembuatannya saja tidak mengindahkan kaidah pencarian berita. Hanya terdapat dua kategori, berita terkonfirmasi dan berita tidak terkonfirmasi. Berita terkonfirmasi didapatkan dari pengecekan ulang ke narasumber terkait kebenaran dan maksud berita yang dibuat. Sementara itu, berita tidak terkonfirmasi  baru sebatas kabar yang sudah didapatkan dengan metode ilmiah jurnalistik (wawancara ke sumber, dsb), namun belum didapatkan informasi lengkap sehingga kabar tersebut belum jelas kebenarannya.

Ilustrasi verifikasi isu (Foto : Zippserv.com)

Dewan Pers sendiri mengatakan berita boleh terbit tanpa konfirmasi terlebih dahulu, pada saat berita tersebut menyangkut kepentingan publik yang mendesak dan urgen (seperti kejahatan dan bencana alam), sumber kredibel, ada upaya media mengonfirmasi berita, dan ada kejujuran dari media untuk mengatakan berita tersebut tidak lengkap. Hal itu disampaikan Agus Sudibyo pada Kompas.com pada 27 Juni 2012.

Berita tidak terkonfirmasi umumnya tidak lengkap atau terdapat informasi yang belum dilakukan cross check ke pihak terkait. Contoh pada kasus kecelakaan kerja di sebuah pabrik, hanya didapatkan kabar 2 orang tewas dari satu sumber, sementara dari saksi mata yang lain menyebutkan bahwa sudah 4 orang yang tewas. Namun, media tersebut menuliskan 2 orang tewas, sehingga menimbulkan tanggapan negatif dari keluarga korban tewas. Berita tidak lengkap juga bisa dikatakan belum atau tidak terkonfirmasi, contohnya berita penjambretan yang terjadi di jalan raya tanpa menuliskan nama pelaku dan kronologi lengkap, mungkin disebabkan pelaku sudah lari saat wartawan meliput.

Berita tidak terkonfirmasi memiliki kemungkinan salah yang lebih tinggi daripada berita yang sudah dikonfirmasi oleh narasumber atau bukti fisik. Dalam banyak kasus, berita tidak terkonfirmasi kerap disamakan dengan hoax lho.

Berita-berita seperti itu bisa menyebabkan berbagai tanggapan negatif, bahkan dapat menyebabkan kemarahan publik apabila terkait dengan isu sensitif. Selain itu, kepercayaan pada suatu media akan menurun jika menurunkan berita yang salah gara-gara berita tidak terkonfirmasi ini. Apalagi kalau sudah ada keberpihakan secara politik dalam media tersebut.

Mulai sekarang, biasakan kritis dalam membaca berita. Pastikan bahwa berita yang kamu baca sudah baik dan benar secara cara penyampaian, tidak menggiring opini, dan pastinya kebenaran dan kelengkapan berita yang kamu baca. Untuk pembaca Koran Biru  yang akan terjun ke dunia jurnalistik, pastikan kamu sudah mengonfirmasi kebenaran informasi tersebut kepada narasumber supaya tidak menimbulkan salah paham.

 

Misael S. – Pemimpin Redaksi Teknika FTUI 2018

 

SUMBER

https://nasional.kompas.com/read/2012/06/27/23041075/Empat.Syarat.Berita.Boleh.Terbit.Sebelum.Konfirmasi



Asian Games: Antara Baliho Cantik dan Pagar Seng

Indahnya Gelora Bung Karno yang sudah rampung direnovasi (Foto : Akun Facebook Presiden Joko Widodo)

Sinar matahari keluar malu-malu. Awan-awan khas awal tahun melingkupi langit Jakarta pada bulan Januari ini. Saat ini saya sedang duduk memojok di sebuah bus Transjakarta jurusan Ragunan-Monas dan hendak menuju Museum Nasional untuk mempersiapkan sebuah pameran di sana.

Sekitar lima menit sebelumnya, saya tengah menanti bus di sebuah halte pada kawasan Jati Padang, Jakarta Selatan. Saya menaiki bus jurusan Ragunan-Monas via Kuningan. Sepanjang awal perjalanan, melalui Buncit, Mampang, menjelang Kuningan, tak ada yang berbeda. Suasana masih sama, dengan macet parah di kawasan Mampang-Kuningan Timur akibat pembangunan sesuatu yang tak saya mengerti dan berbagai rutinitas lain.

