DAFTAR BACA:

  • THE 17TH CIVIL ENGINEERING NATIONAL SUMMIT UNIVERSITAS INDONESIA

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Peringati HUT IKM FTUI ke-48 Tahun, Mahasiswa FTUI Ikut Aksi Tuntaskan Reformasi Bersama Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Warisan BJ Habibie Untuk Indonesia dan Dunia

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Masih Perlukah Kita MUKER?

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • MUKER 9 IKM FTUI: Panggung untuk Kalibrasikan IKM atau Bubarkan IKM?

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Roket Falcon 9 SpaceX Bawa Satelit Nusantara Satu Terbang ke Angkasa.

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Peresmian Musholla Teknik Next Level

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Akun Instagram @ui.cantik Noda di Almamater

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Netizen Ribut di Timeline, Teknik Juara Olimpiade UI Jangan Dilupakan!

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Intip Sosok Pemimpin IKM FTUI 2019 Lewat Pemira

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Setelah Mundur Satu Hari Pemungutan Suara untuk Pemira FTUI Resmi dibuka

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Yuk, Membahas Pembangunan Perkotaan yang Berkelanjutan Bersama CENS UI

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Pandji Pragiwaksono ajak Mahasiswa Baru FTUI Berkarya untuk Indonesia

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Keindahan Orkestra dalam Dies Natalis ke-54 FTUI

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Buka Puasa Bersama Alumni di Affogato Coffee yang Penuh Kesan

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Potret Kejujuran Mahasiswa FTUI

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Istilah “Wibu” Yang Dipermasalahkan

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Meski Sementara, Harus Tetap Nyaman: Analisa Mikro dan Makro Musala Teknik Sementara

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Seminar Fintech UI dan Dana Cita “The Evolution of Fintech and Opportunities Ahead”

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • 2,8 Miliar Donasi Terkumpul, Renovasi Mustek Resmi Dimulai

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Hari Buruh Internasional: Serikat Buruh Sampai Pekerja Honorer

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Kerja Sosial FTUI 2018: Pengabdian FTUI kepada Masyarakat Desa Cikarae Thoyyibah

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Mungkinkah LPJ IKM FTUI Bertransformasi?

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Saham Uber Dicaplok Grab

    oleh admin, administrator
  • Mendengarkan Musik dan GPS Sambil Berkendara Ditilang?

    oleh Teknika FTUI, administrator
  • Ketua BEM UI Acungkan ‘Kartu Kuning’, Tanggapan BEM FT ?

    oleh Teknika FTUI, administrator

Akun Instagram @ui.cantik Noda di Almamater

Praktik Komodifikasi Perempuan Masih Terjadi di UI

Akun Instagram @ui.cantk memajang foto mahasiswi UI tanpa Izin

Akun Instagram @ui.cantk memajang foto mahasiswi UI tanpa Izin

Akun Instagram @ui.cantik yang sudah lama ada kini mulai meresahkan Mahasiswa dan Mahasiswi UI. Pasalnya di zaman yang maju seperti sekarang masih terjadi praktik komodifikasi perempuan dan yang lebih mencengangkan lagi praktik tersebut terjadi di Universitas Indonesia yang dilakukan oleh akun Instagram @ui.cantik. Praktik komodifikasi perempuan pada akun @ui.cantik dilakukan dengan cara mengambil foto dari akun Instagram milik mahasiswi Universitas Indonesia tanpa izin kemudian menyebarkannya menggunakan akun Instagram @ui.cantik untuk memancing orang untuk menjadi pengikut akun Instagram tersebut. Saat ini akun Instagram @ui.cantik telah memiliki lebih dari 227.000 pengikut dan tak jarang dari pengikut tersebut melakukan kegiatan yang menjurus pada kegiatan sexual harassment mulai dari berkomentar cantik atau melontarkan komentar yang kurang pantas pada akun Instagram @ui.cantik mengenai foto dari mahasiswi UI yang di-posting tersebut.

Tak jarang dari mahasiswi UI yang foto pribadi miliknya di-posting pada akun Instagram @ui.cantik sedikit merasa risih, karena selain foto pribadinya di-posting tanpa izin oleh akun Instagram @ui.cantik informasi pribadinya seperti Nama, Jurusan, Angkatan hingga username akun Instagram miliknya pun dapat dijumpai pada posting tersebut. Hal ini tentu dapat membahayakan pemilik foto tersebut. Karena tak jarang mereka diikuti oleh orang yang tak dikenal pada akun Instagramnya. Orang yang tiba-tiba mengikuti akun Instagramnya setelah foto mereka di-posting oleh akun Instagram @ui.cantik tak jarang melakukan komentar hingga direct massage dengan kalimat yang tidak pantas kepada akun pemilik foto tersebut.

