DAFTAR BACA:

  • Open Recruitment CEO TEKNIKA FTUI 2020

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • THE 17TH CIVIL ENGINEERING NATIONAL SUMMIT UNIVERSITAS INDONESIA

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Peringati HUT IKM FTUI ke-48 Tahun, Mahasiswa FTUI Ikut Aksi Tuntaskan Reformasi Bersama Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Warisan BJ Habibie Untuk Indonesia dan Dunia

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Masih Perlukah Kita MUKER?

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • MUKER 9 IKM FTUI: Panggung untuk Kalibrasikan IKM atau Bubarkan IKM?

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Roket Falcon 9 SpaceX Bawa Satelit Nusantara Satu Terbang ke Angkasa.

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Peresmian Musholla Teknik Next Level

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Akun Instagram @ui.cantik Noda di Almamater

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Netizen Ribut di Timeline, Teknik Juara Olimpiade UI Jangan Dilupakan!

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Intip Sosok Pemimpin IKM FTUI 2019 Lewat Pemira

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Setelah Mundur Satu Hari Pemungutan Suara untuk Pemira FTUI Resmi dibuka

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Yuk, Membahas Pembangunan Perkotaan yang Berkelanjutan Bersama CENS UI

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Pandji Pragiwaksono ajak Mahasiswa Baru FTUI Berkarya untuk Indonesia

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Keindahan Orkestra dalam Dies Natalis ke-54 FTUI

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Buka Puasa Bersama Alumni di Affogato Coffee yang Penuh Kesan

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Potret Kejujuran Mahasiswa FTUI

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Istilah “Wibu” Yang Dipermasalahkan

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Meski Sementara, Harus Tetap Nyaman: Analisa Mikro dan Makro Musala Teknik Sementara

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Seminar Fintech UI dan Dana Cita “The Evolution of Fintech and Opportunities Ahead”

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • 2,8 Miliar Donasi Terkumpul, Renovasi Mustek Resmi Dimulai

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Hari Buruh Internasional: Serikat Buruh Sampai Pekerja Honorer

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Kerja Sosial FTUI 2018: Pengabdian FTUI kepada Masyarakat Desa Cikarae Thoyyibah

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Mungkinkah LPJ IKM FTUI Bertransformasi?

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Saham Uber Dicaplok Grab

    oleh admin, administrator
  • Mendengarkan Musik dan GPS Sambil Berkendara Ditilang?

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Ketua BEM UI Acungkan ‘Kartu Kuning’, Tanggapan BEM FT ?

    oleh Teknika FTUI, administrator

Berprestasi Sambil Melancong ke Korea Tim Chantura dan Artjuna di Asian Students Venture Forum 2018

Pada kali ini TEKNIKA berkesempatan mewawancarai Melissa Putri Hidayat (TI 14) dan Zahrina Hasyati (TI 14) yaitu salah satu dari peserta dari dua tim dari Teknik Industri yang berhasil mendapatkan Gold Prize dan Bronze Price di Asian Student Venture Forum (ASVF) 2018 di Korea, simak yuk bagaimana sih lika liku mereka dan tim mereka sebagai pemenang ASVF 2018.

Selamat ya untuk kalian yang udah berhasil menang ASVF 2018 dalam Gold Prize dan Bronze Price kemarin! Kemarin mengikuti ASVF 2018 komposisi dan nama timnya apa?

Kami kemarin mengikuti ASVF 2018 dari Indonesia dari TIUI mengirimkan dua tim yaitu Tim Chantura yang berisi Arsila Chairunnisa, Ian Berlian Pratama, Juan Siva, Melissa Putri Hidayat, Vika Fariza, Yasmin Ramadhani, dan Zahrina Hasyati lalu tim kedua bernama ArtJuna yang berisi Agustina Windaryanti, Ahmad Ariq Naufal, Ahmad Adrian, Khafri Ramadhan, Kukuh Lolana, Latu Adiweno, dan Sabrina Kusuma Ayu, kemarin total negara yang ikut ada Uzbekistan, Filipna Singapura, Jepang, Malaysia, Vietnam, Cina, Hongkong, Taiwan, Mongolia, Korea, dan Indonesia

Apa motivasi kalian dalam mengikuti ASVF 2018?
Zahrina: Sejujurnya sih kami pengen jalan-jalan keluar negeri sama temen-temen sebelum lulus

Meilissa: selain itu motivasi kami yaitu untuk lebih mengenal budaya luar dan menambah teman-teman baru dari negara lain juga, motivasi kami disana dapat tahu budaya negara lain terutama korea, dan dapat membuktikan bahwa pelajar-pelajar Indonesia tidak kalah dengan negara lain dalam membuat ide bisnis

Untuk mengikuti ASVF apa aja persiapan yang udah kalian lakukan”
Pertama kami menyiapkan terlebih dahulu business plan lalu kami melewati seleksi di Indonesia, karena hanya dua tim yang dapat lolos dari masing-masing negara, selanjutnya karena dua tim kami terpilih kami mempersiapkan dana untuk berangkat ke Korea karena hanya akomondasi yang difasilitasi sedangkan tiket pesawat harus menggunakan dana pribadi. Di ASVF kami juga harus menyiapkan penampilan untuk ditampilkan pada seluruh peserta jadi kami juga harus latihan untuk menampilkan penampilan kami.

Wah lalu dananya dapat terpenuhi semua tidak?
Alhamdulillah kami berangkat ke Korea tidak mengeluarkan uang sama sekali karena hasil dari sponsorship

Selama di Korea, rangkaian kegiatan ASVF 2018 apa saja?

Di Korea kami dipecah menjadi beberapa grup, dan di grup tersebut hanya ada satu orang dari tiap negar. Jadi di tim aku ada orang Taiwan, Hongkong, Mongolia, Filipina, dan Vietnam, jadi benar-benar di grup tidak ada orang yang berasal dari Indonesia. Dari pertama kami sampai, kami sudah dikelompokkan dengan grup tersebut dan bermain game bersama lalu sorenya kami melakukan presentasi business plan kami. Kami hanya bertemu dengan teman-teman kami hanya pada saat mau tidur dan presentasi business plannya saja. Pada hari kedua kami presentasi dan pengumuman pemenang, lalu pada hari ketiga dan seterusnya kami diberikan permainan bersama grup baru tersebut keliling-keliling Gongju City dan diberika misi-misi gitu, untuk foto sama seseorang atau membuat video.

Menarik sekali, apakah disana ada kejadian unik?
Kami disana melakukan penampilan pada dua tim dari Indonesia yaitu tampil menari saman menampil dangdut is the music of my country dan dance KPOP. Menurut kami penampilan dari tim Indonesia paling kreatid dan interaktif, tapi hal itu diraih dengan planning dan latihan kami yang sungguh-sungguh, selain itu ada juga peserta yang bertanya kenapa warna kulit dan wajah orang Indonesia dapat berbeda-beda, lalu disana kami hanya dapat makanan vegetarian karena takut mengandung hal-hal yang tidak halal, yang paling untuk koper salah satu teman kami sangat besar dan sampai dibawain oleh peserta yang dari Uzbekistan sampai ke lantai 3!

Apa kesan pesan kalian selama mengikuti ASVF 2018?

ASVF 2018 menurut kami adalah kegiatan yang sangat seru dan menyenangkan dan kami bisa belajar banyak selama di ASVF 2018

Apa sih tips and trik kalian sampai dapat memenangkan ASVF 2018?
Jangan takut mencoba! Coba aja

(Sumber : youtube.com)

Penulis : Abiyyah



Peresmian Musholla Teknik Next Level

MustekNL

Peresmian Musholla Teknik Next Level

Mushola Teknik atau yang biasa disebut Mustek oleh mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia kini sudah bisa digunakan kembali setelah diresmikan pada hari Jumat (8/2/2019). Peresmian Mushola Teknik Next Level dibuka oleh serangkaian acara Grand Launching Musholla Teknik yang di rancang oleh FUSI Foundation dan Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

Rangkaian Acara Grand Launching dibuka dengan Inspirative Talk

Suasana Inspirative Talks Grand Launching Mustek Next Level

Suasana Inspirative Talks Grand Launching Mustek Next Level

Rangkaian acara Grand Launching Mushola Teknik dibuka dengan Inspirative Talk yang berlangsung di Auditorium MRPQ. Acara tersebut menghadirkan Mr. Zaini Osman selaku CEO dari Warees Investments Singapore dan Bapak Muhaimin Iqbal yang merupakan Founder and Chairman dari iGrow.

 

Mr. Zaini Osman dalam acara tersebut memaparkan bahwa transformasi wakaf di Singapura dari yang semula dikelola secara tradisional oleh kelompok masyarakat Islam kini dikelola oleh orang – orang professional hingga menjadi salah satu produk investasi yang memberikan nilai tambah kepada masjid, sekolah, dan juga masyarakat Singapura yang ikut serta dalam melakukan wakaf.

 

Bapak Muhaimin Iqbal mengatakan bahwa pengelolaan wakaf perlu mengadopsi teknologi Block Chain agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas untuk masyarakat. Permasalahan yang terjadi di Indonesia yaitu belum adanya regulasi yang mengatur mengenai hal tersebut, sehingga perlu untuk menyosialisasikannya kepada pembuat peraturan agar tidak berbenturan dengan peraturan lain seperti yang dialami oleh beberapa startup awal yang ada di Indonesia.

 

 

 

Pentingnya Masjid Sebagai Pusat Peradaban

 

Rangkaian acara Grand Launching Mushola Teknik kemudian dilanjutkan dengan Sholat Jumat di Lobi K FTUI. Pada Khutbah Sholat Jumat diisi oleh Dr. Amir Faishol Fath MA yang merupakan pendiri Yayasan Fath Quranic Center serta merupakan salah satu juri pada acara Hafidz Indonesia.

Pada Khutbahnya, Ustad Amir menceritakan kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW yang membangun umat Islam melalui Masjid. Masjid pada zaman Nabi Muhammad SAW masih hidup tidak hanya digunakan sebagai tempat Ibadah, melainkan juga sebagai pusat pemerintahan, tempat bersilahturahmi dan lain sebagainya. Sehingga Masjid pada masa itu dijadikan sebagai pusat peradaban, karena hampir semua kegiatan dilakukan di Masjid. Sehingga perlu mendekatkan kembali generasi muda kepada Masjid ataupun Musholla agar dapat menjadikan generasi muda terbaik untuk Indonesia.

 

Peresmian Musholla Teknik Next Level

 

Peresmian Musholla Teknik Next Level dilakukan setelah Sholat Jumat. Pada Acara peresmian tersebut turut hadir Bapak Dr. Ir Muhammad Anis, M.Met (Rektor dari Universitas Indonesia); Bapak Dr.Ir.Hendri D. S. Budiono, M.Eng (Dekan Fakultas Teknik Universitas Indonesia); Bapak Ahmad Fitrianto (Ketua FUSI Foundation); Bapak Cindar Hari Prabowo (Ketua Umum ILUNI FTUI); Bapak Arief Budhy Hardono (Ketua ILUNI UI).

Mahasiswa FTUI turut meramaikan acara Grand Launching Mustek Next Level

Mahasiswa FTUI turut meramaikan acara Grand Launching Mustek Next Level

Pada acara peresmian Musholla Teknik Next Level banyak pula mahasiswa FTUI yang datang mulai dari yang hanya ingin mendapatkan makan siang gratis hingga yang penasaran dengan wujud Musholla Teknik yang baru turut membaur meramaikan acara ini.

bapak dekan

Bapak Dekan FTUI berpidato pada acara peresmian Musholla Teknik Next Level

Pada pidato Bapak Dekan Fakultas Teknik mengungkapkan rasa terima kasih kepada para alumni dan para donatur yang turut menyukseskan dan mendonasikan hartanya untuk pembangunan Musholla Teknik yang baru ini. Pak Hendri juga tampak terkesan dari desain Musholla Teknik yang dikerjakan oleh Pavillion.95 karena membuat Musholla Teknik Next Level ini menjadi lebih indah, karena dapat melihat pemandangan indah dari Danau Mahoni yang ada di Universitas Indonesia.

Penandatanganan serah terima mustek

Penandatanganan serah terima Mushola Teknik Next Level oleh Bapak Dekan FTUI dan Ketua FUSI Foundation

Mengutip dari Khutbah yang disampaikan Ustad Amir, Bapak Hendri berharap bahwa Musholla Teknik yang sekarang ini tidak hanya menjadikan Mahasiswa FTUI nyaman beribadah, tetapi dapat juga dirasakan manfaatnya untuk warga FTUI lainnya. Pada acara ini pula diangkat Bapak Salman sebagai Kepala DKM Musholla Teknik Next Level ini.

detik - detik sebelum peresmian Musholla Teknik Next Level

Detik – Detik Sebelum peresmian Musholla Teknik Next Level

Foto – Foto Bagian Musholla Teknik Next Level

Pemandangan Danau Mahoni

Pemandangan Danau Mahoni dari Mushola Teknik Next Level

tampak dalam mustek untuk sholat wanita

Penampakan tempat sholat wanita di Musholla Teknik Next Level

tempat sholat pria mustek next level

Tempat sholat pria Mustek Next Level

tempat wudhu mustek

Tempat wudhu dan toilet di Musholla Teknik Next Level

Penulis: Irmansyah Turhamun

Foto : FUSI FTUI dan Teknika FTUI

 

 



Netizen Ribut di Timeline, Teknik Juara Olimpiade UI Jangan Dilupakan!

Melihat kondisi timeline media sosial kita akhir-akhir ini yang tak jauh-jauh seputar kemelut Pemira Fakultas dan UI, ribut-ribut peserta Pemira, dan berbalas tulisan, memunculkan keresahan yang sama di kalangan netizen FT dan UI. Meskipun panitia Pemira UI belum menjatuhkan (atau mungkin tutup mata) sanksi pada siapapun, tulisan yang berseliweran tersebut sepertinya membuat kamu gerah. Setuju?

Tapi tahukah kamu kalau Fakultas Teknik kembali memperoleh gelar juara keduanya selama berturut-turut di Olimpiade UI 2018 kali ini? Dengan memperoleh 21 medali emas, 11 medali perak, dan 12 medali perunggu, kontingen Teknik telah meninggalkan jauh peringkat kedua yaitu FIB dengan 10 medali emas, 5 perak, dan 11 perunggu sehingga berhak memperoleh titel Juara Umum. Membanggakan, bukan? Tidak cukup itu, prestasi dalam kompetisi lainnya juga tidak kalah membanggakan. Dalam OIM UI 2018 misalnya, FTUI mendapatkan peringkat ke-3 se-UI karena berhasil mengumpulkan 12 poin serta disusul torehan Teknik dalam The 7th UI Art War yang mendapatkan peringkat ke-3. Sayang sekali ya pemberitaannya tidak se-booming tubiran netizen 🙁

(Foto: BEM FTUI 2018)

Prestasi FTUI di Olimpiade UI 2018 maupun di kompetisi lainnya yang cukup membanggakan ini tidak bisa dilepaskan dari sosok Koorbid Koridor Kreasi Mahasiswa, Danny Bahar Mt’15 beserta tim di belakangnya. Ia mengungkapkan bahwa prestasi yang diraih merupakan kerja keras seluruh tim.

“Senang sekali rasanya bisa kembali menjadi juara Olimpiade. Menurut banyak orang, mempertahankan jauh lebih sulit daripada meraih. Alhamdulillah kami bisa melakukan itu. Tekanan dari warga FT juga sangat besar, namun itu menjadi dorongan bagi kami untuk memberikan yang terbaik buat FT UI,” jelas Danny.  Tidak kalah penting, Murran Mt’17 sebagai Project Officer Arjuna Olahraga 2018 yang menyampaikan bahwa ia sangat senang karena kemenangan ini merupakan pertama kalinya Teknik bisa back to back juara umum Olimpiade UI.

Kedua sosok tersebut menjelaskan bahwa setiap keberhasilan pasti membutuhkan proses. Hal itulah yang menjadi fokus BEM FTUI 2018 dalam mempersiapkan kontingennya. “Poin penting adalah persiapan yang sangat matang di tahun ini, tanpa pernah merasa puas dan bersantai,” kata Danny yang dipertegas oleh Murran, “(Kalau) untuk persiapan kontingennya sebenarnya dari Depornya sendiri sudah adain latihan rutin ya dari triwulan 1, nah tetapi kalau untuk arjunanya sendiri kita sudah mulai siapin kontingen dari bulan Agustus, jadi pas masa libur beberapa cabang sudah ada latihan rutin, contohnya futsal, sepak bola, basket, dan voli.”

Danny dan Muran juga memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya untuk Depor (Bidang Olahraga) BEM FTUI 2018, Arjuna Olahraga, dan Siwa IMD/IMPI karena atas penjagaan yang mereka lakukan terhadap atlet mulai dari menyiapkan fasilitas hingga mengurus persyaratan sangat optimal. Mereka juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh atlet yang mampu berjuang demi meraih prestasi semaksimal mungkin. Kombinasi antara mahasiswa yang memiliki jam terbang tinggi dengan mahasiswa baru mampu dikonversi menjadi kekuatan. Pengalaman dan semangat seluruh atlet FTUI mampu disatukan menjadi tim berkualitas yang digambarkan dalam sebuah tagline apik, #GoldenEraofLion.

(Foto: BEM FTUI 2018)

Danny yang akan segera mengakhiri kepengurusannya berpesan kepada mahasiswa FTUI agar jangan pernah sedikitpun merasa puas. Baginya setiap elemen FTUI harus tetap memiliki motivasi untuk juara Olimpiade maupun kompetisi lainnya sehingga kita tidak terlena dan menganggap remeh fakultas lain.  Meskipun FTUI telah berprestasi di tingkat UI, Danny berpesan agar mahasiswa Teknik jangan hanya jago kandang. Mahasiswa harus berani untuk berlatih di tingkat UI maupun tingkat yang lebih tinggi karena dengan mahasiswa yang berkembang, maka secara tidak langsung akan memberikan dampak nyata bagi FTUI.

Jadi, bagaimana menurutmu? Apakah berita ini cukup mendinginkan timeline-mu? Kalau setuju, terus sebarkan berita ini ke semua teman-temanmu agar timeline-mu makin ber#CakramWarna dan membuatmu berpikir #PositifAja!

Penulis: Naufal Farras Fajar / Teknika FTUI 2018

Edisi #SanteiAjaGituLho

 



Intip Sosok Pemimpin IKM FTUI 2019 Lewat Pemira

Logo Pemira IKM FTUI 2018

Kantin Fakultas Teknik Universitas Indonesia (10/11/2018) – Penghitungan suara sebagai rangkaian Akhir Pemira IKM FTUI 2018 dilangsungkan setelah pemaparan LP DPM UI Perwakilan FT dan MPM FTUI 2018 disampaikan. Pada perhitungan suara Pemira IKM FTUI 2018 diumumkan anggota MPM FTUI 2019 , Ketua Ikatan Mahasiswa Departemen dan Program Internasional 2019, serta Ketua BEM FTUI 2019.

Pembacaan LP MPM FTUI 2018

Setelah pembacaan LP DPM UI perwakilan FTUI dan MPM FTUI 2018 disampaikan. Mahasiswa Teknik memadati Kantek untuk menyaksikan hasil Pemira IKM FTUI 2018. Suasana Kantin Fakultas Teknik cukup sesak dipadati mahasiswa yang ingin menyaksikan awal dari perubahan yang terjadi di Ikatan Keluarga Mahasiswa Fakultas Teknik di tahun 2019.

Mahasiswa Fakultas Teknik Memadati Kantek Menjelang Penghitungan Suara BEM FTUI 2019

 

Berikut merupakan hasil dari Pemira IKM FTUI 2019:

Anggota MPM FTUI 2019 Terpilih:

MPM Fraksi Program Internasional 2019:

Nomor urut 5. Ryan Akbar Imi

Nomor urut 6. Kevin Samuel

Nomor urut 7. Thara Adiva Putri

Nomor urut 8. M Nibroos

 

MPM Fraksi Teknik Industri 2019:

Nomor urut 1. Faras Abiyyum

Nomor urut 3. Rahman Imam P.

Nomor urut 4. Siti Rofifah F

Nomor urut 5. Adi Kurniawan

Nomor urut 6. Meilia Agatha P

 

MPM Fraksi Teknik Kimia 2019:

Nomor urut 1. Bilal Nuraziz

Nomor urut 3. Sulthan Daffa R

Nomor urut 4. Uci Septinus W

Nomor urut 5. Riedo Devara

Nomor urut 6. M Faizal Irsyad S

 

MPM Fraksi Arsitektur 2019:

Nomor urut 2. Muthiah Hakim

Nomor urut 4. Dhia Tsuraya

Nomor urut 5. Hanifah Khairunnisa

Nomor urut 6. Ukha Irfandi H

Nomor urut 7. Salmahira Lazuardi

 

MPM Fraksi Metalurgi dan Material 2019:

Nomor urut 1. M Rafif Roid S

Nomor urut 2. Izzadien Ibrahim I

Nomor urut 3. Nobert Egan C

Nomor urut 5. Imam Hadilah M

Nomor urut 6. Mufazza Rafifky

 

MPM Fraksi Elektro 2019:

Nomor urut 1. Jauharil Firdaus B

Nomor urut 3. Lovenia Viona G

Nomor urut 4. Raditya Hadiprawira

Nomor urut 5. Haidarurrohman

Nomor urut 6. Aldo S Manneken

 

MPM Fraksi Mesin 2019:

Nomor urut 1. Arya Amardani

Nomor urut 2. Yohannes Kevano P

Nomor urut 3. Faqih Hanif

Nomor urut 4. Arnetta Idelia H

Nomor urut 5. Faril Ichfari

Nomor urut 6. Illiyin Lafi A

 

MPM Fraksi Sipil 2019:

Nomor urut 1. Talitha Azzahra K

Nomor urut 2. Satria Gundara

Nomor urut 3. Satria Adipradana

Nomor urut 4. Gari Mauramdha

Nomor urut 6. Hafsha Athira R

 

Ketua Ikatan Mahasiswa Departemen dan Program Internasional 2019 Terpilih:

IMPI : Nomor urut 1. Azman Barran M.S.

IMTI : Nomor urut 3. Ananda Pasha

IMTK : Nomor urut 1. Kemas M. Hafiz

IMA : Nomor urut 3. Afif Kusuma

IMMt : Nomor urut 1. Reyhan Pradana

IME : Nomor urut 2. Hamdi Hidayat

IMM : Nomor urut 1. Addarda Irsyad U.