Memasuki kawasan Kuningan, rute yang pernah menjadi sahabat lama saya selama sekolah menengah pertama. Bila dibandingkan dengan tahun 2010-2011 tentu saja lokasi ini sudah sangat berubah. Banyak gedung baru bermunculan, jalan layang baru, dan sesuatu menarik perhatian saya.

Setelah melalui berbagai pemandangan pagar seng yang membuat silau mata, tiba-tiba ada baliho besar di samping halte Patra Kuningan. Terdapat banyak model olahraga di baliho tersebut. Oh, Asian Games 2018?

Saat itu saya baru menyadari kalau di kaca bus yang saya tumpangi berhias banyak stiker mengenai Asian Games 2018. Di kanan-kiri jalan, di berbagai gedung kementerian, gedung BUMN, di tiang-tiang pancang bekas pembangunan monorel bertahun silam, banyak sekali baliho sejenis.

Berdasarkan informasi yang saya dapatkan, Indonesia mendapat kehormatan untuk menjadi tuan rumah Asian Games 2018. Lokasinya bertempat di dua kota, Jakarta dan Palembang. Pemerintah sudah banyak melakukan persiapan, di antaranya yang di Jakarta ialah pemberesan Gelora Bung Karno, Padepokan Pencak Silat, dan TMII. Sepertinya di kawasan yang saya lewati merupakan bagian dari usaha publikasi karena banyak sekali gedung kedutaan dan kantor penting lain di jalur ini.

Memasuki kawasan Sudirman, dan tak lama kemudian Sarinah dan Bundaran HI. Aroma Asian Games makin terasa. Di antara pagar seng proyek MRT yang melingkupi kawasan sekitar Bundaran HI, terpampang banyak baliho dan stiker cantik mengenai perhelatan tersebut. Di Bundaran HI ada sebuah hitung mundur menuju saat pembukaan Asian Games 2018, masih 200 hari lagi.

Bus Transjakarta yang saya tumpangi melaju. Meninggalkan kawasan sibuk Tosari menuju daerah yang lebih hijau di sekitar Monas. Sebentar lagi saya turun. Banyak bus tingkat lewat, dengan stiker pemain anggar terpasang.

Publikasi Asian Games begitu luas, begitu besar. Namun, apakah perhelatan itu akan menutupi pagar-pagar seng nan menyilaukan di kawasan berkelas Jakarta, atau pagar seng yang bising itu akan menghalangi perhelatan olahraga akbar tersebut?

Ilustrasi pagar seng yang digunakan untuk menutupi proyek (Foto : merdeka.com)

Warda Lutfiah Roihana

Sumber informasi: website resmi Asian Games 2018



Indonesia Kekurangan Engineer?

Ilustrasi (usm.edu – University of Southern Mississippi)

Lantai 2 adalah pengantar dari Pimpinan Redaksi Teknika FTUI dalam setiap edisi Koran Biru.

Indonesia memiliki fakultas teknik, baik PTN maupun swasta. Di sekitar Ibukota saja, terdapat kampus teknik PTN seperti Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI), Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), FT Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Indonesia juga memiliki institut teknologi seperti yang ada di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), belakangan ketambahan Institut Teknologi Sumatera (Itera) di Lampung. Namun, kampus teknik yang cukup banyak tersebut hanya menyumbang 42 ribu sarjana teknik setiap tahunnya, berdasarkan data di Marketeers.co.id tahun 2016, sementara data di Kompas.com pada 2011 menyebutkan 37 ribu orang. Sementara itu, lulusan ketujuh departemen di FTUI diprediksi mencapai 1140 hingga 1200 orang per tahun.

Kebutuhan akan sarjana teknik akan naik tajam di masa depan. Menurut data dari Kompas.com, diperkirakan kebutuhan engineer mencapai 90500 orang.

Lulusan dari ketujuh departemen di FTUI diharapkan untuk mempraktikkan ilmu yang didapat di kelas, tentu saja sebagai engineer atau pekerja profesional. Tidak hanya jumlah insinyur yang diharapkan bertambah dari FTUI, namun peningkatan kualitas insinyur di dunia kerja juga diperlukan. Dibutuhkan integrasi antara bidang akademik dan nonakademik untuk mencapai hal tersebut.