Mahasiswi UI Risih

Ungkapan kekesalan mahasiswi UI yang minta agar fotonya dihapus dari akun @ui.cantik

Salah satu mahasiswi UI meluapkan kekesalannya terhadap akun Instagram @ui.cantik karena merasa dirugikan dan foto pribadinya dijadikan objek dari komodifikasi perempuan yang dilakukan oleh akun Instagram @ui.cantik dalam sebuah story pada Instagram sebagai berikut. Mahasiswi UI ini pernah mengirimkan pesan kepada akun @ui.cantik yang pernah me-posting foto pribadi miliknya tanpa izin, namun akun Instagram @ui.cantik ini tidak merespon sama sekali hal itulah yang membuat mahasiswi ini kesal.

Bisnis Itu Masih Ada

Akun Instagram @ui.cantik yang memiliki lebih dari 227.000 pengguna Instagram ini tak jarang me-posting iklan dari pihak lain yang menginginkan produk atau barang dagangan mereka laris. Mulai dari produk kecantikan hingga fashion sering kita jumpai pada akun Instagram @ui.cantik ini.

iklan ui.cantik

salah satu iklan paid promote pada akun Instagram @ui.cantik

Untuk dapat mengiklankan produk mereka pada Akun Instagram @ui.cantik pemilik usaha dengan senang hati membayarkan sejumlah uang kepada pengelola akun Instagram @ui.cantik yang kemudian disebut sebagai Paid Promote . Penasaran dengan berapa jumlah yang dibayarkan oleh pemilik usaha agar dapat diposting pada akun Instagram @ui.cantik kami mencoba untuk mencari tahu kepada seseorang yang pernah menggunakan layanan paid promote milik akun Instagram @ui.cantik . Kami diberikan semacam tangkapan layar surat elektronik yang dikirimkan oleh akun @ui.cantik yang berisikan rincian harga yang harus dibayarkan pemilik usaha sebagai berikut.

email ui cantik

Biaya Paid Promote akun Instagram @ui.cantik

Menurut email tersebut jumlah yang harus dibayarkan pemilik usaha dapat mencapai Rp 300.000,00 untuk satu foto yang dipublikasikan lewat akun Instagram @ui.cantik. Apakah orang – orang yang fotonya di-posting pada akun Instagram @ui.cantik tanpa sepengetahuan mereka mendapatkan bagian dari kegiatan paid promote tersebut? Jawabannya adalah tidak, hanya pemilik dan pengelola akun Instagram @ui.cantik yang mendapatkan keuntungan dari kegiatan paid promote tersebut. Sementara itu, Mahasiswi UI yang fotonya dipajang pada akun Instagram @ui.cantik tanpa izin dari mereka tidak mendapatkan apa – apa.

Noda di Almamater serta Pelanggaran Hukum @ui.cantik

Penyalahgunaan Logo dan Nama Universitas Indonesia

Logo UI di @ui.cantik

Penyalahgunaan Logo Makara pada Akun Instagram @ui.cantik

Logo yang digunakan oleh akun Instagram @ui.cantik merupakan logo Universitas Indonesia dan pemilik atau pengelola akun Instagram @ui.cantik tidak memiliki izin penggunaan logo sebagaimana yang tertulis pada PP No. 23 tahun 2013 tentang Statuta Universitas Indonesia.

Logo dan Nama Universitas Indonesia telah mempunyai Sertifikat Hak Merek No IDM000339468 pemilik dan pengelola akun Instagram @ui.cantik dapat terancam pidana sebagaimana yang diatur oleh Bagian XVIII Ketentuan Pidana pada Undang – Undang No. 20 tahun 2016 tentang Merek jika pihak Universitas Indonesia mau melaporkan penyalahgunaan logo dan nama Universitas Indonesia ini.

Dalam akun Instagram @ui.cantik terdapat penyalahgunaan Logo dan Nama Universitas Indonesia, dalam hal ini pemilik dan pengelola akun Instagram @ui.cantik mendapatkan keuntungan dengan adanya Paid Promote pada akun tersebut.

Noda di Almamater

Akun Instagram @ui.cantik menodai almamater Universitas Indonesia dengan melakukan kegiatan story pada akun Instagramnya yang terkesan memaksakan pandangan politik dengan merendahkan salah satu pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden yang akan berlaga pada Pemilu 2019.