IMS : Nomor urut 2. Elang Nurreiz.

Ketua BEM FTUI 2019 Terpilih:

Nomor urut 7. Irsan Bagas Maulana H

Selamat kepada Anggota MPM FTUI 2019,  Ikatan Mahasiswa Departement dan Program Internasional 2019, dan Ketua BEM FTUI 2019 Terpilih.

(Penulis: Irmansyah Turhamun)

 

 

 

 

 

 



Setelah Mundur Satu Hari Pemungutan Suara untuk Pemira FTUI Resmi dibuka

 

Suasana TPS Fakultas Teknik Universitas Indonesia (04/12/2018)

Fakultas Teknik Universitas Indonesia (4/12/2018) – Masiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia sudah bisa menyalurkan hak pilihnya ke TPS Fakultas Teknik yang berada di Lobi Gedung K untuk memilih Calon Ketua dan Wakil Ketua BEM UI, Calon Anggota MWA UI Unsur Mahasiswa, Calon Ketua BEM FTUI, Calon Anggota MPM FTUI, dan Calon Ketua Ikatan Mahasiswa Departemen atau Program Internasional.  Mahasiswa yang ingin menyalurkan hak suaranya dapat datang ke TPS Fakultas Teknik yang berada di lobi K dengan syarat membawa kartu mahasiswa dan mengingat username dan password SSO UI – nya agar dapat memilih.

Klarifikasi Keterlambatan dari Pemira IKM UI

Masa pemilihan di Fakultas Teknik seharusnya dibuka dari Hari Senin (3/12/2018) sampai Hari Jumat (7/12/2018). Namun pemilihan baru dapat dilaksanakan mulai Hari Selasa dikarenakan ada beberapa masalah yang terjadi pada sistem e-Voting Pemira IKM UI. Dilansir dari Line Official Account Pemira IKM UI yang mengungkapkan bahwa keterlambatan jadwal Pemira IKM UI terjadi karena adanya data yang tidak terbaca oleh sistem baru e-Voting Pemira IKM UI, sehingga Panitia Pemira IKM UI harus menghubungi Tim Developer yang bertanggung jawab atas sistem e-Voting Pemira IKM UI.

Press Release Klarifikasi Keterlambatan Pemira IKM UI

 

Walaupun mundur satu hari dari jadwal, antusias mahasiswa Fakultas Teknik untuk memilih calon pemimpin mereka tidak menurun. Hal tersebut dibuktikan dari suasana di sekitar TPS Fakultas Teknik yang tidak pernah sepi dari mahasiswa FTUI yang ingin memilih pada Hari Selasa (4/12/2018).

Mahasiswa FTUI yang sedang melakukan e-Voting di balik bilik suara (4/12/2018)

Penulis: Irmansyah Turhamun

 

 

 

 



Calon Ketua BEM FTUI 2019 Mundur, Hanya 2 Calon Bertarung

Forum Teknik pada Senin (29/10/2018). (dokumen Teknika FTUI)

Pada Selasa (27/11/2018), telah dilakukan sidang pengunduran diri 6 orang calon Ketua BEM FTUI 2019. Satu orang calon mengajukan calon penggantinya untuk bertarung di Pemira IKM FTUI 2018, yaitu Calvin Abdiwijoyo (A’16) yang digantikan Irsan Bagas Maulana Harahap (Mt’16). Sementara itu, calon yang sudah terdaftar dari awal dan tidak mengundurkan diri adalah Muhamad Fadhil Nugraha (E’16). Eksplorasi Ketua BEM FTUI 2019 sendiri akan dihadiri dua calon tersebut.

Keputusan tersebut diumumkan Panitia Pemira IKM FTUI 2018 di akun Instagram @pemiraftui2018 yang diunggah sekitar pukul 00.00 hingga 01.00 WIB. Dalam unggahan akun tersebut, terdapat foto surat pernyataan peserta Pemira, surat alasan pengunduran diri dari peserta, foto dari keenam calon yang mengundurkan diri, serta pernyataan pengunduran diri dari Panitia Pemira IKM FTUI berkop MPM FTUI.

Sebelumnya berdasarkan keputusan Forum Teknik (Fortek) pada Senin (29/10), karena hanya ada calon tunggal Ketua BEM FTUI 2019, harus ada perwakilan dari setiap departemen untuk maju menjadi calon Ketua BEM FTUI 2019. Mekanisme ini didasarkan pada PD/PRT IKM FTUI hasil Muker 2015. Setelah Fortek, diadakan forum di masing-masing departemen untuk memajukan perwakilan dari setiap departemen.

Berdasarkan keputusan di forum-forum departemen, terdapat 7 calon yang maju di Pemira IKM FTUI 2018. Secara berurutan, calon-calon ini adalah Gilang Fauzan (M’16), Ivan Bataro Dachi (Mt’16), Jihad Alif (TI’16), Radhitya Abiyoga (S’16), Rizky Mulia (TK’16), M Fadhil Nugraha (E’16), dan Calvin Abdiwijoyo (A’16). Akan tetapi, karena beberapa masalah, calon-calon selain Fadhil mengundurkan diri. Di surat pengunduran diri, semua calon mencantumkan izin orang tua sebagai alasan utama mereka tidak dapat melanjutkan menjadi calon Ketua BEM FTUI 2019.

Dari ketujuh calon, hanya calon nomor urut 7 yaitu Calvin yang mengajukan pengganti. Pemira IKM FTUI hanya akan diikuti oleh calon nomor urut 6 (Fadhil) dan nomor urut 7 (Bagas).

Panitia Pemira Keliling Teknik

Pada Rabu pagi (28/11), Aji Satrio Rinenggo (K’15) dan Eddie Susanto (Mt’17) sebagai perwakilan dari Pemira IKM FTUI 2018 berkeliling mendatangi eksplorasi calon ketua Ikatan Mahasiswa Departemen dan Ikatan Mahasiswa Program Internasional menjelang jam sholat subuh. Perwakilan Pemira meminta izin untuk berbicara di eksplorasi IMD/IMPI dan menyosialisasikan isi hasil sidang pengunduran diri yang dapat dibuka di Instagram Pemira IKM FTUI.

Selain interupsi eksplorasi, pihak Pemira IKM FTUI juga menggunakan akun media sosial MPM FTUI untuk melakukan sosialisasi tersebut.



Cerita Rombongan Biru di Tengah Olimpiade UI

Suasana di depan gedung Dekanat saat mahasiswa FTUI menyanyikan Mars Teknik. (dokumen Teknika FTUI)

 

Serombongan mahasiswa berdiri di halaman Dekanat FTUI pada Senin (29/10) sekitar 13.00. Kebanyakan memakai baju biru, terutama kaos angkatan Teknik 2018. Sebagian kecil mengenakan baju warna lain – termasuk jaket jurusan. Mereka adalah perwakilan mahasiswa Teknik yang mengikuti Parade Olimpiade UI 2018. Di pintu Dekanat, rombongan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) sudah menunggu.

Atribut lain yang dibawa terdiri dari bendera yang mewakili 8 departemen di FTUI, bendera IKM FTUI, kepala Singa Teknik, dan sejumlah atribut lainnya seperti genderang. Tidak semua peserta Parade meneriakkan yel-yel, terdapat beberapa yang mengobrol di antara sesamanya dan beberapa yang diam. Walaupun begitu, suara yel-yel rombongan FTUI tetap terdengar jelas.

Kendaraan yang digunakan rombongan FT untuk parade. (dokumen Teknika FTUI)

Parade ini memiliki dua rute yang bertemu di perempatan RSUI di dekat FKM. Rute pertama melewati bagian barat UI, berturut-turut FEB, FT, Vokasi, dan FMIPA. Rute kedua melewati bagian timur UI, terdiri dari FH, Psikologi, FISIP, FIB, FK, FKG, FF, FKM, dan FIK. Dari titik temu di RSUI, kedua rute ini mengarah ke Balairung melalui Taman Lingkar (Tamling) dan Rotunda UI. Di titik temu ini, banyak terjadi “saling sapa antarfakultas” dengan ejekan khasnya.

Beberapa fakultas yang berpapasan dengan FTUI secara langsung adalah FEB, Vokasi, FMIPA, FISIP, dan FH. Saat fakultas-fakultas ini berpapasan, terjadi saling ejek, namun tidak sampai terjadi bentrok. Bahkan terdapat suporter FH yang bersalaman dengan suporter FT tak lama setelah saling ejek tersebut.

Suporter FT dan FISIP berpapasan di Rotunda UI. (dok. Teknika FTUI)

Setelah parade ini, dilakukan upacara pembukaan Olimpiade UI, kira-kira setelah jam salat Ashar. Upacara pembukaan berakhir sekitar Maghrib karena Balairung digunakan untuk pertandingan basket FT melawan FIB sekitar jam 20.00 WIB. Sebagian massa dari FT sendiri kembali menuju FT untuk menghadiri Forum Teknik terkait Calon Ketua BEM FTUI 2019.

Mengalah dengan Bikun

Parade Olimpiade UI di depan PNJ/Sarana Olahraga UI (dok. Teknika FTUI)

Parade ini dilakukan tanpa menutup akses jalan umum di Lingkar Kampus UI.  Rombongan parade harus mengalah dengan bus UI atau Bis Kuning (Bikun), bus PNJ, serta mobil dan motor umum yang melintas. Parade ini hanya diperbolehkan menggunakan satu lajur Jalan Lingkar Kampus UI, namun di saat tertentu rombongan menggunakan kedua lajur akibat terlalu berada di kanan jalan. Beberapa orang menjaga dan memastikan rombongan tidak berada di tengah jalan, terutama saat Bikun atau mobil melintas. Saat kendaraan lain melintas, rombongan yang berada di lajur tengah berpindah ke median.

Terkait arak-arakan ini, akses belok dari Rektorat menuju PNJ sempat ditutup sementara, termasuk putaran balik yang digunakan bergantian antara mobil dan rombongan arak-arakan yang ada di median jalan. Bikun juga harus berjalan pelan-pelan dengan kondisi bus yang penuh sampai tidak bisa dimasuki orang lagi. “Kita harus hati-hati, nanti takut kakak-kakakmu ketabrak,” kata salah satu supir Bikun yang digunakan Teknika untuk mengamati keadaan.

Parade ini sempat berhenti di beberapa titik cukup lama karena menunggu fakultas lain mempersiapkan diri, selain itu memastikan keadaan jalan di depan sudah aman untuk dilewati rombongan parade. Rombongan FTUI sendiri sempat ditahan di Eng Park, Stadion, simpang Pusgiwa, simpang Rektorat, FMIPA, dan simpang RSUI. Pada saat rombongan ditahan, yel-yel pun ikut dihentikan.

Setelah rombongan FT memasuki jalan di depan FIK-FKM (Jalan Prof. Sujudi), tidak ada lagi isu singgungan dengan kendaraan bermotor lainnya. Pada saat rombongan FT berhenti di depan FKM, mereka menyanyikan yel-yel sambil meloncat-loncat dan menyalakan kembang api berwarna biru.

Suporter Teknik menyalakan kembang api (dokumen Teknika FTUI)

Penulis: Misael Satrio



Juara 2 Hydrocontest Tingkat Dunia di Prancis, Mahasiswa UI Bikin Bangga!

 

(Foto : HTW 2018)

Pada tahun ini, lagi-lagi Mahasiswa UI yang berada di bawah naungan HTW UI (Hydromodelling Technology & Workshop Universitas Indonesia) menorehkan prestasi bergengsi kelas dunia. The 5th Edition of Hydrocontest 2018, lomba adu cepat kapal tahunan di Prancis ini berhasil ditaklukkan oleh tim dari UI dengan salah satu timnya, Hydros Team Universitas Indonesia meraih peringkat 2 Dunia pada kategori Long Distance Race.

Long Distance Race sendiri merupakan salah satu kategori race yang mengharuskan kapal melewati lintasan sebanyak mungkin dalam waktu 1 jam.  Tak hanya itu, tim UI lainnya juga berhasil menyabet 8 besar di kategori Lightweight race (beban 20 kg) dan 12 besar di kategori Heavyweight race (200 kg).

(Foto : HTW 2018)

Menurut Ketua HTW UI 2018, Arma Amin, mahasiswa Teknik Perkapalan UI angkatan 2015, prestasi ini merupakan pencapaian yang patut dibanggakan. Menurutnya prestasi ini tidak dicapai dengan mudah karena tim dari HTW UI telah berpartisipasi dalam 3 tahun terakhir dan tahun ini yang terbaik. Tahun 2017 lalu, tim HTW UI berhasil mendapatkan posisi 4 dalam kategori Heavyweight, 7 Lightweight dan 9 Long Distance. “Jadi yang sangat berkesan adalah kemajuan progres dari hasil sebelumnya sehingga meciptakan hasil yang memuaskan dan membanggakan,” jelas Arma.

Tahun ini, perlombaan diikuti oleh 28 tim dari 15 negara yang berlangsung pada 2-9 September 2018 dengan fokus pada efisiensi energi maritim. Hydrocontest ini juga digelar di salah satu pantai terbaik Saint Tropez, Plage des Canebiers. Selamat kepada tim UI, kami bangga!

(Foto : HTW 2018)

(Foto : HTW 2018)

Penulis: TEKNIKA FTUI 2018



Unik, MADK Teknik Sipil FTUI Gambarkan Kehidupan Mahasiswa Milenial Lewat Screening Film

Pembelajaran kreatif untuk mahasiswa baru ditunjukkan oleh panitia Masa Adaptasi Dunia Kampus (MADK) Departemen Teknik Sipil pada Selasa, 21 Agustus 2018. Pembelajaran kali ini digambarkan secara visual dengan menggunakan film pendek. Film berjudul “Satu” ini menggambarkan tentang kehidupan perjuangan generasi milenial yang sangat dekat dengan teknologi. Generasi milenial tidak boleh larut dalam gawai yang digunakan sehari-hari, namun solidaritas, kecerdasan, dan ketangguhan harus tetap diasah apalagi dalam dunia perkuliahan.

Pemutaran film ini dilakukan pada sesi akhir seminar sebagai penutup dan pemberi kesimpulan pada hari ketiga MADK di Auditorium FTUI, Depok. Pembuatan film ini disutradarai oleh Corry dan Grace Roseline. Sementara untuk pengambilan gambar dan adegan dilakukan oleh Sabrina, Farhan, dan teman-teman panitia.

Menurut Project Officer MADK Sipil, Fardan Fikriansyah, ia merasa puas dengan pemutaran film kali ini. Menurutnya, memberikan pemahaman pada generasi milenial harus unik dan menarik. “Saya melihat mahasiswa baru DTS FTUI 2018 memahami materi yang disampaikan dan antusias menyaksikan film” ujarnya menutup pembicaraan.

 

Penulis: Teknika FTUI 2018

 



Panitia MADK Teknik Industri UI Latih Elevator Pitching Mahasiswa Baru Sejak Dini

Mahasiswa baru mempresentasikan hasil brainstorming dan melakukan elevator pitch (Foto : Dokumentasi MADK DTI UI 2018)

 

Di kalangan entrepreneur, Elevator Pitching merupakan tahapan yang menentukan segalanya.  merupakan salah satu satu rangkaian acara pada MADK Teknik Industri 2018 yang dilaksanakan pada tanggal 16 Agustus 2018 pukul 13.40-14.15 di Aula Departemen Teknik Industri UI, Depok.

Acara ini berbentuk rangkaian dengan diawali sesi Focus Group Discussion yang membahas mengenai inovasi terhadap produk yang menjadi trend anak muda masa kini, sepatu.

Setelah itu, bersama kelompok, mahasiswa baru melakukan tahap brainstorming ideas dengan memanfaatkan tools yang sering digunakan oleh para praktisi. Tak lupa mahasiswa menuangkan ide mereka dengan cara yang sekreatif mungkin di atas kertas A3.

Kemudian, tahap presentasi menjadi penutup kegiatan elevator pitch ini. Presentasi dilakukan bergantian dan diberikan feedback sehingga seluruh mahasiswa dapat memperbaiki dalam kesempatan selanjutnya.

Menurut panitia, elevator pitch memang perlu dilatih sejak dini untuk menumbuhkan kepercayaan diri mahasiswa terutama mahasiswa baru. Di zaman sekarang, wirausaha terus menjamur di masyarakat dan sebagai mahasiswa yang berperan penting untuk kemajuan Indonesia, mahasiswa Teknik Industri UI tidak boleh ketinggalan.

Kemampuan mahasiswa TI UI dalam presentasi maupun pitching akan terus dilatih karena telah bersinergi dengan materi kuliah para dosen. Akhirnya, selamat tinggal perploncoan, selamat datang generasi milenial!

Mahasiswa berdiskusi dalam Focus Group Discussion (Foto : Dokumentasi MADK DTI UI 2018)

Penulis: Teknika FTUI 2018



Pandji Pragiwaksono ajak Mahasiswa Baru FTUI Berkarya untuk Indonesia

Pandji Pragiwaksono dalam acara Inspire Talk MADK FTUI 2018 (Foto : Humas FTUI)

Inspire Talk Masa Adaptasi Dunia Kampus (MADK) Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) pada Rabu, 15 Agustus 2018 di Balairung UI Depok kali ini diselenggarakan agak berbeda dari sebelum-sebelumnya. MADK FTUI 2018 kali ini menghadirkan seorang tokoh publik milenial, Pandji Pragiwaksono. Dalam kegiatan yang bertemakan, “Revolusi Karakter Bangsa Melalui Etika Mahasiswa” ini, sekitar 1300 mahasiswa baru diajak oleh Pandji untuk menjadi generasi muda yang beretika, berkarakter, dan harus memiliki karya untuk Indonesia.

Menurut Pandji, sudah saatnya generasi sekarang memberikan karya unik yang lo banget namun tetap bagus dan layak untuk dipasarkan. Pandji juga memberikan beberapa tips untuk mahasiswa baru bagaimana cara menemukan passion, seperti mengambil sebanyak-banyaknya kegiatan yang Pro Bono (untuk kepentingan umum secara cuma-cuma) dan mencoba menemukan kebahagiaan karena bisa jadi disitulah letak passion. Mencari titik temu antara passion dan skill dapat mengantarkan kesuksesan di masa yang akan datang.

 

Dr. Ir. Hendri D.S. Budiono, M.Eng. (Dekan FTUI) berswafoto bersama Mahasiswa Baru FTUI 2018 (Foto : Humas FTUI)

Dalam kesempatan ini, Dr. Ir. Hendri D.S. Budiono, M.Eng. selaku Dekan FTUI berpesan bahwa pergeseran pola pikir, nilai, dan perilaku telah terjadi akibat kemajuan teknologi, namun etika dan karakter harus tetap dijunjung tinggi oleh mahasiswa FTUI, apalagi di lingkungan kampus. Kegiatan ini juga lengkap dihadiri Dr. Ir. Muhamad. Asvial, M.Eng. (Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Penelitian dan Kemahasiswaan), Dr. Badrul Munir, ST., M.Eng.Sc. (Manajer Kemahasiswaan & Alumni), serta Hardiansyah (Ketua BEM FTUI 2017) dan Davigara (Ketua BEM FTUI 2018).

Hardiansyah (Ketua BEM FTUI 2017) memberikan materi mengenai kehidupan kampus (Foto : Teknika FTUI)

Penulis : Naufal Farras Fajar



Keindahan Orkestra dalam Dies Natalis ke-54 FTUI

Engineering in Symphony, in collaboration with Erwin Gutawa Orchestra, itulah judul acara puncak perayaan rangkaian acara Dies Natalis FTUI ke 54 tahun. Acara yang diselenggarakan pada Jumat lalu, 20 Juli 2018, bertempat di Makara Art Center Universitas Indonesia sukses meninggalkan kesan indah bagi para tamu undangan yang hadir pada malam itu.

Sejak di pintu masuk, tamu telah disambut dekorasi apik dengan tulisan FTUI berwarna putih berukuran cukup besar yang dihiasi dengan lampu-lampu kuning dan terletak di sebelah kanan menuju pintu masuk Gedung Makara Art Center Universitas Indonesia. Saat memasuki gedung, para tamu akan disuguhkan dengan suasana elegan nan hangat yang berasal dari dekorasi dan tata hias lampu yang menghiasi seisi ruangan. Pandangan akan terarah kepada pohon hias yang berada di tengah ruangan yang dihiasi dengan lilin-lilin cantik dan tulisan “Dies Natalis FT UI ke 54 tahun”. Terpampang pula karya-karya hasil fotografi para dosen berbakat FTUI yang terletak di sebelah kanan dari pintu masuk. Dengan diberikan pencahayaan lampu kuning pada hasil karya tersebut, membuatnya semakin hidup dan indah untuk dipandang. Selain itu terdapat pula area photobooth yang terletak di sebelah kiri pintu masuk. Para tamu dapat menggunakan photobooth ini dan dapat mencetak fotonya langsung di tempat saat itu juga.

Suasana di dalam Gedung Makara Art Center Universitas Indonesia (Foto : Firda Aulia / Teknika FTUI)

 

Photobooth Acara yang diminati oleh pengunjung untuk mengabadikan momen (Foto : Firda Aulia / Teknika FTUI)

Memasuki Ruang Auditorium Orkestra, para tamu dipersilahkan duduk di kursi berwarna biru yang diposisikan menghadap layar utama yang terletak di panggung sebelah depan. Bangunan yang relatif baru ini diisi dengan kursi-kursi yang tersusun berundak-undak hingga persis di depan panggung sehingga para tamu dapat menyaksikan apa yang ada di panggung secara jelas. Acara dibuka oleh MC yang sudah tidak asing di kalangan para tamu yaitu Syahnaz Haque, yang juga merupakan alumni FTUI jurusan Teknik Sipil lulusan tahun 1996.

MC dalam acara ini yang juga seorang selebriti dan alumni FTUI, Shahnaz Haque (Foto : Firda Aulia / Teknika FTUI)

Setelah dibuka dengan doa dan nyanyian lagu Indonesia Raya, yang dinyanyikan secara bersama-sama oleh seluruh hadirin, acara malam itu dilanjutkan dengan sambutan Dekan Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Dr. Ir. Hendri D. S. Budiono, M. Eng. Dalam sambutan tersebut beliau menyampaikan, “Sejatinya filosofi dan konsep sebuah orkestra musik bukan hanya tentang musik klasik, kesan elit dan elegan atau bahkan kemewahan, melainkan menunjukkan kedisiplinan, dan sinergitas antara kemampuan individu-idividu hebat yang dipimpin oleh seorang konduktor yang cakap. Dengan berkaca kepada filosofi ini diharapkan dalam empat tahun ke depan FTUI akan semakin elegan, disiplin, dan berkualitas untuk terus menghasilkan karya-karya yang aplikatif dan dapat dirasakan oleh masyarakat melalui sinergitas antara segenap Civitas Academica, Alumni, Industri, dan pemangku kepentingan lainnya.”