Teknika FTUI hadir sebagai salah satu jembatan langsung antara dunia akademik dan nonakademik. Teknika memiliki tujuan menghadirkan bacaan populer di bidang teknik (engineering) dengan tidak melupakan sisi santai dan keceriaan dari kehidupan mahasiswa. Teknika juga hadir untuk meningkatkan minat baca mahasiswa FTUI, sehingga ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami. Akan tetapi, konten yang dihadirkan harus berkualitas dan layak untuk menjadi referensi awal mendalami dunia keteknikan.

Selamat membaca Koran Biru dalam format baru, tentu lebih seru dan lebih mencerdaskan!

(Misael S. – TK’15)

Referensi

http://edukasi.kompas.com/read/2015/04/23/11461401/Indonesia.Butuh.Banyak.Sarjana.Teknik.

Mengapa Indonesia Butuh Banyak Insinyur?



QnA: Izin Masuk Kampus UI Nontunai

Ilustrasi kartu prabayar (freepik.com)

Senin 12 Februari 2018, merupakan tanggal dimulainya uji coba Izin Masuk Kampus (IMK) non tunai. Pada umumnya, prosedur pembayaran IMK di Gerbatama Universitas Indonesia hanya menggunakan uang tunai yang dibayarkan langsung kepada petugas yang berada di Gerbatama ataupun jalan didepan Stasiun Universitas Indonesia hingga Patung Makara, tetapi seiring dengan berlakunya sistem pembayaran IMK non tunai, pembayaran dilakukan menggunakan tapcash ataupun menggunakan kartu mahasiswa (KTM). Masa uji coba akan dilakukan dalam beberapa minggu dalam bulan Februari antara lain:

  1. Minggu ke-1 pukul (11:00-15:00)
  2. Minggu ke-2 pukul (09:00-17:00)
  3. Minggu ke-3 pukul (07:00-19:00)

Adapun informasi resmi dari pihak kampus yang telah dicantumkan pada Beranda.ui.ac.id yang dimana situs tersebut dapat diakses setelah melakukan log in pada SSO, namun karena minimnya pemberitahuan atas pencantuman informasi tersebut, pelaksanaan uji coba IMK non tunai dinilai terlalu mendadak.

Ilustrasi pembayaran non-tunai atau cashless payment (Gambar : otipetrosmart.com)

Bagaimana tanggapan pembaca Teknika tentang izin masuk ini? Teknika mengumpulkan pendapat pembaca, terutama mahasiswa FTUI, melalui official account Line kami. Simak selengkapnya.

  • Dennis Bramasta – terus kalo tamu dateng gimana ya?
  • Sulton – Menurut saya, saya cukup mendukung dengan program ini karena fasilitas yang diberikan UI kepada mahasiswanya yaitu tapcash yang tertanam pada KTM bisa dimanfaatkan tidak hanya pada fasilitas commuter ataupun GTO dan fasilitas lainnya. Akan tetapi, alangkah baiknya jika sistem ini malah dapat membuat para pengendara mobil pribadi yang melewati jalan UI bisa berkurang begitu pula pengendara motor. Jika menurut saya dengan sistem ini malah sama saja jumlah volume kendaraan yang lewat jalan UI dan hanya mengubah cara pembayarannya saja, mungkin uang yang digunakan untuk membangun sistem bisa dialihkan kepada hal lain yang lebih berguna.
  • Sentani – Kontra dan Pro sih. Pronya lebih efektif waktunya karena cashless jadi gak buang waktu karena kembalian atau apalagi pake uang gocap 🙁 cuma kontranya kenapa cuma pake tap cash BNI aja sedangkan semuanya gak pake BNI jadi agak susah sih:( dan belum kalau misalnya lagi kendala jaringan. Tapi kalo biar gak ngantri itu oke sih gue setuju aja (sebenarnya gak mobil user hehe)
  • Ayu Novita Pramesti – silakan saja ada kebijakan seperti itu namun tujuannya jelas, pelaksanaannya bertahap ,dan tidak dipaksakan. yang menjadi pertanyaan, mengapa harus sepenuhnya menggunakan tapcash bni?apa karena UI terikat MoU dng BNI?itu juga harus transparan

(Ichsan Prakasa – PI’16)



Bagaimana Mendapatkan Gelar Insinyur?

Ilustrasi (pexels.com)

Tahukah kamu, bahwa gelar Insinyur kini kembali dimunculkan?