Instastory ui cantik

salah satu Instastory @ui.cantik yang merendahkan salah satu pasangan calon presiden dan wakil presiden 2019

Selain hal tersebut akun Instagram @ui.cantik juga kedapatan mengikuti salah satu Instagram milik partai politik yang akan berlaga pada Pemilu 2019.

ui.cantik tidak netral

Akun ui.cantik mengikuti akun partai politik

Apa yang telah dilakukan oleh akun Instagram @ui.cantik tersebut menodai Intelektualitas serta netralitas Universitas Indonesia. Penyalahgunaan Logo dan Nama Universitas Indonesia yang dilakukan oleh akun Instagram @ui.cantik ini tidak hanya soal komersialisasi tetapi juga politisasi media sehingga perlu adanya tindak lanjut dari Universitas Indonesia untuk menangani hal tersebut.

Pelanggaran Hukum Akun Instagram @ui.cantik

Akun Instagram @ui.cantik meresahkan Universitas Indonesia pasalnya masih melakukan kegiatan komodifikasi Mahasiswi UI dengan cara mempublikasikan ulang foto dan data diri Mahasiswi UI tanpa izin dan tanpa sepengetahuan dari Mahasiswi UI tersebut.

Praktik penyebaran foto dan data diri Mahasiswi UI yang dilakukan oleh akun Instagram @ui.cantik telah melanggar Hak atas Privasi  pada Pasal 28G Undang – Undang Dasar 1945 yang berbunyi:

“Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan  hak asasi.”

Komodifikasi ini menguntungan pihak pengelola akun Instagram @ui.cantik yang mendapatkan bayaran dari paid promote dari pihak yang ingin mengiklan pada akun tersebut sehingga jika ada yang merasa dirugikan karena foto pribadi miliknya digunakan oleh akun Instagram @ui.cantik dapat melakukan tuntutan karena akun tersebut telah melanggar Pasal 12 Undang – Undang Hak Cipta sehingga pemilik akun Instagram @ui.cantik dapat dikenai sanksi pidana sebagai mana yang diatur pada Pasal 115 Undang – Undang Hak Cipta yang berbunyi:

“Setiap Orang yang tanpa persetujuan dari orang yang dipotret atau ahli warisnya melakukan Penggunaan Secara Komersial, Penggandaan, Pengumuman, Pendistribusian, atau Komunikasi atas Potret sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 untuk kepentingan reklame atau periklanan untuk Penggunaan Secara Komersial baik dalam media elektonik maupun non elektronik, dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).”

Penggunaan Logo dan Nama Universitas Indonesia yang tanpa izin untuk keuntungan pribadi dan golongan dapat membuat akun Instagram @ui.cantik dijerat kasus hukum sesuai dengan Undang – undang No.20 Tahun 2016 tentang Merek.

Penutup

Akun Instagram @ui.cantik telah merugikan Universitas Indonesia dimulai dari penggunaan Logo dan Nama Universitas Indonesia pada akun tersebut untuk kepentingan pribadi,  mempublikasikan ulang foto dan data diri Mahasiswa UI tanpa izin dan sepengetahuan Mahasiswi UI, hingga mengungkapkan pandangan politik untuk menjatuhkan salah satu Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden pada story Instagram @ui.cantik dengan menggunakan identitas UI yang mencederai intelektualitas dan netralitas dari mahasiswa UI.

Perlu adanya tindak lanjut dari pihak Universitas Indonesia terhadap akun Instagram @ui.cantik karena sudah meresahkan Mahasiswa dan Mahasiswi Universitas Indonesia serta Nama baik Universitas Indonesia.

Sebagai mahasiswa Universitas Indonesia penting bagi kita untuk menjaga foto dan data diri kita yang lainnya di media social agar tidak dimanfaatkan oleh orang – orang yang tidak bertanggung jawab dan yang terpenting adalah berani untuk berbicara dan melaporkan kegiatan yang dianggap menyimpang serta merugikan diri pribadi, ataupun orang lain disekitar.

Penulis: Irmansyah Turhamun

Redaksi

Teknika FTUI 2018

#WhatIsOnYourMind

 

 

 



Potret Kejujuran Mahasiswa FTUI

“Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar, kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur sulit diperbaiki.” 