Visi FTUI adalah ingin menjadi kebanggaan bangsa yang unggul dan mampu bersaing di Asia Tenggara melalui 4 pilar strategi pencapaian: 1. Perubahan dari teaching menjadi learning, 2. Research yang akan langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, 3. Fakultas Teknik tidak bisa hanya mengandalkan biaya yang didapatkan dari mahasiswa, namun harus mampu mendapatkan dana lain dari upaya-upaya yang akan dilakukan oleh Fakultas Teknik, 4. Saatnya menjadi bagian dari Institusi Pendidikan terbesar dan terbaik di Indonesia serta menjadi contoh penerapan teknologi informasi di berbagai fungsi organisasi. Seluruh hal tersebut mengerucut kepada tema acara malam itu yaitu, Beyond Engineering Expectation yang akan menjadi motto Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan pemutaran video: Ilmu Rekayasa Indonesia, Majulah! yang berisi perubahan yang akan terjadi kepada Fakultas Teknik di masa yang akan datang. Lalu dilanjutkan dengan Sambutan Rektor Universitas Indonesia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis, M. Met. Dalam sambutannya, Beliau mengajak seluruh karyawan, dosen, mahasiswa, dan alumni FTUI untuk senantiasa berusaha mewujudkan perubahan demi kemajuan FTUI yang juga termasuk dalam rangka kemajuan bangsa Indonesia sehingga dapat bersama bersinergi dalam rangka merealisasikan visi dan misi Fakultas Teknik yakni menjadi Fakultas Teknik dengan mutu yang berkelas dunia. Beliau juga berharap semoga acara ini dapat menjadi simbol sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan dan rasa terima kasih kepada Bangsa Indonesia untuk menginformasikan kontribusi dan prestasi baik alumni, tenaga pendidik, dan mahasiswa FTUI ke masyarakat, serta dapat pula meningkatkan keakraban dan kebanggaan di antara sivitas akademika FTUI. Sebagai penutup dari pendahuluan acara pada malam itu, ditayangkan video ucapan HUT FTUI dari sosok tokoh yang sudah tidak asing lagi di mata masyarakat, yaitu Prof. Dr. -Ing. H. Bachruddin Jusuf Habibie.Kemudian acara dilanjutkan dengan penyerahan beasiswa, untuk mahasiswa-mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia, yang berasal dari hasil penjualan tiket Engineering in Symphony. Penyerahan beasiswa dilakukan oleh Bapak Hendri ditemani dengan Ketua Iluni FT dan disaksikan oleh Ketua BEM dan Ketua MPM FTUI 2018, kepada Ketua Yayasan Mata Air Biru.

Penyerahan Beasiswa kepada Yayasan Mata Air Biru (Foto : Firda Aulia / Teknika FTUI)

Kemudian acara dilanjutkan dengan penampilan Erwin Gutawa Orkestra yang membawakan 11 lagu, terdiri dari Overture Koes (Instrumental), Indonesia Jiwaku, Harmoni Cinta, Kolam Susu (Instrumental), Harmoni, Swarna Dwipa (Instrumental), Gita Puja Indonesia, Damai Bersamamu, Kidung Abadi, Indonesia Maharddhika, dan Syukur. Overture merupakan sepotong music yang dimainkan di awal sebuah pertunjukan dan merupakan kumpulan lagu dari grup legendaris Indonesia, Koes Plus. Alunan musik yang dimainkan begitu indah dan membuat seluruh tamu begitu menikmatinya. Terdapat pula penampilan Gita Gutawa dan Gabriel Harvianto yang menyanyikan beberapa lagu dan diiringi oleh Erwin Gutawa Orkestra. Dan tidak ketinggalan pula, Bapak Hendri juga turut memberikan penampilannya yang memukau dengan membawakan lagu Damai Bersamamu, yang merupakan lagu dari Almarhum Chrisye.

Selain orkestra, acara ini juga dimeriahkan penyanyi Gita Gutawa (Foto : Firda Aulia / Teknika FTUI)

Pada kesempatan tersebut pula, tim dari Teknika FTUI berkesempatan untuk sedikit mewawancarai Syahnaz Haque dan Erwin Gutawa, yang juga merupakan alumni dari Fakultas Teknik UI. Mereka menyampaikan bahwa selama berkuliah di FTUI kebanyakan yang dirasakan adalah keasikan dan keseruannya, tidak ada dukaya. “Asik gaada dukanya, suka semua menyenangkan,” tutur Syahnaz. “Yang keinget cuma seru banget, bersenang-senang tiap hari. Gaada duka, banyak temen.” Syahnaz juga menyampaikan bahwa yang ia ingat sampai sekarang selama berkuliah di FTUI adalah kekeluargaannya yang sangat luar biasa. Walaupun terdapat banyak anak daerah, tetapi mereka semua tetap kumpul bersama-sama menjadi satu. Jumlah perempuan yang sedikit saat itu membuat semakin terasa rasa saling menjaganya. Ia juga menyampaikan kesannya untuk FTUI yang sekarang, begitu indah luar biasa. Erwin Gutawa juga menyampaikan harapannya untuk FTUI, semoga FTUI bisa mengisi orang-orang dan karya-karya hebat yang dibutuhkan untuk negara ini agar bisa memajukan Bangsa Indonesia.

Pemberian karangan bunga kepada pengisi acara “Engineering in Symphony” (Foto : Firda Aulia / Teknika FTUI)

Erwin Gutawa bersama penulis (Foto : Firda Aulia / Teknika FTUI)

Ditulis oleh: Firda Aulia Sartika, Teknik Sipil 2015

Editor : Naufal Farras Fajar, Teknik Industri 2015



Istilah “Wibu” Yang Dipermasalahkan

Menjelang malam, seorang peserta kompetisi Stand Up Comedy dalam Teknik Cup 2018 menyanyikan lagu Anak Kambing Saya yang berasal dari Nusa Tenggara. Lirik ‘anak kambing saya ada di Pohon Waru’ diganti dengan ‘wibu-wibu teknik ada di Teknik ***’. Ia bercerita bagaimana lagu versi itu biasa dinyanyikan pada saat supporteran melawan Departemen tersebut. Ia juga menyampaikan bagaimana “Wibu itu adalah suatu penghinaan. Orang-orang menyadari itu. Masyarakat menyadari itu, bahwa wibu itu adalah penghinaan.”. Ia menyebutkan bahwa ada tiga alasan mengapa masyarakat membenci wibu. Tetapi mendadak ia gugup dan ragu. Berulang kali penonton bertepuk tangan untuk menyemangatinya. Ia pun berkata bahwa ia sedang tidak mood berbicara mengenai hal tersebut. Kemudian dia kembali pada topik sebelumnya. Ia meneruskan dengan alasan pertama yaitu wibu sendiri memiliki agenda politik besar yaitu mewibukan masyarakat. Meski belum selesai, ia menghentikan pertunjukkannya lalu meminta maaf karena tidak bisa melanjutkan atraksi dan mundur dari panggung berkarpet merah yang telah disediakan.

Diksi ‘Wibu’ mengapa bermasalah?

Bila penggemar budaya Korea Selatan lebih dikenal sebagai Kpopers, maka penggemar budaya Jepang juga akan lebih dikenal dengan sebutan Otaku atau Wibu(kadang ditulis VVibu). Otaku(お宅/御宅) sendiri merupakan istilah Jepang yang merujuk kepada rumah atau keluarga orang lain. Sejak tahun 1980an, Otaku tumbuh menjadi kata slang terhadap seseorang yang sangat menekuni sesuatu, hingga tidak mau meninggalkan rumahnya. Sedangkan Wibu berasal dari kata Weeaboo yang memiliki arti mirip dengan Wapanesse (Want to be Japanese/White Japanese/Wannabe Japanese). Istilah ini berakar dari frase-frase berikut;

日本びいき (nihon biiki) : menyukai hal berbau Jepang

日本かぶれ (nihonkabure) : penggila Jepang

日本オタク (nihon otaku) : penggemar Jepang

Pada awalnya, kata wapanesse digunakan untuk merendahkan orang berkulit putih (warga Amerika) yang menyukai budaya Jepang pada masa pasca Perang Dunia II. Terdapat sebuah perkataan, dimana negara Jepang telah membangunkan singa yang sedang tertidur saat mereka menjatuhkan bom di Pelabuhan Pearl, Hawaii. Amerika Serikat yang awalnya tidak ikut campur dan mendeportasi semua bibit komunis dan juga fasis, akhirnya memberikan serangan balik dengan cara yang sama di Nagasaki serta Hiroshima, Jepang. Sekutu (Jerman, Italia, dan Jepang) pun kalah dan Amerika Serikat menjadi tuan rumah dari markas besar Perserikatan Bangsa-bangsa.

Gambar tentang penjelasan singkat mengenai perbedaan otaku dan wibu (Sumber : quora.com)

Diciptakan dari komik Perry Bible Fellowship, kata wibu disebarluaskan melalui situs 4chan sebagai pengganti otomatis kata wapanesse. Hingga kini, muncul berbagai macam interpertasi terhadap kata-kata sifat ini. Meski melekat dengan kontroversi, kata-kata ini tak hanya telah mendunia tetapi juga telah menjadi satu dalam kehidupan sehari-hari manusia.

Apabila dilihat dari perilaku para penggemar budaya Jepang, Wibu adalah orang yang bisa dibilang “over-fanatik” terhadap segala yang berbau Jejepangan, utamanya Anime dan J-Pop. Seorang wibu dapat dilihat dari kebiasannya di sosial media yang bertaburan budaya jepang, mulai dari profile picture, album, video, bahkan nama samaran Jepang. Sekilas wibu tidak berbeda dengan otaku, namun hal yang membuat wibu tidak disukai bahkan oleh pecinta Jepang di Indonesia sendiri adalah perilakunya yang terlalu mengagung-agungkan Jepang dan mengabaikan budaya negeri sendiri. Gaya bicaranya yang mencampuradukkan bahasanya sendiri dengan kata serapan dari Bahasa Jepang seperti desu, sugoii, kawaii, dan lainnya cukup menjadi bukti bahwa semua perilakunya berkiblat pada Jepang, Jepang, dan Jepang.

Oleh karena itu, masyarakat perlu tahu bahwa tidak semua orang yang suka dengan Jepang, senang dengan penyebutan Wibu karena Wibu dianggap ekstrim. Otaku dirasa lebih familier dan ramah dibandingkan wibu karena otaku diklaim tetap mencintai budaya negeri sendiri meskipun menyukai budaya Jepang.

Ilustrasi Pecinta Jepang (Sumber: Google)

Penulis : Monica Andrea

Editor : Naufal Farras Fajar

 



Meski Sementara, Harus Tetap Nyaman: Analisa Mikro dan Makro Musala Teknik Sementara

Suasana pelaksanaan shalat Maghrib di Musala Teknik Sementara (Foto : Ahmad Aufar / Teknika FTUI)

Menghadapi meningkatnya jumlah mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia, khususnya yang beragama muslim, membuat pihak fakultas berinisiatif untuk merenovasi ruang ibadah yang telah ada agar dapat memiliki kapasitas yang sesuai. Sementara ruang ibadah yang lama menghadapi renovasi, pusat ibadah fakultas di pindahkan ke salah satu ruang yang ada di Gedung BP3.

Lokasi berwudhu jamaah pria yang berada di samping Gedung BP3 (Foto : Ahmad Aufar / Teknika FTUI)

Analisa Makro

Perubahan lokasi ruang ibadah menuju Gedung BP3 dirasa cukup tepat, sebab Gedung BP3 sendiri berada di sebelah utara Mushola Teknik (ruang ibadah yang sedang di renovasi) dengan jarak 40 meter. Perubahan posisinya yang tidak jauh membuat orang tidak kesulitan untuk merubah mental map mereka terhadap lokasi ruang ibadah. Hal ini menjadi penting sebab perubahan lokasi ruang ibadah hanya di lakukan sementara, sehingga penjagaan memori akan lokasi ruang ibadah fakultas Teknik yang lama sebaiknya tetap di jaga.

Menanggapi posisi gedung BP3 yang lebih utara (dari mushola Teknik) membuat gedung BP3 lebih dekat dengan pusat kegiatan civitas akademika Teknik. Hal ini berdampak positif yang berarti semakin mudahnya ruang ibadah di jangkau oleh penggunanya (meskipun terdapat alternatif lain). Meski berada lebih dekat dengan pusat kegiatan civitas akademika Teknik, ruang ibadah dalam gedung BP3 tetap kondusif secara tingkat kebisingan disebabkan oleh dua faktor.

Yang pertama tersedianya ruang buffer di sekeliling ruang ibadah pengganti di Gedung BP3. Yang kedua dikarenakan perbedaan intensitas penggunaan ruang di gedung BP3. Sebagai contoh, meskipun bersebelahan dengan rubem (ruang badan eksekutif mahasiswa), aktivitas peribadatan tidak banyak terganggu disebabkan adanya koridor pemisah antara rubem dengan ruang ibadah. Selain itu, rubem mulai aktif di malam hari, sedang peribadatan berakhir di isya sekitar sore hari.

Meski begitu, ruang seni tetap tidak terhindarkan dari masalah sirkulasi. Pintu barat ruang seni terletak berdekatan dengan pintu rubem dan pintu ruang net IC. Dengan jalur masuk dan keluar utama gedung BP3 terletak di sebelah barat, maka terjadi perkumpulan massa dan simpul sirkulasi yang padat saat masuk maupun keluar dari gedung BP3. Kewajiban untuk melepas alas kaki sebelum masuk ruang, membuat alas kaki terkumpul di daerah tersebut. Ditambah dengan kondisi yang lembab akibat adanya alas kaki yang digunakan untuk berwudhu membuat areal tersebut menjadi lembab, sumpek dan bau. Masalah ini biasanya memuncak pada saat waktu ibadah maghrib dan isya mengingat ruang ruang yang bersangkutan mulai meningkat intensitas penggunaannya.

Analisa Mikro

Ruang yang digunakan sebagai ruang ibadah pengganti merupakan ruang yang semula disebut sebagai ruang seni dengan posisi di sisi utara gedung BP3. Dahulunya ruang ini berfungsi sebagai pusat penyimpanan serta pewadahan kegiatan kesenian. Tidak seperti mushola Teknik yang orientasi bangunannya menyesuaikan arah kiblat, ruang seni memiliki orientasi yang menyesuaikan arah mata angin (utara, timur, selatan barat) sesuai dengan orientasi gedung BP3 dan seperti gedung – gedung Fakultas Teknik pada umumnya. Hal ini mengakibatkan penyusunan sajadah harus di lakukan secara diagonal dan menyisakan beberapa ruang yang tidak dapat digunakan.

Ruang seni memiliki bentuk persegi panjang dengan dimensi kurang lebih 15 x 8 meter. Ketika di konversi menjadi ruang ibadah, ruang seni mampu menampung sekitar 75 orang laki – laki, serta 35 perempuan yang dipisahkan oleh penyekat.

Untuk memasuki ruang seni, terdapat dua pintu yang masing masing terhubung ke ruang ibadah khusus laki – laki dan ruang ibadah khusus perempuan. Masing – masing pintu memiliki dua daun yang artinya dapat dimasuki oleh dua orang dalam satu waktu. Hal ini memungkinkan proses keluar jama’ah yang ingin meninggalkan ruang ibadah dengan masuk jama’ah yang ingin menunaikan ibadah dapat berlangsung bersamaan.

Keberadaan jendela pada seluruh sisi utara pembatas ruang seni menciptakan kenyamanan dalam kualitas beribadah. Berhubung kota depok berada di sebelah selatan garis khatulistiwa, maka posisi matahari sepanjang tahun akan dominan berada di utara. Hal itu menyebabkan masuknya sinar matahari lewat jendela yang ada di pembatas utara ruang seni, khususnya di waktu dzuhur dan ashar. Cahaya matahari ini berkontribusi pada proses menghilangkan kelembaban yang dihasilkan dari air wudhu jama’ah.

Meski terpapar cahaya matahari, ruangan seni tidak menjadi panas dikarenakan tingginya batas atas ruang (plafond) , adanya kipas angin, serta jendela yang dapat di buka. Tinggi plafond menyebabkan udara panas dapat naik ke atas sehingga areal yang digunakan untuk aktivitas manusia dapat memiliki suhu yang lebih rendah, keberadaan kipas angin dan jendela yang terbuka membantu perputaran dan sirkulasi angin yang membuat ruangan terasa lebih dingin dan segar. Apabila proses ini tidak terjadi, kemungkinan besar ruangan akan menjadi sumpek dan bau, yang tentunya mengurangi kualitas ibadah jama’ah.

Kondisi peletakan alas kaki yang sering tidak beraturan disebabkan sempitnya ruang penyimpanan (Foto : Ahmad Aufar / Teknika FTUI)

Penulis : M. Farhan Pristantyo

 



Oh Iya ? Di Teknik Cup 2018

Teknik Cup 2018 memiliki beberapa fun fact yang jarang terpikirkan oleh banyak orang. Jumat (13/04/2018), Project Officer Teknik Cup 2018, Rahmanu Aziz M’16 menceritakan beberapa hal unik dibalik Teknik Cup 2018 kepada Teknika FTUI.

Usaha Untuk Menghalau Hujan

Teknik Cup 2018 memiliki cara baru saat cuaca di FTUI mendung atau hujan. Warga FTUI tentunya pernah melihat adanya terpal biru yang menutupi seluruh lapangan basket dan lapangan futsal ketika Teknik Cup berlangsung. Berdasarkan informasi dari Rahmanu, tujuan dari adanya terpal tersebut adalah sebagai penutup lapangan ketika hujan agar lapangan tidak basah. Namun, tahukah kalian berapa harga terpal tersebut? Kedua terpal tersebut mencapai 6,2 Juta Rupiah.

“Harga terpal mencapai 6,2 Juta Rupiah untuk dua terpal, dan harganya sudah kita dinego karena tadinya lebih mahal lagi,” Ujar Rahmanu.

Selain itu, Rahmanu juga berupaya dengan cara lain yang unik untuk dilakukan. Ketika cuaca mendung, ia menyebarkan doa agar hujan reda ke seluruh grup panitia Teknik Cup 2018 dan di lapangan ketika sedang menyiapkan pertandingan Rahmanu juga mengingatkan kepada panitia-panitia lainnya untuk membaca doa.

“Kalau cuaca udah mendung, gua sebarin doa hujan ke semua grup terus saat di lapangan baca gua suruh baca satu- satu dan ganti-gantian,” ujar Rahmanu.

MPKO Bulutangkis Ditiadakan Demi Teknik Cup 2018

Fun fact lainnya yang mungkin jarang diketahi oleh warga Teknik adalah MPKO bulutangkis pernah dibubarkan dan hanya mengisi presensi saja karena cabang voli saat itu harus berjalan dan cuaca sedang mendung. Hal tersebut dapat terjadi berkat bantuan dari Bapak Betty selaku penjaga Gymnasium UI.

“Waktu pertandingan voli, karena mendung pindah ke Gym dan ketemu Betty buat minta tolong minjem Gym, terus sama Betty MPKO bultang dibubarin dan disuruh absen doang. Karena itu, gua jadi deket banget sama Betty, dan emang Betty deh Man of The Match,” jelas Rahmanu.

Tambang Putus

Kejadian unik lainnya adalah ketika tambang untuk cabang pertandingan tarik tambang putra putus dan membuat salah satu kontingen terjatuh. Menurut PO Teknik Cup 2018, hal tersebut sangat lucu dan membuatnya “ngakak”. Tambang yang putus harus diganti dengan yang baru seharga 1,2 Juta Rupiah.

“Tarik tambang putus itu hal yang paling seru, lucu banget sampe gua ngakak liat temen gua jatoh dan dibikin meme-nya. Buat tambang yang putus itu beli lagi, harganya 1,2 Juta Rupiah, untungnya RAB renang lebih 1 Juta karena gua ngikutin RAB renang tahun lalu yang 5 Juta Rupiah, ternyata sekarang 4 Juta Rupiah,” ungkapnya.

Dalam berbagai masalah yang terjadi di Teknik Cup 2018, Kepanitiaan Teknik Cup 2018 memiliki caranya sendiri dan terbilang unik dan jarang kita ketahui.

PO Teknik Cup mengungkapkan bahwa parameter yang tercapai dan antara manajer jurusan dan BPH Siwa atau Kresma tidak ada yang berselisih dan juga semua warga senang dan minat bakatnya tersalurkan merupakan kesuksesan dari Teknik Cup 2018.

“Teknik Cup yang sukses itu bukan karena gua, BPH gua, bukan karena staff gua, tapi karena kita semua,” pungkasnya.

Project Officer Teknik Cup 2018, Rahmanu Aziz M’16. (Sumber : Fardan Fikriansyah / Teknika FTUI)

Penulis: Fardan Fikriansyah

Editor: Septiana Pratama Nugraheni



2,8 Miliar Donasi Terkumpul, Renovasi Mustek Resmi Dimulai

Solidnya seluruh elemen Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) memang tidak perlu diragukan lagi. Setidaknya hal tersebut dibuktikan dengan cepatnya proses realisasi renovasi Mushola Teknik (Mustek) UI. Renovasi yang diinisiasi oleh FUSI Foundation bersama ILUNI FTUI dibantu dengan Manajemen FTUI serta mahasiswa dan pengurus FUSI FTUI hanya berlangsung dalam hitungan bulan saja. Yang tak kalah mencengangkan, Mustek yang direncanakan akan diperluas ini diproyeksikan menghabiskan dana sebesar 2,5 miliar rupiah dan kini, dana telah tercukupi bahkan berlebih hingga 2,81 miliar rupiah. Masa donasi Mustek yang dibuka resmi pada Maret 2018 tersebut telah ditutup bersamaan dengan kegiatan Tasyakuran dan Sosialisasi Renovasi Mustek di Integrated Faculty Club UI pada 24 April 2018 lalu.