Pemerintah mulai menggalakkan lagi gelar insinyur. Hal ini dilakukan sebagai  persiapan guna menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN. Gelar insinyur merupakan gelar profesional, berbeda dengan gelar S.T yang merupakan gelar akademis. Jadi meskipun seseorang telah lulus menempuh pendidikan sarjana di bidang teknik, orang tersebut masih belum dapat disebut sebagai Insinyur.

Sampai tahun 1993, lulusan dari jurusan teknik, pertanian, dan beberapa ilmu terapan dapat langsung mendapatkan gelar Insinyur setelah melalui 160 SKS. Namun kemudian diganti menjadi gelar Sarjana dengan jumlah SKS yang dikurangi menjadi 144.

Kalau dianalogikan, gelar insinyur ini bisa disamakan dengan gelar profesi dokter atau arsitek. Seorang sarjana kedokteran tidak dapat langsung menjadi dokter. Perlu pendidikan tambahan dan beberapa tahapan yang harus dilalui.

Lalu, bagaimana sih cara untuk mendapatkan gelar Insinyur? Menurut UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, UU No. 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi, dan UU No 11 tahun 2014 tentang keinsiyuran, hanya perguruan tinggi yang secara hukum mempunyai hak untuk mengadakan program profesi insinyur dan memberikan gelar insinyur (Ir.). Sedangkan sertifikasi insinyur diberikan oleh asosiasi profesi yaitu Persatuan Insinyur Indonesia (PII).

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyampaikan sambutan dalam pembukaan Rapimnas Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dengan tema “Tantangan Penerapan UU Keinsinyuran” di Ballroom Hotel Royal Kuningan, 11 Oktober 2016 (Foto : Kemenperin.go.id)

Pemerintah RI melalui Direktur Jenderal Kelembagaan Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Pendidikan Tinggi yang merupakan bidang di Kemenristekdikti telah menunjuk  40 perguruan tinggi baik negeri maupun swasta untuk mengadakan Program Profesi Insinyur.

Sampai tahun ini, beberapa Perguruan Tinggi sudah menyatakan kesiapannya untuk membuka pendidikan profesi insinyur ini. Salah satunya adalah ITB.

Program Profesi Insinyur terbagi ke dalam 2 program , yaitu Program Rekognisi Pengalaman Lampau (RPL) dan Program Pendidikan Reguler. Program RPL direncanakan paling cepat akan dibuka pada tahun 2017/2018. Adapun fakultas yang telah siap membuka program ini adalah FTI, FTSL, FTTM, FTMD, SITH,dan STEI. (Ahmad Aufar – E’16)



Mengulik Lebih Dalam tentang Perayaan Valentine

14 Februari adalah tanggal yang khas dengan perayaan valentine. Perayaan valentine yang juga dikenal sebagai hari kasih sayang cukup populer di kalangan masyarakat dan biasanya disimbolkan dengan pemberian bunga, cokelat, atau kartu ucapan.

Asal Mula Perayaan Valentine

Berbeda dengan sebutannya sebagai hari kasih sayang, sejarah valentine diliputi kisah kelam dari pemuka agama di Roma yang bernama St. Valentine. Kaisar Claudius II mempunyai pendapat bahwa pasukan tentara yang dibentuk dari kalangan laki-laki yang belum beristri lebih baik daripada laki-laki yang sudah berkeluarga sehingga ia melarang pernikahan untuk pemuda. Valentine tidak menyetujui larangan tersebut karena dianggap tidak adil. Bentuk ketidaksetujuan ini ia tunjukkan dengan melakukan pernikahan untuk kekasih muda secara rahasia. Ketika tindakan ini dietahui, Caludius menjatuhkan hukuman mati kepada Valentine.

Sementara ada cerita versi lain yang menyebutkan bahwa Valentine mungkin sudah dibunuh ketika membantu orang-orang melarikan diri dari penjara Romawi yang kejam. Valentine yang sedang dipenjara mengirimkan ucapan “valentine” untuk pertama kalinya ketika jatuh cinta kepada seorang gadis muda yang sering mengunjunginya. Menjelang kematiannya, ia menuliskan surat yang bertuliskan “From your valentine” yang hingga kini masih sering digunakan. Walaupun sejarah perayaan valentine cukup suram, namun Valentine digambarkan sebagai tokoh yang heroik dan romantis.