Seringkali kita mendengar kutipan kalimat tersebut, namun bisa jadi seringkali hanya lewat di lubang telinga kita tanpa menyerap maknanya. Padahal dengan gamblang salah satu Bapak Pendiri Bangsa, Drs. H. Mohammad Hatta menjelaskan tentang kurangnya kecerdasan dan kemampuan tidak terlalu bermasalah dibandingkan dengan kurangnya kejujuran. Setidaknya itulah yang terjadi di zaman beliau yang mirisnya 72 tahun setelah Indonesia merdeka, kejujuran semakin menjadi barang langka. Hampir di seluruh elemen bangsa Indonesia, mulai dari dari tingkat birokrat hingga rakyat sudah terjangkit penyakit yang tak terlihat namun mematikan, yaitu kurangnya kejujuran.

Ilustrasi korupsi di Indonesia (Sumber : www.belapendidikan.com)

Peneliti Divisi Investigasi Indonesia Corrupption Watch (ICW) Wana Alamsyah yang dilansir oleh Tempo.co mengatakan terdapat 576 kasus korupsi di tahun 2017. Angka ini bertambah hampir mencapai 20% dibandingkan tahun 2016 yakni 482 kasus, dengan tersangka yang berjumlah 1.101 menjadi 1.298 orang di tahun 2017. Fakta ini semakin menyedihkan dengan dipaparkannya jumlah kerugian negara yang meningkat dengan angka sebesar Rp 6,5 triliun (penyumbang terbesar kerugian negara akibat terungkapnya kasus mega korupsi E-KTP sebesar Rp 2,3 triliun) dan suap sebesar Rp 211 miliar.

Paparan di atas mungkin sudah membuat kita geleng-geleng kepala, namun hal tersebut baru dari segi politisi. Bagi para akademisi, virus korupsi ini memang tidak berupa uang atau berbentuk fisik, namun bisa disamakan dengan penyakit menyalin dokumen penelitian tanpa izin alias plagiarisme atau bisa juga dengan digunakan istilah menyontek. Menurut data Kemendikbud kepada tribunnews.com yang disampaikan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti-pada tahun 2014, Pendidikan Tinggi masih berada di bawah kewenangan Kemendikbud) Djoko Santoso, kasus plagiat atau biasa disebut copy-paste pada proses sertifikasi dosen mencapai 808 kasus di tahun 2013. Data yang sangat banyak tersebut hanyalah data yang terlacak dan resmi, bagaimana dengan yang tidak? Secara logika, tentu angkanya akan lebih banyak lagi.

Masa Depan Bangsa di Tangan Mahasiswa

Tidak ada yang perlu disalahkan dari data-data di atas. Bagaimanapun juga, angka-angka yang muncul hari ini adalah akibat masa lalu dan sebagai manusia yang terus melakukan continuous improvement, sudah sepatutnya generasi muda hari ini berbenah dan merefleksi diri untuk masa depan bangsa yang lebih cerah. Siapakah generasi muda yang dimaksud? Pelajar SD, SMP, SMA, dan.. Mahasiswa. Ya, Anda sebagai seorang mahasiswa adalah salah satu dari generasi harapan tersebut. Mahasiswa seringkali menyuarakan pendapat dan kritiknya dalam kajian-kajian unik maupun propaganda penuh sindiran pada pemerintah, DPR, ataupun pejabat lain yang menyelewengkan kekuasaannya. Hal itu tidak salah karena pada prinsipnya mahasiswa adalah agent of change, iron stock, dan social control. Hal itu juga yang dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

“…berguna bagi agama, bangsa, dan negara,”

setidaknya seperti itulah penggalan kalimat yang selalu digaung-gaungkan oleh mahasiswa FTUI. Namun semangat positif itu seringkali ternodai oleh isu tak sedap bahwa faktanya mahasiswa FT terserang wabah penyakit korupsi sejak dini alias plagiarisme ataupun menyontek. Isu itu lah yang mendorong kami, BEM FTUI, seluruh Bidang Akademis dan Keprofesian (AKPRO) IMD/IMPI FTUI, dan TEKNIKA FTUI untuk berkolaborasi dalam membuat sebuah survei untuk membuktikan kebenarannya. Survei yang dilakukan secara online pada 16 Mei 2018 tersebut telah mengumpulkan sebanyak 302 data responden dengan rata-rata rasio pengisian sebesar 12,5% setiap Departemen dan Program Internasional.