“Kami mengucapkan terimakasih atas kerja keras seluruh elemen FTUI, baik dari alumni, mahasiswa, FUSI, dan juga para donatur. Saya percaya bahwa kebaikan Anda semua kelak akan Allah SWT balas di surga nanti,” ucap Dr. Ir. Hendri D.S. Budiono, M.Eng., selaku Dekan Fakultas Teknik UI 2018-2022 yang baru saja dilantik pada awal tahun ini. Tak kalah semangat, Ketua ILUNI FTUI, Teten Derichard, Ketua Umum ILUNI UI, Arief Budhy Hardono dan Dewan Pembina Fusi Foundation memberikan sambutan dan mengucapkan selamat atas terkumpulnya dana dan terealisasikannya renovasi Mustek kali ini.

Setelah dilakukan sambutan dan ucapan terimakasih, dilanjutkan sesi penjelasan mengenai grand design Mushola Teknik oleh Ghofar Rozaq Nazila selaku Ketua Umum FUSI Foundation. Ia menyampaikan bahwa Mustek nantinya akan dibuat senyaman beribadah di taman. “Jangan sampai mahasiswa hanya ke Mustek kalau mau shalat saja, tetapi Mustek harus menjadi center of excellence, baik dari segi design yang mengadopsi resort mewah, pengelolaannya yang profesional, serta teknologi yang canggih,” ujar pria lulusan Arsitektur UI yang merupakan pemilik sekaligus CEO Realife Property Group tersebut.

Mustek FTUI dilihat dari Danau Mahoni UI (Sumber: Panitia Renovasi Mustek FTUI)

Pintu Masuk Pria Mustek FTUI dilihat dari arah Kantin Teknik (Sumber: Panitia Renovasi Mustek FTUI)

Setelah diawali dengan penjelasan singkat oleh Bang Ghofar, pemaparan design Mustek yang baru secara rinci dilanjutkan oleh Cahyo Wilis Candrawan yang juga jebolan Arsitektur UI dan merupakan Design Director Pavilion 95 (perusahaan jasa konsultan arsitektur) menjelaskan bahwa proses pembangunan Mustek rencananya akan segera selesai bulan November tahun ini. Ia menjelaskan nantinya Mustek akan dibangun dengan konsep ramah lingkungan yaitu memanfaatkan panas matahari dengan alat solar cell sehingga Mustek akan mandiri dalam kebutuhan energinya. Selain itu konsep warna dan bahan bangunan akan tetap mengusung bata merah yang disusun berlubang yang identik dengan bangunan lainnya di FTUI sehingga aliran angin dapat berjalan lancar tanpa menggunakan alat pendingin ruangan tambahan. Mustek baru juga akan ditambah dengan beberapa bagian bangunan yang bercorak timur tengah. Beliau juga menuturkan bahwa danau di belakang Fakultas Teknik (Mahoni) yang selalu dipunggungi, sudah saatnya untuk dijadikan beranda depan Mustek dengan view apik nan berkelas yang menambah kenyamanan beribadah.

 

Sketsa Pembangunan Mushola Teknik FTUI (Sumber: Panitia Renovasi Mustek FTUI)

“Pembangunan ini tidak hanya berhenti sampai di sini saja, namun akan terus dilanjutkan hingga ke area tebing sekitar FT dan area sekitar danau. Sangat sayang apabila lanskap yang sangat mewah ini tidak kita manfaatkan,” tambah Bang Ghofar. Dalam kesempatan ini, ketua FUSI FTUI 2018, Ahmad Safe’i Ridwan juga menyampaikan terimakasih dan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat, karena pembangunan Mustek ini sejatinya telah dinanti-nanti oleh seluruh mahasiswa FTUI. Tidak hanya berpangku tangan, ia menjelaskan bahwa FUSI FTUI juga turut menggalang donasi dan dukungan melalui beberapa program seperti open booth Lobby K, tasyakuran bersama seluruh warga FTUI setelah shalat Jumat, dan membantu proses relokasi dari Mustek lama menuju Mushola sementara yang terletak di gedung BP3 yang biasa digunakan sebagai Ruang Seni FTUI. Ia berharap pembangunan ini dapat berjalan dengan lancar dan dapat segera dimanfaatkan oleh mahasiswa FT.

Kegiatan yang dihadiri oleh Manajemen FTUI, FUSI Foundation, ILUNI UI, ILUNI FTUI, ILUNI Departemen, YKM FEUI, Pavilion95, kontraktor pelaksana Renovasi Mustek, Perwakilan Dosen, Alumni, serta perwakilan mahasiswa dan pengurus FUSI FTUI tersebut berakhir dengan acara penandatanganan peresmian pembangunan, berfoto bersama lalu ramah tamah. Yang menarik, di akhir acara, Dr. Ir. Hendri D.S. Budiono, M.Eng. menunjukkan kebolehannya menjadi barista yang menyajikan kopi racikannya.

Dalam sejarahnya, Fakultas Teknik pertama kali memiliki Mustek pada tahun 1987 yang bertujuan untuk mengakomodir mahasiswa dalam melaksanakan ibadah. Pembangunannya pada saat itu ternyata juga didampingi oleh Arief Budhy Hardono, alumni Teknik Sipil UI ‘84 yang pada saat itu menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa FTUI periode 1989-1990. Dengan biaya yang hanya belasan juta pada saat itu, Mustek berhasil dibangun dan menggantikan ruangan kecil di pojok teknik yang biasa digunakan untuk shalat.

Peresmian Mushola Teknik UI oleh PUREK 3 UI Dr. dr. Merdias Almatsier, didampingi Ketua Senat Mahasiswa FTUI Arief Budi Hardono, Dekan FTUI Ir. Indradjid Soemarno, dan Ketua Panitia Pelaksana Yudhistira Satya Ajie pada tanggal 16 Maret 1989 (Sumber: ILUNI FTUI)

 

Ketua Panitia Pelaksana Yudhistira Satya Ajie Mesin ’84 (Sumber: ILUNI FTUI)

Pada tahun 2002-2003 Mustek diperbesar dan kembali diperbesar pada Jumat, 17 Desember 2010 yang diresmikan oleh Dekan FTUI pada saat itu, Prof. Dr. Ir. Bambang Sugiarto, M.Eng., dengan luas bangunan 225 meter persegi dan mampu menampung sekitar 250 jamaah. Oleh karena itu, 30 tahun usia Mustek telah berlalu dan pada tahun 2018 ini, rencananya pada 1 Mei 2018 renovasi Mustek dapat dimulai dan diharapkan Mustek baru ini mampu menampung sekitar 1000 jamaah dan menambah kenyamanan serta semangat mahasiswa FT maupun warga FT dalam beribadah. Renovasi kali ini sengaja tidak mengubah banyak bentuk dari Mustek lama dengan tetap mempertahankan pilar-pilar di dalamnya karena pilar tersebut merupakan bagian dari saksi sejarah perkembangan FTUI yang hingga saat ini memiliki lebih dari 5000 mahasiswa S1, S2, dan S3.

 

Penulis : Naufal Farras Fajar

 

 



Kerja Sosial FTUI 2018: Pengabdian FTUI kepada Masyarakat Desa Cikarae Thoyyibah

Anak-anak Desa Cikarae, Thoyyibah (Foto : Firda Aulia / Teknika FTUI)

Kegiatan tahunan pengabdian masyarakat, Kersos BEM FTUI, pada tahun ini akan dilaksanakan di Desa Cikarae Thoyyibah, Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi. Kegiatan ini direncanakan akan berlangsung selama lima hari, yakni 4-8 Juni 2018 dengan menargetkan beberapa proyek fisik dan non-fisik dapat terselesaikan di akhir rangkaian masa kerja sosial. Kegiatan ini disambut baik oleh pihak masyarakat desa, yakni ditunjukan dari dukungan yang diberikan oleh Kepala Desa Cikarae Thoyyibah dengan memberikan izin kepada pihak panitia Kersos FTUI 2018 untuk melangsungkan kegiatan kerja sosial di desa tersebut serta masyarakat yang memberikan dukungan dengan bersedia ikut membantu dan menyediakan tempat tinggal untuk peserta selama kegiatan di sana.

Perjalanan dari Universitas Indonesia, Depok, menuju desa tersebut dapat ditempuh melalui perjalanan darat dalam waktu 5-6 jam. Meskipun lokasi desa terletak di lereng perbukitan, akses jalan yang berbatu tidak menutup akses kendaraan beroda empat untuk sampai di lokasi kegiatan. Desa dengan jumlah penduduk ±3.400 jiwa ini memiliki area seluas 2.300 hektar dan dikelilingi oleh area persawahan  dan perkebunan. Desa ini terdiri dari 3 dusun, 7 RW dan 36 RT dimana 65% dari 930 keluarga yang ada di sana berprofesi sebagai petani. Dengan demikian, komoditas utama dari desa ini adalah padi hasil pertanian. Selain itu, masyarakat desa tersebut juga bekerja di perkebunan dan budidaya ikan.

Adapun kondisi fasilitas yang tersedia di desa tersebut masih jauh dari kata cukup untuk mendukung perkembagan desa. Dusun yang menjadi lokasi kersos tersebut hanya memiliki sebuah aula dan madrasah yang kondisinya sudah kurang terawat, seperti kondisi atap yang sudah lapuk. Sumber air bersih juga menjadi masalah di dusun tersebut, padahal dusun tersebut memiliki 3 mata air bersih. Hal ini terjadi karena distribusi air hanya menggunakan selang yang langsung menghubungkan dari sumur ke rumah warga sehingga tidak semua rumah dapat terjangkau oleh air bersih. Selain itu, akses jalan baik di dalam maupun sekitar dusun tersebut masih berupa jalan tanah dan berbatuan serta tidak ada lampu penerangan sama sekali. Ditambah lagi layanan umum seperti kantor polisi, puskesmas dan pasar berjarak cukup jauh dari desa yakni 1-2 jam perjalanan dengan kendaraan.

Oleh karena itu, pada kersos FTUI tahun ini terdapat tiga proyek fisik serta dua proyek non-fisik yang akan dilakukan. Yang pertama, yakni proyek fisik pembagunan bangunan serbaguna untuk kegiatan masyarakat desa. Proyek fisik kedua yakni pembagunan fasilitas MCK warga serta proyek fisik terakhir yakni membangun fasilitas penerangan jalan desa. Tidak lupa panitia juga memberikan fasilitas cek kesehatan gratis bagi masyarakat sebagai bagian dari proyek non fisik desa sehat serta kegiatan mengajar anak-anak desa yang akan dilakukan di taman baca desa tersebut.

Sampai saat ini, panitia sudah memulai beberapa proyek fisik di desa tersebut, yakni pembangunan bangunan serbaguna dan fasilitas MCK umum. Secara keseluruhan proyek tersebut telah mencapai progress 20% per 2 Mei 2018 dan diharapkan pengerjaannya akan selesai tepat waktu.

Salah satu proyek fisik Kersos FTUI 2018, pembangunan fondasi fasilitas MCK (kiri) dan bangunan serbaguna (kanan). (Foto : Firda Aulia / Teknika FTUI)

Menurut Kabid Humas Kersos FTUI 2018, Ahmad Fauzan “Yang bisa didapetin yakni dari sisi pengalaman, dari sisi desanya bisa didapat. Ada sisi humanis dan sisi non-humanisnya. Lingkungan kersos ini jauh lebih baik daripada yg lalu, yang sekarang indah sejuk banget. Kalo dari sisi humanis, sekarang ada publikasi kelas karena dari tahun-tahun lalu tau ada kersos tapi ga tau kersos itu apa. Akhirnya gua kasih publikasi kelas dari A-Z, bagus sampai engganya. Gua ga bisa menawarkan added value kayak yang orang janjiin pas TC, dll. Kita jadi manusia ga selamanya menuntut apa yang kita dapet tapi kita juga harus bisa ngasih. Kita nanti bakal tinggal di rumah warga, tujuan kita membantu orang, membantu orang yang ga pernah gampang. Target gua bukan memperbanyak peserta, tetapi untuk menyadarkan mahasiswa Teknik tentang pentingnya membantu sesama.”

Penulis: Ahmad Rafif

Editor: Abiyyah Wiriana

 



NGT : Sebuah Fenomena Turnamen E-Sports di FTUI

NetIC Gaming Tournament (NGT) merupakan satu-satunya wadah turnamen e-sports yang tersedia di FTUI. Walaupun hadir pada Teknik Cup atau ada beberapa IMD atau IMPI yang melaksanakan turnamen ini pada liga jurusan mereka, namun hanya NGT yang berani untuk menggarap turnamennya hingga tidak membatasi mahasiswa dari departemen yang mengikutinya, sehingga kalian bisa mengajak teman kalian dari departemen lain untuk mengikuti turnamen yang diselenggarakan NGT. NGT ini sendiri diselenggarakan oleh NetIC yang sudah dikenal menjadi pusat inovasi teknologi berbasis IT yang ada di FTUI. Pada hari Jum’at, 21 April 2018 lalu, pihak TEKNIKA sendiripun berkesempatan untuk mewawancarai PJ NGT 2018 dari NetIC yaitu dengan Aria Adhiguna (T. Komputer’15). Aria mengatakan bahwa NGT dilaksanakan karena belum adanya wadah bagi mahasiswa FTUI untuk berkompetisi khusus dalam bidang e-sports. Untuk games yang dilombakan, ada Dota 2, Point Blank, dan Mobile Legends. Walaupun games yang dilombakan terbilang sedikit, namun Aria mengatakan bahwa turnamen ini disambut positif oleh mahasiswa yang gemar bermain competitive games dengan terbukti adanya peningkatan jumlah mahasiswa yang mengikuti turnamen ini dari tahun ke tahun.

Turnamen yang sudah diselenggarakan dari Kamis, 12 April 2018 tersebut sampai saat ini masih dilaksanakan secara online. Namun, untuk babak grand final, mahasiswa FTUI dapat menonton pertandingan tersebut secara langsung di FTUI atau di warnet ‘E-Stadium’ yang terletak pada Jl. Salak atau penghubung jalan dari Akses UI ke Margonda. Untuk pendaftarannya juga tidak terlalu sulit, mahasiswa FTUI hanya perlu untuk mendaftarkan nama beserta NPM, lalu membayar uang registrasi yang ditentukan sesuai games yang ingin diikuti. Tertarik untuk mengikuti turnamen ini pada penyelenggaraan selanjutnya?

Total hadiah atau prize pool yang ditawarkan NGT juga lumayan menggoda, sebesar Rp 2.2 juta. Mungkin sebagian dari kalian bertanya “Kenapa sih main game begituan doang bisa dapet duit banyak banget?”. Sebenarnya, ada sejarah dibalik besarnya prize pool yang ditawarkan sebuah turnamen games. Sangat panjang untuk dijelaskan sehingga mungkin tidak bisa dijelaskan secara spesifik pada artikel ini.

 

 

Bermain Game : Dari Hobi Jadi Profesi

Diambil dari namanya sendiri, competitive games adalah suatu games yang pada aplikasinya tidaklah mudah untuk menjadi yang paling jago atau pro pada game tersebut. Sehingga, untuk membuktikan “seberapa jago sih elo”, diadakanlah beberapa turnamen besar untuk membuktikan tim manakah yang berhak bertanding satu sama lain untuk merebut hadiah yang sangat besar. Perkembangan e-sports sendiri sebenarnya sudah dimulai daru tahun 2000 awal dimana era warnet sangat berjaya dan game strategi seperti Warcraft dan Starcraft atau game first person shooter seperti Counter Strike sangat digemari oleh muda mudi pada era tersebut. Tentu saja games ini memang menyenangkan untuk bermain bersama teman atau kerabat, namun tidaklah mudah untuk menguasai game ini. Secara game yang kalian mainkan membutuhkan ketelitian dan ketelatenan yang sangat tinggi atau hingga kordinasi tim yang sangat kompak. Tentu saja games yang dilombakan adalah games yang sangat kompleks sehingga untuk mempelajarinya sendiri bisa-bisa kalian bisa mendapatkan gelar Sarjana Games alias kalian butuh wawasan yang luas dan waktu yang lama untuk memahami games yang kalian tekuni. Tentu saja semua itu dapat dibayar dengan hadiah berupa uang tunai yang lumayan besar. Pada awalnya prize pool yang ditawarkan tidak terlalu besar. Namun, lama-kelamaan banyak sekali pemain yang melihat bahwa bermain games bisa menjadi lahan mencari uang yang sangat menggiurkan.

Hingga pada era digital ini, dari pemain pro hingga klub sepak bola mulai menginvestasikan sebagian sahamnya untuk membentuk tim profesional. Puncaknya saat salah satu game developer bernama Valve’ pada tahun 2017 memecahkan rekor prize pool terbesar dalam sejarah competitive games dengan total hadiah sebesar US$ 20.8 miliar atau setara dengan Rp 288 miliar. Namun, ya, sekali lagi semua uang itu hanya bisa kalian dapatkan apabila benar-benar menekuni games tersebut. Bahkan pada beberapa kasus di Amerika Serikat, seorang pro player bernama Ludwig ‘zai’ Wåhlberg yang sudah memperoleh uang sebesar US$ 1.5 juta sepanjang karirnya memutuskan untuk cuti dari sekolahnya selama setahun untuk menekuni e-sports. Kabar baiknya adalah ia tidak drop-out dan berhasil lulus. Ada beberapa pro player yang drop-out demi menekuni karirnya di bidang e-sports namun tidak sedikit yang lulus dengan bachelor degree. Kalau mau dengerin saran dari BPH Akademis dan Profesi BEM FTUI 2017, kalau mau banyak main games, belajarnya juga diperbanyak ya!  

Professional Gamers Luar Negeri Lebih Menjanjikan

Tiga games yang dilombakan oleh NGT mungkin tidak asing didengar oleh mereka yang gemar atau bahkan sering mengikuti competitive trend dari online gaming. Sejak era digital, masyarakat tidak perlu ke warnet hanya untuk mencari koneksi internet dikarenakan untuk bermain games pun sekarang bisa dimana saja dan kapan saja. Untuk trennya sendiri, di Indonesia sekarang sedang demam dengan games seperti Dota 2, Counter Strike: Global Offensive, Mobile Legends, dan Point Blank. Jika dibandingkan dengan tren dari luar negeri seperti Europe, North America (NA), Commonwealth of Independent States (CIS/daerah di sekitar Russia), South East Asia, dan China. Competitive games yang ditawarkan jauh lebih luas dan bervariatif dibandingkan di Indonesia. Contoh saja seperti Tekken 7, League of Legends, Vainglory, PlayerUnknown’s BattleGround, Fortnite, Street Fighter, hingga Clash Royale. Semuanya dilaksanakan dengan prize pool yang sangat besar sehingga menjadi professional gamers di luar negeri adalah pilihan karir yang sangat menjanjikan. Selain itu, professional gamers di luar negeri juga dihargai sangat tinggi dimana banyak tim yang akan mensponsori professional gamers dengan gaji dan tunjangan yang sangat besar. Tentu mereka direkrut untuk memberikan sponsor mereka keuntungan dari bermain games dengan memenangkan (atau setidaknya menghasilkan uang) dari turnamen yang ada dan untuk menjadi professional gamers pun juga bukan hal yang mudah. Apabila kamu mengira menjadi professional gamers hanya dengan bermain games setiap hari tanpa melakukan hal lainnya. Well, sebaiknya urungkan niat kamu. Masa depan engineering lebih menjanjikan daripada menjadi seorang professional gamers.

 

 

Penulis : Mohamad Farhan

Editor : Naufal Farras Fajar



Faza dan Program Kita Teknik

Penganugerahan mahasiswa berprestasi tingkat UI yang diadakan di Balai Sidang pada Malam Apresiasi Prestasi Mahasiswa UI 2018 di Balairung UI kampus Depok, pada Jumat (6/4). (Foto : Humas UI)

Menjadi Mahasiswa Berprestasi (Mapres) Fakultas Teknik Universitas Indonesia bagi seorang Faza Fakiha Taqwa merupakan suatu Anugerah terbesar dari Tuhan dan salah satu best moment yang tidak akan dilupakan sepanjang hidupnya. Impiannya menjadi seorang Mapres FTUI tentunya berasal dari motivasi diri pribadi serta dorongan dari para dosen.

Motivasi itu muncul ketika ia sudah menjadi mahasiswa tingkat dua. Ia ingin menjadi seorang influencer bagi mahasiswa yang bisa membawa orang-orang ke arah yang lebih baik. Faza berharap sebagai seorang perempuan harus dapat menjadi perempuan yang baik, cantik, pintar, dan juga berprestasi.

Berbagai persiapan dilakukan untuk dapat meningkatkan value dirinya agar dapat menjadi Mapres FTUI, mulai dari mengikuti perlombaan tingkat Nasional, perlombaan tingkat Internasional, hingga mengikuti berbagai Conference di 6 negara dalam satu tahun. Berbagai tantangan pun harus dihadapi olehnya mulai dari merasa capek, sering mengalami kegagalan, kalah dalam berbagai lomba, dan tantangan-tantangan lainnya. Namun, tantangan dan kegagalan tersebut tidak membuat dirinya berputus asa, malah ia jadikan motivasi agar dapat lebih semangat dan pantang menyerah. Karena, menurutnya, dalam dunia nyata, orang yang sukses merupakan orang yang dapat survive dan bertahan ketika menghadapi kegagalan dalam hidupnya.

Untuk menjadi Mapres FTUI, Faza harus melalui berbagai rangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FTUI. Rangkaian seleksi Mapres FTUI tahun ini dimulai dari training atau pelatihan, mulai dari training penulisan karya tulis ilmiah, training bahas Inggris, dan training presentasi. Kemudian, setelah diberikan training, dilakukan tahap seleksi yang diawali dengan pengumpulan karya tulis ilmiah, kemudian presentasi karya tulis ilmiah, dan selanjutnya tes kemampuan bahasa Inggris dari setiap calon mapres. Menurut Faza, dari seluruh rangkaian kegiatan seleksi mapres ini, tes kemampuan bahasa Inggris merupakan rangkaian yang paling berkesan. Karena dalam rangkaian ini, terdapat berbagai macam topik, kemudian setiap calon mapres harus mengambil satu topik secara random dan selanjutnya mereka harus speech terkait topik yang dipilih tersebut on the spot. Selain tes kemampuan dalam speaking bahasa Inggris, calon mapres juga harus mengikuti tes kemampuan writing dalam bahasa Inggris. Tema dalam tes writing ini yaitu “Apa yang akan kamu lakukan jika kamu terpilih menjadi seorang Presiden RI?”. Lucunya, tulisan Faza dalam tes writing ini bukanlah berisi mengenai keinginannya untuk menjadi seorang Presiden RI, melainkan ia malah menulis keinginannya untuk menjadi seorang istri Presiden RI.