Perayaan Valentine di Berbagai Negara

Pada perayaan valentine, bentuk pengungkapan rasa sayang antar sesama dilakukan dalam berbagai cara yang unik. Dikutip dari tulisan Viator dalam situs huffingtonpost.com, 10 negara ini mempunyai tradisi unik dalam merayakan valentine, yaitu: Denmark, Perancis, Korea Selatan, Wales, China, Inggris, Filipina, Italia, Brazil, dan Afrika Selatan.

Contoh gaekkrebrev yang menjadi tradisi masyarakat Denmark. (sumber gambar: www.femina.dk)

  1. Dalam merayakan valentine, masyarakat Denmark lebih memilih memberikan mawar putih dibandingkan mawar merah. Selain itu ada pula lover’s card, suatu kartu transparan yang berisi gambar si pengirim kartu. Tradisi unik lainnya adalah pemberian gaekkebrev, atau surat candaan, yang berisi syair atau sajak lucu pada kertas yang telah digunting secara unik dan ditandai dengan titik-titik anonim. Jika si wanita dapat menebak pengirimnya dengan benar, ia akan mendapat telur di perayaan Paskah tahun itu.
  2. Tradisi perayaan valentine di Perancis disebut loterie d’amour, atau menggambar untuk cinta, namun tradisi ini sudah dilarang oleh pemerintah.
  3. Korea Selatan. Ada beberapa variasi liburan yang dirayakan di Korea Selatan setiap bulan Februari hingga April untuk merayakan hari kasih sayang. Hari libur yang ditetapkan adalah: hari valentine (14 Februari), white day (14 Maret), dan black day (14 April). Pada hari valentine, hadiah yang biasa diberikan untuk pasangan adalah cokelat, bunga, dan permen. Pada saat white day, hadiah diberikan adalah cokelat, bunga, dan kado lain untuk pasangan. Bagi para lajang, ada hari libur black day yang biasanya dirayakan dengan memakan semangkuk jajangmyeon atau mie pasta kedelai.

    Sendok cinta sebagai hadiah yang diberikan penduduk Wales saat merayakan hari kasih sayang. (sumber gambar: www.lovespoons.co.uk)

  4. Orang-orang wales merayakan hari kasih sayang pada 25 Januari dan hadiah yang biasa diberikan adalah “sendok cinta”. Sendok kayu ini mempunyai pola ukiran yang unik dan masing-masing pola mempunyai makna yang berbeda.
  5. Hari yang setara dengan perayaan valentine di China adalah Qixi atau Festival Malam Ketujuh. Festival ini dilaksanakan pada hari ketujuh bulan lunar ketujuh setiap tahunnya. Wanita muda akan menyajikan melon dan buah lainnya dengan harapan agar diberi suami yang baik, sedangkan bagi yang sudah memiliki pasangan akan berkunjung ke kuil untuk berdoa.
  6. Pada malam valentine di Inggris, para wanita meletakkan lima daun salam di tempat tidur mereka dengan harapan dapat membawa mimpi tentang suami masa depan mereka.
  7. Di Filipina, hari valentine sering kali dijadikan hari untuk menikah secara massal. Para pasangan akan berkumpul di tempat umum untuk menikah atau memperbarui sumpah pernikahan mereka secara massal. Pernikahan massal ini sudah menjadi tren di kalangan masyarakat.

    Baci Perugina yang menjadi hadiah valentine di Italia. (sumber gambar: www.misya.info)

  8. Pada zaman dahulu di Italia, pemuda akan berkumpul di luar kebun dan menikmati puisi dan musik sebelum berjalan-jalan bersama pasangan mereka. Tradisi lainnya adalah gadis-gadis muda akan bangun sebelum fajar untuk menemukan suami masa depan mereka. Mereka percaya bahwa pria pertama yang ditemuinya akan menjadi sosok yang mirip dengan suami mereka kelak. Di Italiah, hadiah valentine yang paling populer adalah Baci Perugina, hazelnut berlapis cokelat yang dibungkus dengan kutipan romantis dalam empat bahasa.
  9. Orang-orang brazil merayakan hari kasih sayang pada 12 Juni setiap tahunnya. Hadiah yang biasa diberikan adalah cokelat, bunga, dan kartu ucapan. Mereka tidak hanya memberikannya untuk pasangan tetapi juga untuk teman dan saudara.
  10. Afrika Selatan. Masyarakat Afrika Selatan merayakan valentine dengan mengadakan festival. Para wanita menuliskan orang yang ia sukai di lengan baju mereka. Dengan cara ini, para laki-laki dapat mengetahui pengagum rahasia mereka.