Terkait topik karya tulis ilmiah, Faza membuat suatu karya ilmiah yang berisi tentang suatu program yang diberi nama “Program Kita Teknik”. Program ini terinspirasi dari Nadeem Makarim dan timnya yang dapat membentuk serta membangun perusahaan berbasis teknologi yaitu gojek di Indonesia, yang dapat membuka kurang lebih 200.000 kesempatan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia. Latar belakang program ini yaitu bagaimana kita sebagai mahasiswa Teknik yang selalu dituntut untuk selalu berinovasi, serta menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa dengan mengarah kepada technopreneurship, yaitu berwirausaha dengan berbasis teknologi. Program ini diharapkan selain dapat membantu memberikan modal kepada para mahasiswa yang ingin berwirausaha , juga dapat memberikan pendampingan kepada calon pengusaha technopreneurship tersebut.

Pertama, calon pengusaha technopreneurship harus memiliki ide atau penelitian terlebih dahulu yang sudah terjamin dan berada pada tingkat kesiapan teknologi yang sudah mapan. Kemudian ide atau penelitian tersebut dapat didaftarkan ke dalam Program Kita Teknik. Selanjutnya akan dilakukan proses penyaringan untuk menentukan ide atau penelitian yang akan diberikan pendampingan dalam program kita Teknik.

Ide atau penelitian yang lolos seleksi akan diberikan pendampingan pada saat liburan semester genap atau saat semester pendek. Alasan waktu proses pendampingan dilakukan saat liburan semester genap atau saat semester pendek yaitu agar para calon pengusaha technopreneurship dapat fokus dalam mengikuti program ini serta fokus untuk mengembangkan bisnisnya tersebut. Program ini juga akan mengkolaborasikan antara calon pengusaha yang merupakan pemilik ide dengan orang yang dapat membantu memasarkan ide tersebut sehingga dapat diterima oleh para customer. Salah satu media dalam proses penyampaian materi tentang bisnis dalam program ini yaitu dengan menggunakan serious simulation games. Dalam proses pelatihan ini, akan terdapat pembagian divisi dalam 1 tim (CEO, marketing, finance, operational, dan divisi lainnya sesuai pembagian jobdesc dalam tim bisnis pada umumnya). Sehingga setiap individu dalam tim akan dilatih sesuai dengan core competence-nya masing-masing.

Setelah mengikuti proses pelatihan selama kurang lebih dua bulan, setiap tim akan diminta untuk membuat proposal bisnis. Proposal bisnis tersebut akan diikuti dalam berbagai perlombaan terkait perlombaan bisnis, dengan tujuan agar memperoleh saran, masukan, serta input yang membangun dari para expertise atau para ahli terkait ide bisnis yang mereka bawa, sehingga ide bisnis technopreneurship tersebut akan semakin settle dan mapan. Setelah ide bisnis technopreneurship dinilai telah settle, maka ide bisnis tersebut akan dimasukkan ke dalam venture capital seperti Direktorat Inovasi dan Inkubator Bisnis UI (DIIB UI) agar dapat diberikan bantuan modal sehingga bisnis tersebut dapat benar-benar dijalankan. Harapannya dengan banyaknya bisnis-bisnis technopreneurship yang dijalankan di Indonesia, maka dapat membuka lapangan pekerjaan baru sehingga dapat mengurangi jumlah pengangguran di Indonesia terutama pengangguran yang berasal dari lulusan Sarjana.

Melalui karya tulis ilmiahnya yaitu tentang Program Kita Teknik inilah, Faza dinyatakan sebagai Mahasiswa Berprestasi Fakultas Teknik Universitas Indonesia tahun 2018. Kesan yang dirasakan olehnya ketika dinyatakan sebagai Mapres FTUI 2018 pada acara Malam Apresiasi Teknik yaitu sangat terharu.

“Iya jadi terharu banget, ini merupakan best moment yang gak akan bisa dilupain. Terus gue langsung peluk nyokap jadi semakin terharu,” ucap Faza sambil tersenyum.

Setelah menjadi seorang Mapres FTUI, Faza merasa senang karena dapat lebih bermanfaat bagi orang banyak. “Sekarang jadi makin banyak kerjaan sih, tapi Alhamdulillah seneng karena bisa makin bermanfaat buat orang lain, buat Fakultas Teknik, dan buat UI juga,” ujar Faza ketika ditanya kesan setelah menjadi Mapres FTUI 2018.

Apresiasi warga Fakultas Teknik atas pencapaian Faza Fakiha dalam ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Tingkat UI tahun 2018 (Sumber : Official Account Line BEM FTUI 2018)

Menurut Faza, menjadi Mahasiswa Berprestasi itu bukan untuk menjadi suatu kebanggaan di kampus, melainkan bagaimana kita dapat mendorong dan memotivasi diri kita sendiri untuk menjadi mahasiswa yang terbaik untuk Indonesia, menjadi mahasiswa yang dapat menginspirasi orang lain, dan dapat memberikan manfaat seluas-luasnya. Karena prinsip hidupnya yaitu sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang dapat bermanfaat bagi orang lain.

“Pesan gue yaitu jangan pernah berhenti buat mencoba, karena kampus itu adalah laboratorium kegagalan. Walaupun kita berkali-kali gagal, merasa capek, tapi kegagalan itulah yang akan menguatkan diri kita untuk menghadapi kehidupan nyata setelah kehidupan kampus yaitu dunia pasca kampus. Coba segala hal yang positif, gali potensi diri yang kalian punya. Kita harus punya patokan masing-masing. Kalian harus cari formula kesuksesan kalian sendiri, untuk menentukan berapa kali kalian harus mencoba untuk dapat meraih suatu kesuksesan,” pesan Faza kepada seluruh mahasiswa FTUI.

 

Penulis : Fariz Setyana



Kantek Show: Tahta Juara Ada di Mesin

Mesin Juara Kantek Show

Kantek Show Semester Genap pada Senin (23/4/2018) berlangsung di Kantin Teknik. Departemen Teknik Mesin memenangkan pertandingan band yang biasanya digelar di Kantek ini. Suporter dan penonton dari Mesin (DTM) dan Elektro (DTE) terlihat memenuhi ruangan kosong di Kantek saat band dari departemen masing-masing menunjukkan penampilannya.

Kantek Show dimulai sekitar 18.30 WIB, dengan DTM tampil terlebih dahulu. Kantek Show dijeda sekitar pukul 19.00 dikarenakan azan Isya. Sekitar 3 menit dari penampilan DTE, pembawa acara Kantek Show mengumumkan pemenang. Pada saat suporter DTE mulai membubarkan diri, suporter DTM yang berdiri di Kantek dekat Lapangan Teknik (Laptek) langsung bergerak ke tengah panggung dan meneriakkan yel-yel “Mesin, Mesin, Kami Anak Mesin! Solidarity Forever, itu moto kami”. Tak lama kemudian, lampu Kantek yang sempat mati kembali dinyalakan, seiring dengan pemberian penghargaan kepada peserta Kantek Show.

Sepanjang Kantek Show berlangsung, terlihat suporter dan penonton yang mengikuti alunan musik dari kedua band departemen sambil bernyanyi, tepuk tangan, hingga ada yang digendong agar dapat melihat lebih tinggi. Beberapa kali antar penonton saling menyenggol dan bergoyang.

Pada Kantek Show final di semester genap 2017/2018, DTM membawakan lagu Somebody To Love dari Queen dan Knights of Cydonia dari Muse. Sementara itu, DTE membawakan lagu Love Song dari The Cure dan Aku Cinta Dia dari Chrisye.

Sumber: Official Account Line IMM FTUI dan IME FTUI

Penulis: Misael Satrio

Editor: Naufal Farras Fajar



Tim UI Juara 1 EFICn UPH 2018 : Ini Semua Berkat Doa

Kamis, 5 April 2018, UI kembali memenangkan kompetisi 10th Engineering Festival and Compeition (EFICn) UPH. Setelah dua tahun lalu mendapatkan juara 2 dan 3, tahun ini tim dari Teknik Industri Universitas Indonesia yang terdiri dari tiga orang mahasiswa bernama Arie Chandra (Arie), Naufal Allaam Aji (Naufal), dan Resha Rafizqi Bramasta (Bram) berhasil mendapatkan prestasi yang memuaskan, yaitu Juara 1 mengalahkan kelima finalis lainnya, yaitu ITB, UGM, UBAYA, dan UB.

Kemenangan ini bukanlah kemenangan yang terjadi begitu saja, Naufal menjelaskan bahwa berbagai persiapan dilakukan, mulai dari belajar bersama, pembagian tugas yang dilakukan berdasarkan pemahaman masing-masing laboratorium – Naufal dan Bram merupakan asisten lab dari Statistic and Quality Engineering, sedangkan Arie merupakan asisten lab dari Systems Engineering Modelling and Simulation– serta pembagian mata kuliah dasar Teknik seperti Kalkulus, Fisika Dasar, Menggambar Teknik, serta Material Teknik. Bram menjelaskan bahwa sharing pengalaman senior memegang peranan penting dalam prestasi yang didapatkan, karena dengan mengetahui pengalaman-pengalaman dan proyeksi materi yang akan keluar, akan membuat tim lebih siap dalam menghadap berbagai tahap di kompetisi ini.

Selain persiapan intensif yang dilakukan, anggota tim menjelaskan bahwa awalnya mereka takut untuk mengikuti lomba ini karena biaya yang cukup tinggi di awal kompetisi dan waktu perlombaan yang dekat dengan Ujian Tengah Semester (UTS). Namun, mereka tak patah arang, mereka mencoba menyelesaikan seluruh tugas akademis di awal waktu sehingga mendekati perlombaan, mereka dapat benar-benar fokus dengan kompetisi ini. Anggota tim juga memiliki motivasi terpendam untuk memenangkan perlombaan ini setelah sebelumnya mengalami beberapa kegagalan di lomba serupa, seperti ISEEC UI dan INCHALL ITS. “Kita bukan orang yang sekali lomba langsung juara dan kita sering banget gagal di beberapa lomba. Tapi itu nggak membuat kita berhenti mencoba. Dan kita yakin usaha nggak bakal mengkhianati hasil, jadi jangan takut untuk mencoba dan jangan takut untuk kalah,” pesan Naufal kepada tim TEKNIKA.

EFICn UPH 2018 kali ini mengusung tema “Ensuring Quality in Consumer Goods” dan terdiri dari tiga stage. Stage pertama adalah tahap penyisihan dimana peserta diminta untuk mengerjakan soal pilihan ganda dan esai. Kemudian di stage kedua yang bertajuk Industrial Exploration, peserta diminta untuk mengerjakan beberapa mata kuliah Teknik Industri serta cerdas cermat dalam beberapa pos. Di stage ketiga, peserta ditantang untuk mencoba mencari solusi terbaik dari study case sebuah perusahaan penghasil oil dan wax. “Jadi kita cuma dikasih waktu dari jam 4 sore sampe setengah 2 pagi, tapi udah harus jadi laporan dan presentasi. PPT kita baru bikin di menit-menit terakhir, terus laptop ngehang, internet mati. Meskipun kita kira kok banyak cobaannya, tapi ternyata selesai juga, hehe,” ujar Arie. Dalam penyelesaian masalahnya, tim UI mencoba untuk melakukan penarikan dan pemecahan masalah yang berbasis pada data dan solusi yang relevan. Menurut mereka, perusahaan yang menjadi studi kasus adalah growing company sehingga mereka fokus pada solusi yang sederhana dan aplikatif. Salah satunya adalah pembuatan tata letak pabrik dan pemisahan divisi operasional dan K3 untuk meningkatkan produktivitas kerja perusahaan tersebut.

“TI memang punya kelebihan untuk business case, seperti membuat alur. Jadi kita cukup beruntung kuliah di TIUI. Competitive advantage kita disitu, kita nggak pernah mengandalkan untuk mengganti SDM, tapi mementingkan gimana SDM itu dapat improve bukan karena dimotivasi dari segi insentif finansial saja, namun karena iklim kerja yang diperbaiki menjadi lebih nyaman,”, jelas Bram, “dan tentu produktivitas akan naik karena rasa aman pekerja pada Teori Maslow itu sangat penting,” tambah Naufal.

Kemenangan tim UI dalam kompetisi ini juga tidak terlepas dari doa-doa orang terdekat. Tim UI menjelaskan bahwa di setiap sesi sebelum memulai, mereka selalu berdoa bersama. Bram menjelaskan bahwa doa itu sangat penting, seperti ketika di stage ketiga mereka merasa bahwa kurang beruntung, namun ternyata hasil berkata lain dan semua itu berkat doa. “Semua berada di tangan Tuhan,” tutup Bram.

Penyerahan hadiah pemenang (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Penulis : Naufal Farras Fajar – TEKNIKA FTUI 2018



Kisah di Balik TC #1 : Teknik Cup Basket Tanpa Suporteran

Teknik Cup memiliki beberapa cerita unik di setiap tahunnya, baik dari sisi kontingen (pemain pada pertandingan olahraga, penampil pertandingan seni), panitia, ataupun suporter. Teknika akan menyajikan kisah-kisah menarik seputar Teknik Cup hanya di teknikaftui.net , website Teknika.

 

Suasana yang tidak begitu ramai dalam pertandingan bola basket DTK vs DTMM (Sumber : Dokumentasi Teknika)

Rabu (12/4) malam sekitar 22.00 WIB, suara riuh rendah suporter pertandingan basket di Lapangan Teknik (Laptek) Belakang mendadak hening. Suara pelatih dan sebagian kontingen memberikan arahan kepada temannya yang bermain basket terdengar sangat jelas. Spanduk-spanduk suporter mulai dicopot sementara pertandingan tetap berjalan, baik yang diikat pada pagar Laptek ataupun yang dipegang suporter. Sebagian suporter bahkan membubarkan diri dan meninggalkan Laptek.

Beberapa orang yang baru datang ke Laptek kebingungan lantaran tidak ada suporteran sama sekali. Beberapa yang meninggalkan Laptek untuk urusan lain dan kembali juga heran, lantaran pertandingan antara Teknik Kimia (Tekkim/DTK) dan Teknik Metalurgi dan Material (Metal/DTMM) sebelumnya juga diwarnai balas-membalas yel-yel suporteran. Menjelang akhir pertandingan cabang Basket Putra antara DTK dan DTMM, suporteran dihentikan oleh panitia Teknik Cup (TC) yang berjaga di dekat meja dan kursi skor.

Penghentian suporteran ini bukan tanpa alasan. Sebelum suporteran diheningkan oleh panitia TC, terdapat seorang kontingen dari DTK yang mengalami cedera hingga harus dibawa ke rumah sakit. Akibat terjatuh dan menghantam permukaan Laptek, Bhagaskara (TK’15) mengalami cedera dislokasi pada tempurung lutut, sehingga harus segera dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut. Pada saat suporter sudah diheningkan, Bhagas sudah dibawa ke RSU Bunda Margonda, Beji, Depok.

Tidak lama setelah insiden yang menimpa Bhagas, suporter dari pihak DTMM dan DTK terdiam. Suporter dari kedua departemen menyalakan flash light pada telepon seluler masing-masing, kemudian menyanyikan “We love you Bhagas, we do, ooh Bhagas we love you” dengan tempo pelan. Pada saat itu, Bhagas yang ditandu oleh tim medis dan sebagian perwakilan DTK meninggalkan lapangan. Pertandingan berjalan tanpa yel-yel suporter untuk menghormati insiden tersebut.

Saat pertandingan selesai, terdengar yel-yel “Terima kasih, kontingen Tekkim” dan “Terima kasih, kontingen Metal”, kemudian disusul yel-yel departemen, dengan suara yang tidak terlalu keras seperti biasanya. Pertandingan yang dimenangkan oleh DTMM tersebut berakhir dengan skor 20-8.

 

Penulis : Misael Satrio



Wajah Baru PGD UI : Bukan Petroleum Gas Days

 

Pada tahun ini, PGD UI ke 14 memberikan sedikit sentuhan yang berbeda. PGD yang sebelumnya bernama “Petroleum Gas Days” bertransformasi menjadi “Process Engineering Energy Days” yang memiliki cakupan tema lebih luas mengenai energi dibandingkan sebelumnya yang hanya bercakupan tentang migas. Hal ini dikarenakan PGD ingin menyesuaikan dengan core competence Teknik kimia, yakni sebagai insinyur proses. PGD UI 2018 memiliki harapan untuk melahirkan generasi yang dapat menyelesaikan permasalahan sustainability melalui industri kimia maupun energi.

“Karena menyesuaikan core competence Tekkim, karena sekarang core competence-nya process engineering bukan petrogas lagi. PGD kemarin itu diselenggarakan oleh 4 lembaga DTK bukan hanya IMTK tapi sama KPD-KPD juga. Dengan gitu, jadi jangkauan untuk publikasi bisa lebih luas karena ada jaringan dari IATMI, SPE dan SBE. Beda dengan tahun lalu, tahun ini full dilaksanain sama 4 lembaga dari perencanaan sampai eksekusinya” ujar Bagas Zaki Muhammad, kepala bidang IPTEK IMTK 2017, salah satu steering commitee acara tersebut pada Sabtu lalu (7/4/2018).

SE-MUN, Fakultas Hukum, Universitas Indonesia (Sumber : Dokumentasi PGD UI 2018)

Terdapat berbagai variasi acara yang diikuti oleh total 459 peserta dari 7 negara yakni Chemical Product Design Competition (CPDC), Petroleum Integrated Smart Competition (Petronation), International Student Paper Competition (Inspect), International Student Energy MUN (SE-MUN), serta National Seminar. Peserta tidak hanya dari universitas ternama di Indonesia, tetapi juga dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM), Universiti Teknologi PETRONAS (UTP), PetroVietnam University, University of Moratuwa Sri Lanka, National Institute of Technology Calicut India (NIT Calicut), University of Petroleum and Energy Studies India (UPES), Vellore Institute of Technology India (VIT University), Ufa State Petroleum Technological University Russia (USPTU), Central Philippine University, De Lasalle University Philippine, dan University of Asia and the Pacific Philippine.

Suasana Networking Night, Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk, Tebet, Jakarta (Sumber : Dokumentasi PGD UI 2018)

Inspect merupakan salah satu gebrakan baru yang ada pada PGD tahun ini, yang bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan global dengan solusi inovatif berdasasrkan kompetensi. Hal baru lainnya adalah Networking Night, . Adian, Vice PIC of Transportation PGD UI 2018 mengatakan bahwa peserta dari acara PGD memberikan ulasan yang baik terhadap diadakannya Networking Night dan dirasa menarik karena pesertanya yang dari berbagai negara.

Berdasarkan penilaian juri, dari 280 peserta, UGM berhasil menyabet 2 posisi teratas untuk kategori CPDC, dengan tim-nya BUMDest, sebagai juara 1, dan Gama Struvite sebagai juara 3. Posisi juara kedua diisi oleh tim PureKeun dari ITB dan UI mendapatkan posisi juara favorit oleh tim Spiracle. UGM kembali meraih tempat pada lomba Inspect yang diikuti oleh peserta dari berbagai negara seperti Indonesia, Malaysia, India, serta Russia. Tim ENER-GREEN dari UGM berhasil mengalahkan tim Alpha-Q dari UTM, Malaysia, yang menempati posisi kedua, dan tim Aygyul dari USPTU, Russia yang menjajaki peringkat ketiga. Lomba ini tidak kalah menghadirkan juri-juri dari perusahaan ternama seperti Pertamina, Gaffney, Cline and Associates Singapore, dan SKK Migas.

Pemenang International Student Paper Competition (Sumber : Dokumentasi PGD UI 2018)

Universitas Indonesia sendiri meraih kemenangan pada lomba SE-MUN yang diwakilkan oleh Abdurrahman Al-Fatih Ifdal sebagai kategori Best Delegates. Lomba yang diselenggarakan di Fakultas Hukum, Universitas Indonesia ini menggarap teknis simulasi konferensi global dimana setiap peserta akan merepresentatifkan peran negara yang berbeda untuk mendiskusikan solusi dari permasalahan-permasalahan global melalui debat, dialog, serta diskusi berdasarkan perspektif negara masing-masing.

Pengetahuan mengenai aspek teknis maupun non-teknis perusahaan migas diuji pada lomba Petronation, yang merupakan lomba cerdas cermat dengan peserta tahun ini sebanyak 60 pendaftar. Universitas Indonesia menyabet 2 peringkat teratas pada lomba ini dengan tim UI B sebagai peraih peringkat kedua, dan tim UI A sebagai juara ketiga. Pada tahun ini Petronation kembali dihadirkan setelah absen dari PGD tahun 2017 lalu.

Acara ini ditutup dengan Gala Dinner dan pengumuman pemenang di Ballroom Sheraton Grand Gandaria City Hotel, (17/03). Sultan Shiddiqi selaku Ketua Umum IMTK FTUI 2018, Ezhilrasan Loganathan selaku Brand Manager of P&G, dan Susan P Chen dari Accenture turut ikut serta memberikan sambutan pada Gala Dinner. Acara ini juga dimeriahkan dengan penampilan dari Rangga Mahesa yang kemudian dilanjutkan dengan pemberian hadiah kepada para pemenang lomba.

PGD UI 2018 mendapat banyak tanggapan yang cukup positif dari pesertanya. “Saya sudah beberapa kali ikut presentasi paper bahkan yang EO-nya bukan mahasiswa, tapi saya ingin menanggapi bahwa PGD UI benar-benar professional, mereka menyelenggarakan lomba tidak main-main. Menyediakan juri juga tidak asal-asalan. Saya senang, walaupun harus menempuh perjalanan sehari semalam ke Indonesia.” ujar Ayugyul Shadrina, salah satu peserta dari USPTU Russia.

 

Penulis : Talitha Zada Gofara

Editor : Ican & Sabiq Mufarrid



Bekerja Sama dengan Telkomsel, Sepeda Kuning Kini Tersedia dalam Aplikasi

Uji coba Sepeda Kuning (Sumber : http://www.dppf.ui.ac.id)

Depok, 14 Maret 2018 – Universitas Indonesia mengadakan bike sharing untuk melakukan uji coba aplikasi Sepeda Kuning (Spekun). Universitas Indonesia bekerja sama dengan Telkomsel untuk mewujudkan aplikasi Spekun yang sudah kompatibel dengan Android ini. Aplikasi ini memanfaatkan teknologi NB-IoT yang membuat Telkomsel menjadi yang pertama melakukan komersialisasi teknologi NB-IoT (Narrow Band Internet of Things) di Indonesia. Internet of Things adalah konsep memindahkan data dari suatu objek ke objek lain melalui jaringan tanpa perlu adanya interaksi dengan manusia. Konsep ini diuji coba melalui kerja sama dengan Universitas Indonesia melalui model transportasi kampus yang sudah lama digunakan, yaitu Spekun.

 

Konsep yang ditawarkan dalam bike sharing generasi 4+ ini adalah peminjaman sepeda berbasis aplikasi ponsel pintar, dengan didampingi penyediaan tiang atau dok parkir berbasis radio-frequency identification (RFID) , sehingga sepeda hanya bisa diparkirkan pada dok parkir tersebut. Penggunaan aplikasi memudahkan konsumen dalam meminjam sepeda, sedangkan parkiran khusus menjaga sisi keamanan dan kerapian penempatan sepeda.

 

Dengan bekerja sama dengan UI sebagai salah satu institusi pendidikan terkemuka di Indonesia, Telkomsel mendemonstrasikan pengembangan uji coba bike sharing pertama di Indonesia yang menggunakan teknologi NB-IoT. Bike sharing adalah sebuah konsep layanan peminjaman sepeda kepada publik dalam jangka waktu tertentu dari satu titik lokasi ke titik lokasi lainnya. Teknologi yang diterapkan pada ekosistem Spekun  di Kampus UI Depok tersebut adalah teknologi bike sharing generasi keempat plus (4+) yang merupakan penyempurnaan dari sistem bike sharing generasi keempat. Teknologi ini adalah bentuk evolusi sistem bike sharing manual dari generasi sebelumnya.

Uji coba Sepeda Kuning dengan desain baru di Perpustakaan UI (Sumber : jawapos.com)

 

Sepeda kuning yang kita biasa sebut sebagai Spekun sudah berada di Universitas Indonesia sejak tahun 2008, termasuk salah satu pertimbangan dalam menjadikan Universitas Indonesia sebagai green campus dan juga sebagai bagian dari komitmen kampus Universitas Indonesia. Berkat langkah ini UI menjadi salah satu kampus dunia yang masuk dalam daftar Green Metric World University Rankings. Pada tahun 2018 UI berada di peringkat 23 dunia.

Desain baru Spekun berbasis IoT (Sumber : inet.detik.com)

Aplikasi yang terdapat dalam sistem Spekun adalah aplikasi Android Spekun yang dilengkapi dengan perangkat smart lock yang terdapat dalam sepeda. Sistem ini sudah kompatibel dengan teknologi NB-IoT yang memungkinkan seluruh Spekun berkomunikasi dengan server operator sepeda secara efisien, sehingga sistem operasi Spekun dapat berjalan dengan efektif. Dari sisi pengguna, penggunaan aplikasi ini memudahkan pengguna dalam melacak ketersediaan jumlah Spekun yang ada di dok terdekat dengan pengguna.

Fitur yang tersedia dalam aplikasi Spekun yaitu informasi tentang lokasi sepeda, hub tiang parkir terdekat, dan jumlah sepeda yang tersedia di tiap hub. Untuk saat ini baru tersedia tiga spot, yakni di Stasiun UI, Stasiun Pondok Cina, dan Perpustakaan UI. Jumlah sepeda yang tersedia pada awal-awal adalah 20 unit. Selanjutnya akan ada penambahan sepeda sampai 840 unit yang ditargetkan tercapai di awal tahun 2019, seperti yang dikatakan oleh Rektor UI Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis, M.Met.

 

 

Penulis : Vania Salsabila

Editor: Misael Satrio dan Muhammad Farhan Pristantyo



Teknik Menjadi Internasional dengan MUN

Delegasi dari Universitas Indonesia telah membawa pulang enam penghargaan untuk ‘Verbal Commendation’ di kompetisi Harvard World Model of United Nation 2018. Harvard World MUN adalah kompetisi MUN terbesar di seluruh dunia, dengan partisipasi sekitar 1500 mahasiswa dari seluruh dunia. Tahun ini, kompetisi diadakan di Panama City, Panama pada tanggal 12-16 Maret 2018. Ya! Tepat! Dua dari penghargaan ini diberikan kepada perwakilan Fakultas Teknik; Alfredo Adianto (M’14) dan Muhammad Naufal Lubis (M’14).

MUN: Prosedur dan Sistem

MUN mensimulasikan pertemuan PBB sebenarnya. Delegasi atau peserta memilih suatu topik (biasanya masalah dunia) di mana mereka kemudian akan memberikan solusi. Mereka akan memberikan pidato kepada seluruh dewan dan harus mempertahankan posisi mereka melalui perdebatan dan sesi tanya jawab dalam batas waktu. Tulisan atau resolusi harus diserahkan pada babak seleksi juga.

Ada dua jenis penghargaan yang diberikan di MUN; penghargaan individu dan delegasi. Ini diberikan berdasarkan konferensi terkemuka yang menawarkannya. Penghargaan Delegasi biasanya berupa; Delegasi Terbaik, Delegasi Luar Biasa, dan Delegasi Terhormat. Sedangkan Penghargaan Individu adalah; Pembicara Terbaik, Negosiator Terbaik, dll. Ada banyak variasi lainnya. Harvard World MUN memberikan Penghargaan Diplomasi untuk penanganan hubungan dan kemitraan yang elegan. Harvard World MUN mencari delegasi yang paling diplomatis. Mereka melihat empati, semangat dan dorongan, kepemimpinan yang karismatik, positivisme, dan lebih banyak lagi dalam sebuah delegasi.

Edo dan Naufal bersama peserta lain dari berbagai negara (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

 

Ada tiga jenis komite atau dewan; General Assemblies (Pemula), Komite Khusus (Menengah), dan Komite Krisis (Tinggi). Berikut adalah beberapa divisinya:

Komite Pemula:

  • Economic and Finance Committee (ECOFIN)
  • Disarmament and International Security Committee (DISEC)
  • Social, Humanitarian, and Cultural Committee (SOCHUM)
  • Special, Political, and Decolonization Committee (SPECPOL)
  • United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO)
  • United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC)
  • Commonwealth of Nations (CoN)

Komite Menengah:

  • United Nations Human Rights Council (UNHRC)
  • Economic and Social Council (ECOSOC)
  • UN GA Sixth Committee (Legal)
  • League of Arab States (LAS)
  • United Nations Entity for Gender Equality and the Empowerment of Women (UN Women)
  • United Nations Children’s Fund (UNICEF
  • United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East (UNRWA)

Komite Tinggi:

  • World Health Organization (WHO)
  • International Atomic Energy Agency (IAEA)
  • International Court of Justice (ICJ)
  • Historical Security Council (HSC)
  • European Council (EC)
  • IMF Executive Board (IMF)
  • United Nations Security Council (Crisis)

Delegasi UI lainnya ada yang memilih dewan WHO. Alfredo dan Naufal sendiri berada di dewan DISEC. Disarmament and International Security Committee atau Komite Perlucutan Senjata dan Keamanan Internasional.

Motivasi

Baik Alfredo dan Naufal merasakan kebutuhan untuk mengeksplorasi di luar fakultas teknik. Terutama di tahun ketiga kehidupan kampus mereka. Naufal ingin mengasah keterampilannya yang cukup penting juga untuk seorang insinyur, seperti; komunikasi, kemampuan persuasif, dan berbicara di depan umum. Untuk Edo, ia ingin mengungguli dirinya sendiri. Ia ingin mengubah batasan dalam masyarakat, termasuk dalam dirinya sendiri. Edo mencari sesuatu yang baru dan sesuatu yang baru itu adalah MUN.

Persiapan: Seleksi dan Pengaturan

Dua pasangan mekanik ini melewati 9 bulan persiapan.Seleksi untuk menjadi Delegasi UI sendiri ada pada bulan April 2017 dan kompetisi berlangsung pada Maret 2018. Hampir setahun mereka latihan berbicara, melakukan pidato, membuat draf, mempraktekkan negosiasi, dan banyak hal lainnya selama dua hari dalam seminggu. Terkadang bahkan pada akhir pekan. Menurut Alfredo, “Itu sedikit menuntut.” “Kami memiliki 24 jam pelatihan kadang-kadang, dari jam 12 siang hingga 12 siang lagi keesokan harinya.” Kata Naufal.

Selain semua itu, Harvard World MUN bukanlah delegasi internasional resmi pertama untuk mereka berdua. Alfredo telah mengikuti Michigan Technological University MUN dan Naufal telah mengikuti Euro MUN 2017 di Mastrick, Belanda sebelum ini. Mereka juga berkompetisi sebagai delegasi nasional di Indonesia MUN, Depok dan Presiden MUN, Cikarang. “Semua ini sangat membantu kami di Harvard World MUN.” Kata Naufal.

Para delegasi telah mengambil pendekatan diplomasi untuk Harvard World MUN. Mereka menunjukkan bagaimana ide-ide mereka dapat diuraikan dan diintegrasikan dengan ide-ide lain. Mereka berhasil membuat solusi mereka terbuka dan dapat disesuaian untuk setiap tantangan serta kondisi yang berbeda-beda.

Kemenangan

Kepuasan dan kebanggaan adalah yang kata terbaik untuk menggambarkan perasaan itu. Sebagai perwakilan dari Indonesia, tidak ada lagi yang bisa dikatakan.

Ini membawa kita kembali ke tahun lalu di mana 2 perwakilan UI telah memenangkan ‘Diplomacy Award’ dan juga dua tahun lalu untuk pencapaian yang sama dari 2 perwakilan UI lainnya. Tahun lalu adalah Asti Shafira (FKM’14) dan Christella Fenisianti (FISIP’16) yang mengharumkan nama bangga. Setahun sebelum itu adalah Amanda S. (FH’13) dan Zain Azzaino (FT’13). Benar-benar merupakan warisan besar bagi Universitas Indonesia.

Pesan untuk Mahasiswa Teknik

“Untuk semua mahasiswa teknik. Anda dapat mencapai banyak hal di Fakultas Teknik. Anda dapat menjadi Ketua BEM, Anda dapat menjadi Ketua IM, Anda dapat menjadi atlet terhebat di TC atau apapun itu. Tapi tolong percaya saya, ada banyak hal yang dapat Anda capai di luar fakultas teknik. Ada banyak hal yang dapat Anda capai. Dan karena itu, untuk kalian, jangan lupa untuk mengeksplorasi itu. Jangan lupa bahwa Anda cukup. Jangan lupa bahwa Anda bisa melakukannya juga. Dan hal yang perlu Anda lakukan hanyalah mengambil langkah pertama. Dan lihat dirimu di luar sana. Lihat diri Anda adalah orang yang berprestasi besar. Dan ya ambil langkah pertama. Terima kasih. ”

– Alfredo Adianto, Mahasiswa Teknik Mesin Universitas Indonesia 2014, Ketua IMM FTUI 2017.

 

Berangkat dari motivasinya, Naufal mengharapkan mahasiswa teknik untuk mengetahui pentingnya pengembangan soft skill. Dia mendorong mahasiswa fakultas teknik untuk bergabung dengan MUN, dan bahkan menawarkan untuk melatih. Jadi, terakhir, bergabunglah dengan MUN

Penulis : Monica Andrea R. M.



APT 2018: Tak Hanya Akademis Semata

Apresiasi Prestasi Teknik (APT) 2018 digelar di Balai Sidang Universitas Indonesia pada Jumat (23/3). Acara ini memberikan apresiasi kepada mahasiswa berprestasi di berbagai bidang – di antaranya iptek, akademis, hingga kepemimpinan. Sebagian petinggi FTUI, co-founder Go-Jek Rama Notowidigdo, hingga 2 penampilan seni hadir pada APT 2018. Terdapat 7 mapres utama departemen terpilih menjadi mapres favorit, dengan Mapres Utama FTUI yang terpilih adalah Faza F. Taqwa (TI’15).

Dekan FTUI Dr. Hendri S. Budiono memberikan sambutan sekaligus menjadi moderator saat diskusi dengan Rama Notowidigdo. Acara tersebut dihadiri beberapa kepala departemen, beberapa petinggi FTUI di antaranya Mahalum FTUI Badrul Munir dan Wakil Dekan I M. Asvial, serta beberapa orang yang mewakili.

Acara ini diawali dengan sambutan Dekan FTUI dan Project Officer Dimas Thayeb (Mt’16). Acara dilanjutkan dengan talk show inspiratif bersama co-founder Go-Jek dengan 2 orang penanya. Setelah penampilan tari dari Fakultas Psikologi UI, dilakukan pembacaan nama-nama mahasiswa berprestasi (mapres) akademis dan mapres kategori. Terdapat penampilan dari Vocademia UI sebelum pembacaan nama-nama mapres utama departemen. Vocademia UI merupakan grup vokal UI yang memenangkan juara 1 di Canta Al Mar, Festival Coral International Spanyol, pada November lalu.

Di APT 2018 ini, nama-nama Mapres Akademis Departemen dibacakan oleh kepala bidang akademis-keprofesian (Akpro) atau yang sejenis di setiap Ikatan Mahasiswa (IM). Mapres Kategori FTUI hingga Top 7 Mapres FTUI dibacakan oleh BPH BEM FTUI, termasuk Ketua BEM FTUI Davigara Dwika Primayandi alias Jarot (M’15). Mapres Utama FTUI dibacakan oleh Dekan FTUI Dr. Hendri S. Budiono.

Mapres Akademis dari setiap departemen hanya dibacakan untuk angkatan 2016 dan 2017. Nama-nama yang mendapatkan posisi Mapres Akademis adalah sebagai berikut:

  1. Dame Satrio dan Kunthi Pramesti (S’16)
  2. Benedicta Vanessa dan Siti Uswatun (L’16)
  3. Alfetra Henoch dan Salma Immala (S’17)
  4. Fidela Vivi dan Anggia Melina (L’17)
  5. Bintang F. M. dan Yohanes Kevano Pangaribuan (DTM’17)
  6. Celine Kevin (M’16)
  7. Nadhilah (K’16)
  8. Achmad Fathur R, Feno Valentino, M. Alwi Sukra (TKom’16)
  9. Adrian Putra Sanjaya, Adinda Dwi Maharani, Patar Parlindungan S. (E’16)
  10. Hubertus Setiawan, Ridho Adhadi Gani, Gita Ayu Salsabila (TKom’17)
  11. Ananda Tjakra Adisurja, Jason Antonio Gunawan, Kianda Dhipatya Syahindra (E’17)
  12. Raihan Kenji (Mt’17)
  13. Gerard Marthin (Mt’16)
  14. Deandra Adellia S. (A’17)
  15. Kanza Rizka Fachriza (AI’17)
  16. Christina Dameria (A’16)
  17. Kania Dwi Wigati (AI’16)
  18. Jessica Adeline dan Aprilia Ayuning (TK’16)
  19. Nur Rizka A.H. (TB’16)
  20. Vida Zinia Putri H. (TK’17)
  21. Victor Jonathan (TB’17)
  22. Kenny Anderson dan Tania Arvianti (TI’17)
  23. Aliffa Safitri (TI’16)
  24. Joshua Lokatili dan Ahmad Ghifari Ammar A (PI’17)

Mapres Kategori terdiri dari Mapres Penelitian, Mapres Riset, Mapres Seni, Mapres Kepemimpinan, Mapres Olahraga, dan Mapres Wirausaha. Sempat terjadi insiden saat pembacaan nama Mapres Kepemimpinan, yaitu berpindahnya slide presentasi hingga memunculkan nama Mapres Seni yang seharusnya dibacakan setelahnya. Hal ini menyebabkan terdengar suara bersorak dari arah hadirin.

Peringkat 1 Mapres Kategori adalah Mohamad Farhan (PI’15) untuk kategori Kewirausahaan, untuk kategori Olahraga Erlangga Ciko (M’15), kategori Riset Qayyum Hamidi, kategori Seni Inas Sharfira Rahman, kategori Sosial Barneus Wanglie S. (TK’15), dan kategori Kepemimpinan M. Akbar Buana Tafsili (TB’15).
Terdapat 7 mahasiswa berprestasi utama departemen yang terpilih, yaitu Alvin Fanthony (PI E’15), Kevin Gonzales (TI’16), Clarissa Merry (TK’15), Irma Tri Aryani (Mt’15), Kanya Citta Hani A. (TB’15), Faza F. Taqwa (TI’15), dan Rivaldo Gere Gurky (M’16). Setelah pembacaan 7 Mapres Utama Departemen Favorit, Dekan FTUI maju untuk mengumumkan Mapres Utama FTUI 2018.


Faza sebagai Mapres Utama FTUI 2018 maju ke podium untuk berpidato sambil menahan isak tangis. Suasana di gedung sempat hening.

“Terima kasih untuk ibu saya, ayah saya sudah diambil oleh Allah. Yang layak [mendapatkan] adalah ibu saya. Ibu saya yang [membantu] ketika saya capek, semua motivasi dari ibu saya. Dan saya di sini bukan karena IPK paling tinggi, IPK saya nggak nyampe cum laude. Semua karena niat. Saya ingin membawa Indonesia [menjadi lebih baik] dengan ke 4 benua dalam 1 tahun. Berkat doa, berkat Allah, berkat usaha,“ ucap Faza saat berpidato di panggung.

Tak lama setelah acara APT 2018 selesai, terlihat beberapa orang berfoto, termasuk jajaran petinggi FTUI dan sejumlah mahasiswa dari berbagai departemen di FTUI. Di luar gedung Balai Sidang sendiri suasana cenderung sepi. Gedung Balai Sidang sendiri disebutkan Dekan FTUI dalam sambutan sebagai ruangan yang biasanya digunakan untuk pelantikan Guru Besar, namun pada momen APT 2018 ini dipinjam oleh mahasiswa FTUI.

Terdapat photo booth di sebelah kanan pintu masuk Balai Sidang, sementara di sebelah kiri terdapat kursi dan konsumsi yang bisa didapatkan jika menyerahkan kupon yang diberikan saat registrasi APT.

Penulis : Misael S. – TK’15



Usaha dan Konsistensi, Kunci Utama Menaklukkan Kampus – Kampus Ternama di Bridge Design Competition 2018

Sutan Akbar Onggar Siahaan dan Alfiora Santoni Menjuarai NTU Bridge Design Competition (2018)

Dua mahasiswa Fakultas Teknik UI jurusan Teknik Sipil angkatan 2015 ini mungkin sudah familiar di dunia kemahasiswaan. Malang melintang di organisasi seperti Ikatan Mahasiswa Sipil, BEM, maupun MPM tidak menyurutkan semangat mereka untuk dapat berkontribusi di bidang akademis. Terus belajar, jangan takut mencoba, dan berusaha keras adalah pesan yang terus disampaikan kepada kami ketika mewawancarai Sutan Akbar Onggar Siahaan dan Alfiora Santoni. Berikut adalah hasil wawancara tim Teknika dengan peraih juara 1 dalam Bridge Design Competition yang diselenggarakan oleh Nanyang Technological University, Singapura pada 10-11 Maret 2018 lalu.

Apa motivasi awal kalian berdua mengikuti lomba ?

Awalnya iseng, kami punya dua target, ada di Singapura sama Malaysia, sudah membuat timnya juga. Tetapi yang Malaysia tidak jadi karena tahun ini tidak diadakan, kebetulan juga tahu lomba ini (Bridge Design Competition, Singapura -red) lebih dari seminggu setelah publikasi jadi secara spontan kami ikuti saja siapa tahu bisa menghasilkan prestasi. Selain itu, tahun lalu juga ada senior yang mengikuti lomba ini dan juara.

Bagaimana mengatur waktu kalian di tengah kesibukan ?

Kalau kesibukan cukup susah karena ini harus dikerjain bareng-bareng dan Sutan masih memiliki tanggung jawab di tempat lain, yaitu MPM. Jadi mostly kami selalu buat jembatan malam hari di atas jam 12 malam sampai jam 3 pagi, kemudian tidur dan melanjutkan kelas. Mungkin karena waktunya masih cukup lama sekitar 5 minggu, jadi bisa latihan intens sampai beberapa kali percobaan.

Sutan dan Alfiora Santoni saat diwawancara oleh Teknika FTUI

Apa saja yang kalian persiapkan untuk mengikuti lomba ?

Kami menargetkan setiap hari ada protoype yang harus kita uji dan mengetahui apa evaluasinya dan dapat diperbaiki dimana. Selain itu, kami mencoba banyak metode, TWTW (Tukar Wawasan -red) dengan pemenang tahun lalu, dan dosen pembimbing. Kemudian kami juga melakukan beberapa percobaan yang akhirnya menemukan metode yang kami coba sendiri, seperti ketika melakukan lem pada tumpu menggunakan kertas ternyata lengket, kemudian mencoba pakai kaca, bisa namun lengketnya masih terlalu kuat dan dapat merusak jembatan, sehingga akhirnya menemukan plastik yang tidak merusak bahan jembatan (kayu balsa).

Kami juga belajar konsep-konsep dasar jembatan, yang mana yang batang tarik dan tekan. (Pada kompetsi ini -red) kami menggunakan jembatan tipe scissors karena beban muatan nya di atas, konsep kami mempercepat aliran gaya ke perletakan, jadi tidak banyak distribusi gaya. Jadi kami tidak diberi tahu soal ketika kompetisi, sehingga kami hanya latihan dengan soal contoh dari panitia lomba dan soal-soal tahun lalu dari senior meskipun ternyata berbeda. Selain itu ada juga kejadian unik yaitu saat kita latihan, tangan Sutan terjepit beban jembatan. Kemudian kami panik dan langsung cek ke rumah sakit. Kata dokter retak dan awalnya sempat takut karena dokter menyampaikan harus dioperasi segala macam, setelah di rontgen ternyata tangan Sutan tidak mengalami keretakan parah. Lalu kami sempat berfikir ulang mencari metode seperti apa yang bisa digunakan untuk membuat jembatan dengan satu orang saja, hehe.. (sambil Sutan menunjukkan tangannya yang cedera)

Lalu, boleh diceritakan seperti apa proses lombanya ?

Sutan berangkat terlebih dahulu pada hari Rabu (7/3) karena ada kegiatan studi banding di Malaysia bersama teman-teman dari BEM dan MPM FT UI. Lalu, Toni menyusul pada hari Jumatnya (9/3) langsung ke Singapura. Ketika disana, tempat tinggal kami ternyata cukup jauh dari NTU. Sebenarnya bisa cepat menggunakan MRT (Mass Rapid Transit). Tetapi kami sedang tidak beruntung karena kebetulan sedang ada maintenance. Oleh karena itu kami menggunakan bis dengan perjalanan sekitar 2 jam. Jadi lomba ini tidak seperti lomba biasanya yang perlu menggunakan proposal dan persyaratan lainnya, tetapi kami benar-benar datang langsung, regisrasi, dan membayar biaya lomba disana sehingga tidak ada LO yang mendampingi.