Ditulis oleh : Septiana Pratama N (Teknik Industri 2015)

Referensi :

http://www.history.com/topics/valentines-day/history-of-valentines-day

https://www.huffingtonpost.com/viator/10-valentines-day-traditi_b_9190888.html

https://www.gifts.com/valentines-day/unique-gifts/nc0yw1



Cerita Unik di Idul Adha 2017

Idul Adha merupakan hajatan besar bagi umat Muslim di dunia. Hari raya ini melambangkan pengorbanan Nabi Ibrahim, di mana anak Nabi Ibrahim yang nyaris dikorbankan digantikan oleh kambing domba dari Allah. Hari raya ini juga menjadi puncak ibadah haji di Mekkah.

Tidak heran, hari raya ini juga sering disebut sebagai Lebaran Haji, Idul Qurban, juga Lebaran Kambing dan Sapi. Di hari Idul Adha, sapi dan kambing kurban dipotong, umumnya di pelataran masjid. Sebelumnya tentu dilakukan sholat Idul Adha terlebih dahulu. Sholat ini seperti sholat Idul Fitri, diselenggarakan pada pagi hari.

Sementara itu, di Mekkah, Idul Adha merupakan puncak dari Ibadah Haji. Pada tanggal 10 Dzulhijjah yang bertepatan dengan Idul Adha, jamaah haji melakukan kegiatan lempar jumrah di Mina. Kegiatan melempar jumrah ini terus berlangsung sampai tanggal 12 Dzulhijjah (3 September 2017).

Idul Adha dari tahun ke tahun identik dengan sejumlah tradisi dan kegiatan keagamaan. Beberapa yang kita sudah tahu adalah mudik, masak sate dari daging kurban, kumpul keluarga, berpuasa sehari sebelum Idul Adha, dan gunungan. Namun, apa saja yang membuat spesial Idul Adha tahun ini?

Jalan Kaki dari Bekasi ke Aceh

Pria bernama Safir bertolak dari Bekasi akhir September 2016 dan saat ini sudah sampai di Aceh. Tujuan beliau adalah merayakan Idul Adha di Sabang, titik nol Indonesia. Targetnya, pada hari raya Idul Adha ini ia sudah sampai di Masjid Baiturrahman, masjid yang terkenal karena tidak tersapu tsunami 2004. (sumber)

Presiden Naik Kereta ke Sukabumi

Presiden Jokowi naik kereta api ke Sukabumi – tentu kereta ini melewati stasiun UI dan Pondok Cina yang masih satu jalur dengan ke Sukabumi. Di dalam kereta tersebut, Presiden Jokowi melakukan rapat. Jokowi adalah presiden yang tidak sering menggunakan kereta api, sehingga momen ini spesial. Sebagai dampak kegiatan spesial ini, terjadi pengetatan pengamanan di Stasiun Gambir.

Jokowi dua kali membatalkan kunjungan kerja dengan kereta api, pertama saat Januari 2016 karena bom di Thamrin, kedua kalinya adalah pembatalan rencana Jokowi naik KRL Commuter Line dari Bogor ke Gambir pada 2 April 2017.(sumber 1) (2) (3) (4)

Kambing Berlafadz Allah Ditawar 8 Juta

Keunikan bentuk hewan memang menjadi daya tarik tersendiri. Idul Adha ini, ada kambing bercorak lafadz Allah yang sudah ditawar orang, namun pemiliknya enggan menjual kambing ini. Penawaran yang diberikan senilai Rp 2 juta sampai 8 juta. Padahal, kambing ini dibeli dengan harga Rp 1,6 juta untuk dijual kembali, dengan kondisi si pemilik belum tahu tentang corak lafadz Allah di tubuh kambing ini. (sumber)

Itulah beberapa hal unik yang terjadi di seputar Idul Adha 2017. Tim Teknika FTUI mengucapkan selamat hari raya Idul Adha 1438 Hijriah. Mohon maaf kalau kami melakukan kesalahan selama ini. Kami juga berdoa bagi civitas academica FTUI yang sedang mengikuti ibadah haji supaya hajinya mabrur. (S)