Lomba ini terbagi menjadi dua hari, hari pertama full untuk membuat jembatan, hari kedua digunakan untuk menguji beban dengan simulasi, melakukan presentasi dan dilakukan penilaian. Kemudian ketika lomba dimulai pada hari pertama, kami diberi study case yang ternyata sangat berbeda dari 13 prediksi soal yang sudah kita buat. Kalau di contoh soal kasusnya adalah kami harus menghubungkan dua bukit dengan elevasi yang berbeda, jadi hanya memprediksi soal yang hampir sama dengan itu. Ternyata saat kompetisi, kami meng- hubungkan dua bukit yang ketinggiannya sama ditambah dengan kasus bahwa harus diberi ruang untuk kapal yang akan lewat di bawahnya. Kebetulan kasus tersebut membuat kami harus memutar otak karena power-nya ada di bagian batang yang harus dihilangkan akibat study case tersebut. Akhirnya kami melakukan desain ulang, mencetak model disana dengan diberi waktu 6,5 jam saja. Namun, karena kami sudah sering latihan, sehingga kami sudah dapat memprediksikan waktu kapan membuat desain, mencetak, dan membuat jembatan itu sendiri. Kami agak minder ketika yang lain sudah mulai membuat jembatan saat kami masih membuat desain, tapi kami yakin saja karena sudah sering latihan dan ternyata sampai selesai masih tersisa waktu dua jam.

Di hari kedua, kami berangkat lebih ngaret dan bahkan sempat menyasar, jadi kami terlambat setengah jam. Beruntung kami sudah mengkonfirmasi pada panitia agar dimaklumi jadi tidak berpengaruh ke lombanya. Kegiatan pada hari kedua adalah dilakukan penjurian dan pengujian beban.  Penilaian dilakukan pada aspek estetika, nilai ekonomis, dan efisiensi. Pertanyaan dari juri tidak terlalu sulit atau sederhana. Pengujiannya juga dilakukan terbuka, dengan bobot yang paling besar di efisiensi. Secara teori, efisiensi adalah bagaimana kita membuat jembatan yang paling ringan namun dapat menahan massa yang paling berat. Lomba ini tidak terlalu menitikberatkan pada estetika dan kemampuan presentasi.

Mengapa jembatan yang kalian buat bisa menjadi juara ?

Alhamdulillah ketika diuji oleh juri  dan dilakukan simulasi, ternyata jembatan yang kami buat memiliki efisiensi yang paling besar dan juga ringan.  Efisiensi ini sebenarnya sudah kami prediksi karena kami mencoba menggunakan double (kayu) balsa untuk menahan power yang besar meskipun posisinya agak berbeda dari biasanya.

Menurut kalian, kondisi tim lain seperti apa ? Apa yang membuat akhirnya tim kalian unggul ?

Peserta lain dari universitas yang bagus-bagus, jembatan buatan mereka juga bagus-bagus sehingga membuat kami agak tertekan. Konsepnya hampir sama dengan kami tetapi peletakannya ditinggikan. Selain itu karena kami melakukan presentasi di akhir, jadi kami melihat hasil dari tim-tim yang lain yang tidak kalah bagusnya, terutama NUS (National University of Singapore). Ada juga jembatan hasil dari NTU, perhitungan mereka sangat presisi hanya saja mereka kurang aplikatif karena kompetisi ini menggunakan bahan yang cukup unik yaitu kayu balsa, dimana karakteristiknya berbeda dengan baja. Mungkin kalau menggunakan baja, mereka akan jadi pemenangnya.

Penyerahan Penghargaan Pemenang NTU Bridge Design Competition (2018)

Bagaimana kesan kalian setelah memenangi kompetisi ini ?

Menurut kami, prestasi kali ini cukup prestis karena berhasil mengalahkan mahasiswa dari NTU, NUS, ITS, UGM dan kampus bagus lainnya. Kami juga senang sekali karena antusiasme warga FTUI yang langsung memberi selamat mulai dari pihak fakultas, departemen, dosen-dosen, alumni  dan pasti teman-teman. Prestasi ini juga semakin berkesan karena ini adalah lomba pertama dan kami bukan tipe yang hanya belajar, tetapi juga nongkrong dan sering mengikuti kegiatan. Dengan prestasi ini mudah-mudahan bisa jadi motivasi yang lain. Kami juga mau mengucapkan terimakasih kepada teman-teman dari Cartala FTUI yang sudah menemani kedua tim dari Departemen Teknik Sipil UI selama mengikuti lomba di Singapura, membantu pengujian jembatan, membantu membuat plat, dan juga teman-teman di kontrakan yang selalu mendukung kami. Untuk selanjutnya kami akan terus mencoba di lomba-lomba yang lain. Di akhir minggu ini kami akan mengikuti lomba lagi di Universitas Kristen Petra Surabaya, meskipun kami berbeda tim.

Terakhir, apakah kalian ada pesan khusus untuk teman-teman FTUI agar terus berprestasi ?

Pesan kami, kalian perlu menekuni apa yang sudah diikuti, perbanyak latihan dan jangan lupa untuk melakukan tukar wawasan. TWTW ini penting karena kami dapat banyak modal lomba dari sana, tetapi yang ilmiah tentu saja. Contohnya seperti karakteristik kayu balsa itu seperti apa, jembatan ideal itu seperti apa karena jujur kami belum mendapatkan mata kuliah jembatan dan kayu, jadi kami diajarkan oleh senior-senior. Selain itu bagi yang mau ikut lomba, kalian harus benar-benar berusaha keras dari awal dan jangan cepat puas, karena kalau sudah puas akan susah untuk berkembang. Kami juga terus belajar sebelum lomba, meskipun kadang merasa sudah bagus, tetapi selalu merasa kurang dan ada saja yang harus dievaluasi agar lebih baik lagi. Pesan terakhir dari kami adalah terkadang kita fokus dengan non-akademis, namun jangan sampai lupa untuk memberikan sesuatu yang terbaik untuk kampus ini. Motivasi untuk membanggakan IKM FTUI, FT, dan UI harus terus ada di diri teman-teman mahasiswa teknik Universitas Indonesia.

(Wawancara oleh : Naufal Farras Fajar, Firda Aulia – Teknika FTUI 2018 )



Kontingen UI Sabet Juara di ICHEC ITB

Tim Universitas Indonesia yang terdiri dari dua mahasiswa Teknik Kimia Universitas Indonesia angkatan 2015 Felix Pratama dan Sendy Winata menjadi salah satu pemenang dalam Indonesia Chemical Engineering Challenge (ICHEC) cabang problem solving yang diadakan di ITB pada tangal 2 maret 2018. ICHEC merupakan lomba perancangan pabrik bagi mahasiswa Teknik Kimia berskala internasional dan diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia ITB. Pada cabang problem solving peserta dituntut untuk berpikir kreatif untuk mencari dan menganalisa masalah tertentu yang terjadi atau mungkin terjadi pada permasalahan pabrik baik dalam aspek ekonomi maupun aspek teknis. Kontingen UI berhasil membawa pulang hadiah sebesar Rp 2.5000.000 dan predikat juara 3 dalam persaingan sengit pada tingkat lomba internasional.

Beradu munculkan solusi pada ICHEC ITB 2018

Pada ICHEC ITB 2018 terdapat 4 cabang lomba yaitu essay competition, poster competition, plant design competition dan problem solving competition. Dengan memiliki tema besar “Developing Petrochemical Industry Through Innovation in Processing
Indonesia’s Natural Resourches” ICHEC memiliki tujuan untuk mengembangkan inovasi dan kepemimpinan terutama bagi mahasiswa teknik kimia untuk dapat berpikir secara global dalam isu-isu dan pemecahan masalah terkait dalam bidang teknik kimia dan multi-disiplin. Kompetisi ini diikuti oleh mahasiswa teknik kimia dalam lingkup nasional dan asia tenggara serta mengundah juri -juri yang ahli dalam bidang petrokimia dan memiliki pengalaman langsung dalam bidang industri. Pada akhir acara diadakan Grand Seminar yang membahas tentang progresi petrokimia indonesia.

Problem Solving

Pada cabang problem solving terdapat 1 tahap yang harus dikuti peserta sebelum dapat masuk ke tahap presentasi. Tahap pertama yaitu seleksi dengan pemberian kasus. Peserta dituntut untuk menganalisa masalah teknis yang terjadi dalam industri petrokimia
serta memberi solusi akan masalah yang terjadi dan menuangkanya dalam bentuk tulisan/paper. Akhirnya dipilih lima finalis terbaik yang akan saling berkompetisi untuk menyampaikan usulanya yang tertuang di dalam paper yang mereka buat.

Kesan dan Pesan

Menurut Felix lomba yang ia ikuti mebutuhkan perjuangan yang keras serta memberikan pengalaman baru bagi dirinya. “Karena kemarin jurinya semua praktisi, pengalamannya lebih ke cara berpikir di mana logika dan teori harus sinkron” jelas Felix pada Teknika(11/3/2018) . Menurutnya teori yang berlaku juga harus aplikatif dan sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan.”Terkadang praktek di lapangan tidak seindah teori di kuliah”, katanya  seraya mengingatkan. Menurutnya untuk kita dapat lebih aplikatif kita harus sering berkontribusi sebagai mahasiswa Teknik UI baik dalam mengikuti lomba-lomba ataupun berguna bagi masyarakat.

Oleh : Agustinus Ronaldo



Menguji Kemampuan Mahasiswa FTUI di APT 2018

Pernah mendengar istilah mapres? Ya, mapres adalah singkatan dari mahasiswa berprestasi. Ajang pemilihan mahasiswa berprestasi merupakan program kerja dari Kementerian Riset dan Perguruan Tinggi Republik Indonesia dimana pemilihan ini bertujuan untuk mengapresiasi mahasiswa-mahasiswa yang memiliki prestasi dan telah berkontribusi menyumbangkan berbagai macam sumbangsihnya bagi bangsa dan Negara Indonesia.

Ajang pemilihan mahasiswa berprestasi tingkat Fakultas Teknik Universitas Indonesia saat ini telah digelar. Sama seperti tahun sebelumnya, mahasiswa berprestasi dibagi menjadi dua jenis yaitu mahasiswa berprestasi utama dan mahasiswa berprestasi kategori. Untuk mahasiswa berprestasi kategori tahun ini semakin beragam yaitu kategori kewirausahaan, sosial, seni, olahraga, perjuangan, riset, dan yang terbaru adalah mahasiswa berprestasi kategori kepemimpinan. Hal ini bertujuan untuk mengapresiasi mahasiswa yang memiliki kontribusi yang membanggakan di bidangnya. Selanjutnya yaitu mahasiswa berprestasi utama dimana saat ini telah terpilih tujuh besar finalis yang sebelumnya telah mengikuti seleksi pada tingkat departemen. Pada awalnya, total mapres yang mewakili seluruh departemen di FTUI berjumlah 24 orang dimana dari 24 orang ini dikerucutkan menjadi tujuh besar finalis. Ketujuh finalis ini nantinya akan memperebutkan gelar mahasiswa berprestasi tingkat fakultas teknik dan akan mewakili fakultas teknik di tingkat universitas. Berbagai macam seleksi pun harus diikuti, mulai dari seleksi karya tulis ilmiah, wawancara, tes bahasa inggris, dan presentasi karya tulis ilmiah yang akan dilaksanakan pada Kamis, 16 Maret 2018. Untuk mempersiapkan mahasiswa berprestasi utama ini agar menampilkan performa terbaiknya, BEM FTUI melalui bidang Akademis dan Keprofesian telah mengadakan berbagai pelatihan khusus yang telah dilaksanakan sebanyak dua kali. Pelatihan tersebut berupa pelatihan pembuatan karya tulis ilmiah, simulasi presentasi dan pelatihan bahasa inggris. Setelah mengikuti serangkaian seleksi ini, pengumuman mahasiswa berprestasi utama dan kategori fakultas teknik akan diumumkan pada hari puncak pelaksanaan APT 2018 yaitu pada 23 Maret mendatang. Pada hari puncak tersebut pun juga akan diumumkan mahasiswa berprestasi favorit yang didapatkan dari hasil voting oleh warga fakultas teknik setelah sesi presentasi.



“Ngopi” Sambil Belajar dan Berprestasi

Pada pertengahan Februari lalu, Beeu Kopi di Koperasi Mahasiswa (Kopma)  FTUI mengirimkan dua mahasiswa FTUI untuk mengikuti lomba brewing coffee. Brewing coffee merupakan metode membuat kopi dengan cara manual. Perlombaan ini diadakan sebagai salah satu rangkaian acara roadshow Coffee in Town yang akan diadakan 13 – 15 April 2018. Coffee in Town merupakan salah satu acara pameran kopi terbesar di Depok. Perlombaan ini dibagi menjadi dua kelas yaitu kelas yaitu kelas barista dan non barista. Pemilik Beeu Coffee, Kifli yang akrab dipanggil Bang Kips, mengirimkan satu peserta di setiap kelasnya.

Pada perlombaan brewing ini ada dua penilaian yaitu kerapian dan kopi itu sendiri. Penilaian pada kopi dibagi menjadi tiga. Penilaian pertama adalah aroma. Hasil yang diinginkan adalah aroma dari kopi tidak tercampur dengan aroma lainnya. Penilaian kedua adalah perhitungan total dissolved solids (TDS). Hasil yang diinginkan adalah tingkat kepekatan 1,2% – 1,45%. Setelah TDS sudah dipenuhi, dilanjutkan pada penilaian ketiga yaitu rasa kopi itu sendiri. Rasa setiap kopi memiliki karakternya masing-masing, di mana hasil yang dicari pada kopi ini adalah kelengkapan rasa yang keluar dari kopi tersebut.

Mahasiswa yang dikirimkan Bang Kips meraih juara 2 pada kelas non barista dan pada kelas barista berhasil masuk perempat final. “Hasil ini menunjukkan bahwa ngopi bukan sekedar ngopi tetapi kita bisa sambil belajar dan meraih prestasi,” kata Arya Ramadhan (TB’14) saat tengah diwawancara Teknika mengenai lomba kopi ini.

Tidak berhenti di sini, Bang Kips akan mengajak mahasiswa untuk berlomba lagi pada 25 Maret 2018 di Kemang Village dan pada acara puncak Coffee in Town di bulan April. Jika anda tertarik untuk mengetahui lebih lanjut anda bisa bertanya secara langsung pada Bang Kips di KOPMA sambil menyeduh secangkir kopi.

Saat Teknika mengunjungi kios Beeu Kopi di Kopma FTUI, terdapat seorang mahasiswa sedang duduk, Ata (S’14), dan karyawan Bang Kips yang bernama Iskak. “Yang ikut lomba itu Rafi (E’15 – red) dan Arya (TB’14 ­– red),” kata Ata.

Ilustrasi secangkir kopi. (Foto : shutterstock.com)



Kasus Parade Freshman Fair 2018

Parade pertama Freshmen Fair 2018 (Dok. Teknika FTUI)

Hari pertama pelaksanaan Freshmen Fair 2018 diwarnai dengan kesalahan, dimana saat pelaksanaan parade pada senin (12/2/2018), Teknik angkatan 2017 gagal memenuhi kuorum 85% kehadiran untuk setiap departemen. Sebanyak empat departemen gagal memenuhi kuorum yang telah ditentukan oleh Kemahasiswaan BEM FTUI 2018. Adapun kuorum tersebut diberikan sebagai tolak ukur solidaritas satu teknik, sesuai dengan tujuan diadakannya Freshmen Fair 2018 yaitu menanamkan nilai solidaritas satu teknik kepada angkatan 2017.

Seperti diketahui, parade pembukaan Freshmen Fair 2018 dilaksanakan pada hari senin (12/2/2018), dimana pada hari tersebut kuorum gagal dipenuhi oleh Teknik angkatan 2017. Hal tersebut kemudian menyebabkan opening terpaksa dimulai terlambat, sehingga Davigara selaku ketua BEM FTUI 2018 tidak jadi memberikan sambutan. Menurut beberapa mahasiswa teknik 2017, keterlambatan tersebut terjadi akibat miskomunikasi antar departemen yang menyebabkan beberapa departemen menunda start parade karena masih melakukan absensi kehadiran dengan tetap memperjuangkan terpenuhinya kuorum. Selain itu, mereka juga membuat kesalahan dimana pada saat parade, rombongan parade melewati depan gedung dekanat. Padahal, pihak kemahasiswaan BEM FTUI 2018 sudah menginstruksikan mereka untuk tidak melewati area gedung dekanat.

Akibat dari kejadian tersebut, Kemahasiswaan BEM FTUI 2018 mengarahkan mereka untuk mengulang parade dua hari setelah parade yang pertama dilakukan dengan harapan parade berikutnya dapat berjalan lebih lancar dengan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang terjadi. Adapun pada parade berikutnya tidak ditetapkan kuorum seperti parade sebelumnya. Parade kedua dilaksanakan pada hari Rabu (14/2/2018).



Ketua BEM UI Acungkan ‘Kartu Kuning’, Tanggapan BEM FT ?

Ketua BEM FTUI (Davigara) Pada Poster Publikasi Teknika.

Pagi hari ini, Jumat (2/2/2018), Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) Zaadit Taqwa melakukan aksi tunggal dengan mengacungkan ‘kartu kuning’ kepada Presiden Joko Widodo yang menghadiri acara Dies Natalis ke-68 Universitas Indonesia di Kampus UI, Depok. Aksi Zaadit ini menarik perhatian undangan dan peserta acara pada saat itu sehingga Zaadit diamankan oleh Paspampres. Tidak berhenti di perhelatan acara, aksi ini juga memancing beragam komentar dari warganet, baik pro maupun kontra.

Dalam rilis massa yang disampaikan BEM UI, ini merupakan aksi kreatif dengan 3 tuntutan utama, yakni pertama, tuntaskan persoalan gizi buruk di Asmat, Papua. Kedua, menolak dengan tegas rencana pengangkatan Plt. Gubernur dari kalangan Polri aktif. Ketiga, menolak Draft Permendikti tentang Ormawa yang dianggap sangat membatasi pergerakan mahasiswa. Tiga tuntutan tersebut dapat dilihat lebih lanjut dalam http://bit.ly/KajianKartuKuningJokowi . Aksi ini merupakan aliansi dari BEM UI, BEM FKM UI, BEM FIB UI, BEM FMIPA UI, BEM FKG UI, BEM FIA UI, BEM FASILKOM UI, dan BEM Vokasi UI.

Tanggapan BEM FTUI 2018 Terkait Aksi #KartuKuningJokowi

Ketika dihubungi pada hari ini, Jumat (2/2/2018), Ketua BEM FTUI 2018 Davigara Dwika menjelaskan bahwa BEM FTUI 2018 dengan seluruh Ketua Ikatan Mahasiswa Departemen dan Program Internasional FTUI 2018 sepakat untuk tidak turun aksi. Davi membenarkan bahwa aksi telah direncanakan di dua tempat, yaitu di Stasiun dan di Balairung, namun melalui grup koordinasi Chief Executive Meeting (CEM) BEM se-UI, rencana aksi di Balairung telah dibatalkan sehingga Davi menyayangkan karena aksi tunggal yang dilakukan tidak sesuai dengan rencana dan koordinasi di awal.

Selain itu, dalam aksi kali ini BEM FT tetap konsisten dengan prinsip bahwa pada dasarnya sebuah aksi perlu didasari dengan kajian, sehingga pembuatan kajian yang paralel dengan melakukan aksi akan memberikan kesan mahasiswa yang aksi tanpa kajian yang cerdas. Oleh karena itu, BEM FTUI 2018 dan CEM FTUI sepakat untuk abstain dengan aksi. “Tapi bukan berarti kami gak setuju dengan tuntutannya kok, cuman cara nya aja yg terkesan kurang etis. Rasanya kalo ada alasan lain yaitu politisasi kampus. Mahasiswa udh pada pinter, dengan datengnya presiden dateng ngasih pidato dan konteksnya diundang, mahasiswa gak bakal langsung condong kesana atau kesini,” tambah Davi. Memang, sebelum perhelatan akbar Dies Natalis UI kali ini, Kemahasiswaan UI maupun FT UI telah menghimbau kepada mahasiswa untuk memberikan aspirasi dengan meminta audiensi atau memberikan kajian secara resmi. Pihak Kemahasiswaan bahkan mengklaim telah memberikan wadah resmi bagi BEM UI untuk menyampaikan aspirasi langsung kepada Presiden namun dibatalkan akibat aksi kartu kuning tersebut.

Tanggapan Terhadap Tiga Tuntutan Aksi

Tiga tuntutan aksi kali ini ‘agak’ disorot karena tidak seperti biasanya, lini masa BEM UI tidak merilis kajian sebelum dimulainya aksi sehingga beberapa pihak merasa bahwa aksi ini merupakan aksi impulsif. Namun, Davi menegaskan bahwa tuntutan aksi perlu untuk dipertimbangkan karena merupakan isu penting di awal tahun 2018 ini. “Tadi juga Pak Jokowi di pidatonya nyampein banyak hal terkait pembangunan infrastruktur di Indonesia, salah satunya Trans Papua. Tapi disayangkan permasalahan di Asmat, Papua belum selesai,” jelas Davi yang menyoroti isi pidato Presiden Joko Widodo yang lebih banyak menjelaskan mengenai kondisi pra dan pasca pembangunan di zaman pemerintahannya seperti pembangunan infrastruktur Trans Papua dan lainnya. Selain itu, menurut BEM FTUI 2018 isu Draft Permendikti tentang Ormawa dan Plt. Gubernur merupakan isu yang mendesak untuk dikawal karena berpotensi memberikan dampak permasalahan yang lebih besar kedepannya, “Saya yakin BEM-BEM Fakultas juga akan setuju dan membantu dengan caranya masing-masing,” ujar Davi mengakhiri penjelasan. (REDAKSI)



Kiprah Manis Tim Caelius UI di IECOM ITB 2018

Time Caelius UI (Sumber : Teknika FTUI )

 

Bagi tim Caelius Universitas Indonesia (UI), tiga mahasiswa Teknik Industri 2014, Bhagas Aufa Handoyo, Millatina Mirrah Putri, dan Dita Anggraeni Kusumaningrum, menjadi pemenang dalam Industrial Engineering Competition (IECOM) 2018 serta berhasil membawa pulang hadiah sebesar 3500 USD merupakan sebuah kebahagiaan yang luar biasa bagi mereka. IECOM 2018 merupakan sebuah kompetisi teknik industri berskala Internasional yang diadakan oleh Keluarga Mahasiswa Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (MTI ITB) dan dapat diikuti oleh mahasiswa S1 jurusan Teknik Industri atau bidang terkait lainnya. Untuk tahun ini, kegiatan IECOM dilaksanakan pada 7-13 Januari 2018 di Bandung dengan tema Industry 4.0.

 

Tim Caelius UI mengatakan bahwa mereka mengikuti kompetisi IECOM 2018 karena IECOM merupakan salah satu kompetisi teknik industri yang prestige di Indonesia dan Asia Tenggara, sehingga mereka termotivasi untuk dapat memenagkan kompetisi berskala Internasional tersebut. Berbagai persiapan untuk menghadapi kompetisi IECOM 2018 dilakukan oleh tim Caelius UI, mulai dari pembagian kerja dalam tim secara konsisten hingga pengalaman dari berbagai lomba sebelumnya yang telah mereka ikuti bersama.

IECOM 2018

IECOM 2018 terdiri dari berbagai rangkaian acara dan kompetisi yang diawali dengan seleksi tahap preliminary berupa online test dan review paper. Dari 83 tim yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan Filipina, 15 tim dinyatakan lolos sebagai semifinalis IECOM 2018 dan akan mengikuti kompetisi di Bandung. Saat ke-15 tim sampai di Bandung, para semifinalis tersebut disambut pada acara pembukaan yang bernama “Wilujeng Sumping”, pada acara pembukaan tersebut para semifinalis berkenalan dengan para semifinalis lainnya. Acara selanjutnya yaitu kegiatan seminar yang bertemakan Industry 4.0. Kegiatan seminar ini bertujuan agar para semifinalis dapat memperoleh tambahan pengetahuan dan wawasan mengenai Industry 4.0 yang merupakan tema kompetisi IECOM 2018 ini.

Tahapan Lomba

Terdapat 3 tahap yang harus dilewati oleh tim Caelius UI untuk dapat menjadi juara IECOM 2018. Tahap pertama berbentuk kompetisi berupa team quiz dan amazing race. Pada tahap pertama ini, para peserta harus dapat menjawab berbagai pertanyaan yang berkaitan dengan ilmu Teknik Industri, seperti Operation Research (OR), sistem produksi, ergonomi, manajemen proyek, marketing, dan Manajemen Informasi Sistem (MIS). Selanjutnya pada tahap kedua, para semifinalis diberikan sebuah studi kasus tentang simulasi game investasi. Tahap pertama dan tahap kedua bertujuan untuk menyaring 5 tim terbaik yang akan dinyatakan sebagai Finalis IECOM 2018 dan akan mengikuti tahap Grand Final.

Grand Final IECOM 2018

Pada tahap ketiga yaitu tahap Grand Final para finalis IECOM 2018 melakukan kunjungan ke PT Gaya Motor untuk melakukan observasi langsung dan mengambil data terkait kasus nyata yang diberikan oleh pihak perusahaan. Setelah melakukan observasi dan memperoleh data yang diperlukan, keesokan harinya para finalis diberikan waktu selama 12 jam untuk berdiskusi mengenai solusi terbaik dari kasus yang terdapat pada PT Gaya Motor sehingga solusi tersebut dapat diimplementasikan serta dapat meng-improve proses manufaktur pada perusahaan tersebut. Para finalis mempresentasikan solusi yang diajukan dari tim mereka masing-masing kepada para dewan juri keesokan harinya. Dalam tahap Grand Finalni, tim Caelius memberikan solusi dengan menggunakan metode Teknik Industri yang clear yaitu dengan menganalisa dari berbagai faktor, seperti dari segi line balancing, supply chain, maintenance, human resource, quality, dan tentunya dari segi profit perusahaan.

Kesan Mereka

“Senang banget! Senang karena kemenangan ini bukan cuma buat sendiri tapi buat semua orang. Karena semua pengalaman pahit di semua lomba yang pernah diikuti terbalaskan di IECOM,” ucap Millatina Mirrah Putri ketika ditanya bagaimana kesannya setelah dinyatakan sebagai pemenang dalam kompetisi IECOM 2018. Milla juga berpesan kepada mahasiswa FTUI untuk jangan takut dan jangan minder mengikuti lomba-lomba Internasional, mahasiswa FTUI harus yakin bahwa dapat bersaing dalam kompetisi berskala Internasional karena berpotensi dan memiliki kualitas yang sama baiknya. Begitupun dengan kesan dan pesan yang disampaikan oleh Dita Anggraeni “Kalau mau bikin kelompok, yang sudah saling mengetahui kapasitas dan kapabilitas satu sama lain. Jangan lomba dengan kemampuan yang sama. Cari tim yang saling melengkapi. Perjuangan kita dari lomba pertama, belajar dari kesalahan lomba-lomba sebelumnya. Semoga kemenangan ini bisa menjadi motivasi untuk angkatan-angkatan bawah dan semoga bisa jadi contoh,” ungkapita Anggraeni.

 

Menurut Bhagas kemenangannya dalam kompetisi IECOM 2018 ini adalah hadiah terbaiknya setelah berkontribusi di IKM FTUI, karena selama ini sudah banyak yang dikorbankan, seperti kesempatan untuk lomba, kesempatan magang, dan kesempatan-kesempatan lain yang dikorbankan oleh dirinya selama berkontribusi di IKM FTUI. “Jangan takut ikut lomba, kumpulin berbagai lomba yang mau diikuti dan harus punya target juara lomba. Tumpukin pengalaman lomba. Kalah itu menang yang tertunda. Menang lomba itu butuh faktor X yang bisa diperoleh darimanapun. Kemenangan IECOM 2018 ini adalah hadiah terbaik gue setelah berkontribusi di IKM FTUI. Jadi, jangan takut untuk berkontribusi di IKM FTUI,” ujarhagas Aufa Handoyo. (FS)



Gempa Terasa di UI, Ini Cerita Anak Teknik!

Gempa bumi berskala 6,1 Skala Richter (SR) terjadi di Samudera Hindia dengan kedalaman 10 km. Gempa pertama terjadi pada Selasa (23/1/2018) jam 13.34 WIB, kemudian terjadi 46 gempa susulan menurut BMKG. Gempa 5,1 SR yang terjadi pada Rabu (24/1) jam 13.32 WIB masih termasuk gempa susulan.

Lokasi gempa pertama merupakan bagian dari Kabupaten Lebak, Banten. Gempa terjadi di koordinat 7,21 LS, 105,91 BT. Berdasarkan pengukuran dengan Google Maps, episentrum gempa ini berjarak 43,2 km garis lurus dari lokasi Kerja Sosial (Kersos) 2016 di Desa Panyaungan, Cihara, Lebak, Banten. Gempa ini berjarak 138,12 km garis lurus dari Kampus FTUI Depok.

Di Lebak, menurut laporan CNN Indonesia pada Selasa (23/1) terdapat 7 kecamatan dengan kerusakan rumah akibat gempa ini. Kecamatan tersebut adalah Bayah, Wanasalam, Panggarangan, Cilograng, Lebak Gedong, Sobang, dan Cimarga. Kerusakan terparah terdapat di Kecamatan Panggarangan dengan 82 rumah rusak.

Gempa ini terasa di Ibukota dan sekitarnya, termasuk Depok – tempat kampus FTUI berada. Getaran di Jakarta pada Selasa siang termasuk skala II-III MMI (skala Mercalli). Skala II MMI ditandai dengan getaran yang dirasakan beberapa orang dan benda ringan bergoyang, sementara skala III MMI ditandai dengan getaran nyata, seakan-akan truk lewat.

Terdapat 4 mahasiswa FTUI dan seorang pedagang Kantin Teknik (Kantek) yang diwawancarai Teknika FTUI terkait situasi yang mereka hadapi saat gempa hari Selasa berlangsung. Simak cerita mereka selengkapnya.

Isi Gelas Kimia Tumpah

Irfan Pane (TK’14), Ketua MPM FTUI 2017, tengah berada di laboratorium ILRC (perpustakaan UI lama) saat gempa berlangsung. Pane menggambarkan gempa tersebut dengan gelas kimia yang berjatuhan. Beberapa gelas kimia ada yang isinya tumpah, namun untungnya tidak ada yang pecah. Pane sempat ketakutan gelas-gelas kimia tersebut pecah.

Selanjutnya, PLK UI meminta orang-orang yang berada di dalam gedung untuk keluar. “Untungnya sampel gue gak kenapa-kenapa,” kata Pane mengakhiri wawancara tersebut.

Wawancara BEM FTUI Tertunda

Kenichi Mario (TI’17) tengah berada di Ruang BEM saat gempa terjadi. Mario tengah melakukan transfer wawasan (twtw) dengan Bidang Kemahasiswaan (Kema) BEM FTUI. Saat gempa terjadi, Mario melihat benda-benda di sekitar ruang BEM bergoyang.

“Baru sekitar 15 menit tau-tau gempa tuh, pada ngeliat semua lampu di BEM pada goyang-goyang gitu kan. Ada juga kipas goyang-goyang. Langsung pada semuanya pada ‘woi gempa’, tapi pada santai gitu kita keluar. Santai gak panik-panik banget sih, langsung ke depan Rotunda,” jelas Mario.

Mario menyebutkan bahwa orang yang pertama memberitahu gempa tersebut adalah Aril (Aryasatya A, TI’15). “Aril bilang, ‘gempa, gempa, gempa’,” kata Mario menirukan ucapan Aril. Tak lama kemudian, semua orang di ruang BEM menengok dan langsung keluar dari ruang BEM. Saat itu, di ruang BEM terdapat 10 sampai 15 orang.

Mereka menunggu selama 5 menit sampai kondisi aman. Setelah gempa, Ketua BEM FTUI 2018 Davigara Dwika (Jarot, M’15) meminta massa yang keluar ruang BEM untuk masuk lagi. “Kata Davigara-nya kan, ‘ayo masuk aja, Bismillah, Bismillah, biar interview jalan lagi, biar gak buang-buang waktu’ langsung masuk deh aman, langsung interview lagi,” kata Mario. Mario menyebutkan bahwa interview terpotong selama 5 sampai 10 menit.

Tidak Semua Orang Keluar Gedung K

Jodi (S’16), Kabid Iptek IMS 2018, menyebutkan bahwa gempa terjadi saat rapat pleno IMS 2018 tengah berlangsung di auditorium K301. “Sebelum terjadi gempa tadi ada pleno IMS. Kebetulan habis jam 12 tadi kan sesi istirahat. Habis itu pas jam 1 kan masuk sesi presentasi per bidang,” katanya. Saat itu Bidang Humas IMS tengah melakukan presentasi.

“Terus tiba-tiba gue juga enggak tahu, kayak kerasa goyangan gitu kan. Terus yang tengah nih pada keluar duluan. Kayak gaduh gitu kan, pada buru-buru keluar gitu. Terus ada yang udah keluar, terus karena udah berhenti ya masih ada yang bertahan di dalem. Gua masih lari, tapi masih di dalam juga” kata Jodi.

Pada saat gempa berlangsung, bidang yang tengah presentasi di K301 ikut bubar dan langsung meninggalkan mic. “Ya pokoknya langsung ninggalin mic gitu, tadi mic-nya ada yang rusak satu tadi gara-gara panik gempa tadi,” kata Jodi. Rapat tersebut berlanjut lagi setelah gempa.

Suara Orang Berteriak

Rizkijanuar (Mt’15) tengah melakukan rapat terkait Kersos FTUI 2018 di Kantek ketika gempa terjadi. Laki-laki dengan panggilan Kijan tersebut duduk di lokasi Kantek Luar dekat Musala Teknik (Mustek) ketika diwawancara Teknika FTUI. Kijan mengaku belum berpindah tempat duduk dari sebelum gempa hingga wawancara berlangsung.

“Tadi pas gempa sih kerasanya kayak pusing gitu, tapi nyadar, kok lama gitu. Terus habis itu ngelihat lingkungan sekitar kayaknya orang-orang pada berlarian gitu. Kelihatan ada caraka dari Kantek Atas pada lari ke bawah,” kata Kijan. Caraka adalah petugas kebersihan yang mengenakan baju abu-abu.

Kijan juga memperkirakan tidak ada mahasiswa di Kantek Atas. “Kalau mahasiswa kayaknya enggak ada deh, caraka doang,” katanya.

Setelah gempa berlangsung, Kijan bangun dari tempat duduknya. Kijan melihat orang yang berteriak dari salah satu zona Kantek. “Kayaknya mahasiswa,” kata Kijan menjelaskan orang tersebut. Setelah gempa, akhirnya Kijan kembali ke tempat duduknya untuk menyelesaikan rapat Kersos.

Tidak Merasakan Gempa

Mas Azir, pedagang nasi goreng di Kantek yang berjualan bersama Mas Kun, mengaku tidak merasakan gempa tersebut karena tengah sibuk menggoreng. “Saya jujur aja nggak ngerasa mas, lagi goreng,” kata beliau sambil memasak nasi goreng saat diwawancara Teknika FTUI.

Mas Azir baru menyadari gempa tersebut saat ada ibu-ibu yang berteriak dari arah Kantek dan orang berlarian.

Demikian hasil wawancara Teknika FTUI dengan beberapa saksi mata yang berada di kampus UI saat gempa berlangsung. Tetap

 

Referensi

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180123152931-20-270998/ada-100-lebih-rumah-rusak-di-lebak-akibat-gempa



Pemira IKM FTUI: Pilih-Pilih Orang Nomor Satu

Ahmad Syauqi, PO Pemira IKM FTUI 2017

Pemilihan Raya IKM FTUI sudah mulai terasa nuansanya. Teknika FTUI akan mewawancara Project Officer Pemira IKM FTUI, Ahmad Syauqi (Teknik Kimia Ekstensi 2016). Di edisi Koran Biru berikutnya, kami akan mengulas profil calon Ketua BEM FTUI dan Calon Ketua IMD-IMPI FTUI.

Klik untuk membaca versi PDF.

Koran Biru – Pemira

Pemilihan Raya FTUI umumnya digelar setiap bulan November setiap tahunnya. Pada Pemira IKM FTUI, akan ada pemilihan calon ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Ikatan Mahasiswa Departemen (IMD), dan anggota Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM).

MPM FTUI 2017 bertanggung jawab terhadap Pemira IKM FTUI 2017. MPM membuat kepanitiaan untuk Pemira dan menunjuk seorang project officer. Tahun ini, Ahmad Syauqi (TK’16) adalah PO Pemira IKM FTUI.

Teknika FTUI akan melakukan wawancara dengan Syauqi terkait Pemira IKM FTUI.

Apa Itu Pemira FTUI?

Pemira IKM FTUI, formalnya Pemilihan Umum/Pemilu IKM FTUI, adalah ajang buat lo untuk memilih siapa yang akan melanjutkan tongkat estafet (kepemimpinan) di IKM FTUI.

Pemira IKM FTUI itu nggak cuma sekedar kita memilih si A dan si B, tapi itu adalah pesta demokrasi kita. Di mana, kita harusnya mengapresiasi semua calon, kita mengapresiasi diri kita sendiri terutama, dengan merayakan pesta demokrasi ini.

Kita seharusnya jadiin wadah ini, nggak cuma sebagai pendidikan politik, juga bukan sebagai kita ajang milih siapa, namun paling penting bahwa, jadikan ini sebagai pesta demokrasi. Pesta sendiri ya, ini harusnya dijadikan sebagai kesenangan. Ada suatu excitement, bahwa oh iya gue harus pilih si A,  karena gue tahu, si A dapat memberikan perubahan yang jauh lebih baik dari sekarang, dan membawa kita lebih dekat ke tujuan IKM FTUI.

Dari awal MPM memilih lo menjadi PO, apa motivasi yang menggerakkan lo maju?

Motivasinya sebenarnya ada dari tahun lalu, di mana waktu itu gue masih maba. Saat itu gue melihat bahwa seharusnya kampanye, seharusnya pemilihan, seharusnya semua bentuk yang ada di rangkaian pemira ini bisa jauh lebih baik, nggak sekedar kayak gitu doang.

Berangkat dari kekesalan gue ngelihat di Pemira tahun lalu. Pemira tahun lalu itu bagus, tapi ada hal-hal substansial yang seharusnya bisa membuat itu jauh lebih baik lagi.

Contoh, tahun ini apa yang gue bawa. Contohnya, nggak boleh ada lagi kampanye yang membagi-bagi barang konsumtif.

Karena ya, gampangnya begini, Setya Novanto, itu gimana dia bisa ada di DPR, ya dia dipilih, bagaimana caranya dia dipilih?  Ya caranya dia adalah ngebagi-bagi barang-barang, ngebagi kaos, ngebagi sembako, bikin dangdutan, itu cara-cara mendahulukan.

Masak iya sih kita mahasiswa yang harusnya menjadi agent of change, tapi ngikutin cara-cara Setya Novanto, yang seharusnya nggak usah ditiru. Dan kita harusnya mengikuti cara-cara orang baik. Karena gue tahu, mahasiswa FT, mahasiswa IKM FTUI, gue yakin siapapun yang maju punya niat baik. Cuma masalahnya, kadang-kadang niat baik ini nggak tersampaikan, dengan cara-cara yang harusnya bisa jauh lebih baik. Daripada cuma bagi-bagi barang kayak tisu, permen, pulsa, atau apapun itu.

Apa yang membedakan Pemira tahun lalu dari sekarang?

Yang  ngebedain tahun lalu dengan sekarang, kalau dari segi aturan seperti yang tadi gue bilang. Salah satunya adalah nggak boleh bagi-bagi barang konsumtif.

Tahun ini yang beda banget dengan tahun lalu adalah adanya budget maksimum. Budget maksimum ini dikhususkan untuk semua anggota atau peserta Pemira IKM FTUI. Yang pertama calon anggota MPM, calon ketua IMD IMPI, dan calon ketua BEM.

Untuk calon ketua BEM 1,5 juta, calon ketua IMD IMPI 600 ribu, dan calon anggota MPM 300 ribu maksimalnya.

Panitia tahun ini mencoba untuk memfasilitasi kampanye. Ada beberapa fasilitas yang ditawarkan panitia kepada calon-calon. Yang pertama adalah Safari Departemen.

Safari Departemen adalah suatu bentuk kampanye di mana si calon ini datang ke tiap-tiap departemen – kalau IMD/IMPI ke departemennya masing-masing dan Ketua BEM berarti ke semua departemen di Teknik, untuk mengenalkan diri, menjabarkan visi misinya, dan menjabarkan apa yang dia mau bawa, sambil nyari-nyari inputan dari warga.

Yang kedua Orasi Terbuka, di sini ditujukan untuk calon IMD IMPI dan calon ketua BEM. Calon bakal ngomongin secara searah apa yang mau dia bawa, apa yang mau dia lakukan, apa yang mau dia bawa sehingga kita sebagai warga, gue harap kita udah paham siapa sebenarnya calon kita jauh-jauh hari sebelum eksplorasi

Lalu yang ketiga adalah adanya debat terbuka. Debat terbuka ini emang ada di tahun lalu, cuma untuk tahun ini kita geser ke tanggal 15 November, untuk ketua BEM FTUI. Di sini kita akan ada pertanyaan-pertanyaan yang akan diperdebatkan oleh calon, yang gue berharap pertanyaan-pertanyaan ini mewakili isu-isu penting di FT saat ini. Di sini gue berharap warga benar-benar kenal siapa calon ketua BEM.

Tahun ini bakal dipisah debat terbukanya.

Ada berapa orang yang membantu lo dari  BPH?

Dari PJ, ada 8 PJ dept seperti biasa. Kalau BPH kita ada 15 orang, kalau staf ada sekitar 40an orang.

Apa ada peran Dekanat dari pemira tahun ini?

Dekanat? Sampai saat ini ini belum ada.

Jadi, pemira ini dilakukan mahasiswa FT sendiri dong?

Iya.

Apa lo kenal dengan semua calon yang maju?

Kalau semua yang belum tahu, ada 70an calon se FT. Kalau dibilang kenal sih nggak. Cuma, gue kadang- kadang ada di stand pendaftaran. Jadi kadang-kadang tahu mukanya lah.

Apa harapan untuk para calon?

Untuk para calon, gue berharap siapapun calon yang terpilih adalah yang terbaik. Yang kedua, selama masa kampanye, gue pengen calon itu bener-bener kasihtau ke warga apa yang mau dibawa. Nggak usah ada lagi lah bumbu-bumbu nggak jelas kayak bagi-bagi tisulah, bagi-bagi apalah.

Kasih aja ke warga visi lo apa, program lo apa karena itu yang akan diterima oleh warga.

Gue nggak ngelihat siapa lu, kita-warga juga gue yakin nggak akan ngelihat siapa lo, tapi warga akan ngelihat apa yang lo mau bawa, buat di tahun ke depannya.

Bagaimana pemira IKM yang sukses?

Pemira IKM yang sukses adalah pemira IKM yang berhasil sesuai tujuannya – (lihat lagi) apa tujuan Pemira IKM FTUI ini? Tujuannyayaitu memunculkan orang-orang terbaik yang memimpin di lembaga-lembaga (IKM FTUI).

Kalau misalnya yang terpilih adalah yang terbaik berarti itu sukses.

Apa harapan untuk Pemira IKM?

Harapan gue ya sama kayak tadi sih, bahwa siapapun yang terpilih adalah calon-calon yang terbaik.

Kesuksesan program juga ya?

Iya. (M)

***

Apa Harapan Lo untuk Pemira IKM FTUI 2017?

Harapannya supaya Pemira berjalan lancar, dan calon yang terpilih adalah pilihan warga yang terbaik.

Bagas Zaki Muhammad (TB 15, IMTK FTUI 2017)

***

Semoga berjalan dengan aman dan baik serta bisa menghasilkan orang-orang terbaik teknik untuk membawa teknik lebih baik setahun kedepan

Ananta Riezky B. (PI Metal 15, MPM FTUI 2016)

***

Gua berharap Pemira 2017 bisa berjalan dengan lancar, semua berjalan sesuai dengan aturan yang ada, dan bisa menjamin berjalannya sistem kampanye yang bersih. Dan kalo bisa ada sistem publikasi gitu terkait Pemira itu sendiri soalnya kan tiap tahun mungkin tata tertibnya bisa beda2

Muharam Kemal Adam (Mt 15, IMMt FTUI 2017)

***

Bisa berjalan luber jurdil, kekeluargaan antar pesaing demi teknik yang satu. Buat panitia pemira harus bisa netral dan tegas.

Fardan Fikriansyah (S 15, IMS FTUI 2017)