 

   

91,4% Pernah Menyontek, 92,9% Ingin Bertaubat

Menurut hasil survei ternyata membuktikan bahwa 91,4 % responden mengaku pernah menyontek, baik itu dalam bentuk tugas, quiz, ataupun ujian dengan intensitas 39% jarang, 31,7% kadang-kadang, 24,1 % sering. Yang mengejutkan adalah 5,2% responden mengaku selalu menyontek dan 7,1 % atau sekitar 21 responden tidak memiliki niat untuk mengubah kebiasaan menyontek. Tentu hal ini cukup memprihatinkan karena meskipun persentase responden yang terbiasa menyontek kecil, sewaktu-waktu dapat menularkan virus pada rekan sebayanya yang 28,7 % menyatakan iri atau merasa tidak adil dengan para pelaku sehingga mendorong mereka untuk berbuat serupa agar memperkecil selisih nilai yang didapatkan.

Faktor pendorong terbesar lainnya yang juga perlu diwaspadai oleh stakeholders untuk mencegah perilaku menyontek adalah responden yang kurang memahami materi dosen/fasilitator sebesar 63%, soal-soal yang diujikan terlalu sulit 49,5 %, pengawas yang longgar dalam mengawas ujian sebesar 26,3 % dan sanksi kurang tegas sebesar 13,1 %. Faktor-faktor itu justru terbantahkan dengan sendirinya oleh data yang menunjukkan bahwa 56,9% responden merasa tidak ada pengaruh signifikan antara menyontek dengan perolehan IP (Indeks Prestasi) atau justru mengalami penurunan (3,1%). Oleh karena itu, pihak Dekanat sebenarnya telah memberikan himbauan yang cukup tegas dalam laman academic.ui.ac.id yang berisi sebagai berikut:

“Mahasiswa peserta ujian yang melanggar tata tertib ujian dan khususnya yang melakukan kecurangan dengan melihat catatan, atau peralatan lain, kerjasama dengan peserta lain atau mahasiswa di luar ruangan, dan digantikan atau menggantikan oleh mahasiswa lain akan dikenakan sanksi akademis yang telah diatur dengan Surat Keputusan Dekan Fakultas Teknik UI Nomor 622/D/SK/FTUI/IX/2016 tertanggal 26 September 2016. Kepada mahasiswa yang terlibat pelanggaran dan kemudian mengancam/melakukan tindak kekerasan kepada pengawas, panitia ujian atau dosen yang bersangkutan sehubungan dengan sanksi yang dijatuhkan terhadapnya, akan langsung dijatuhkan sanksi dikeluarkan dari Fakultas Teknik UI.”

        

Kemudian, selain dari faktor eksternal, beberapa faktor internal resp onden mahasiswa ketika menyontek adalah 39,1 % mengaku tidak belajar, 22,8 % kurang percaya diri, dan 7,6 % merupakan budaya yang terbawa dari SMP maupun SMA. Apabila gejala permasalahan tersebut dapat ditarik pada akar masalah, mungkin saja terjadi akibat intensitas kegiatan diluar akademis yang terlalu berlebihan sehingga dapat mengganggu fokus dalam belajar atau juga pengaturan agenda kegiatan non-akademis individu masing-masing yang masih berantakan. Mahasiswa yang memiliki tingkat kesibukan non-akademis cukup tinggi, tidak perlu menjadikan kegiatannya sebagai kambing hitam karena begitu banyak alumni FTUI yang sukses baik di akademis maupun non-akademis.

Masih ada harapan bagi mahasiswa FTUI untuk terus memperbaiki diri, hal ini dibuktikan dengan 92,9 % mahasiswa merasa perlu untuk merubah perilaku menyontek dengan beberapa faktor pendorong, yakni soal ujian yang mudah (48,3%), pengawas ujian yang memperketat pengawasan (40,9%), dan beribadah secara maksimal (37,8%). Faktor-faktor tersebut masih menekankan pada faktor internal individu responden sehingga terdapat beberapa rekomendasi dari responden yang sekiranya dapat diaplikasikan di lingkungan Fakultas Teknik Universitas Indonesia baik secara pribadimahasiswa maupun oleh stakeholders FTUI sehingga pada akhirnya dapat membuang jauh-jauh terpaan isu mengenai mahasiswa FTUI yang menyontek dan membalikkan kondisi menjadi mahasiswa FTUI yang jujur, berintegritas, dan siap menjadi harapan untuk bermanfaat bagi bangsa, agama, dan negara.

 

 

 

       

Saran untuk Mahasiswa

  1. Mahasiswa FTUI sudah sepatutnya untuk terus meningkatkan keimanan kepada Tuhan YME. Dengan meningkatnya iman dan keyakinan bahwa Tuhan Maha Melihat, maka perilaku menyontek dapat dihilangkan dengan perasaan pasrah dan yakin bahwa hasil tidak akan mengkhianati usaha yang telah diberikan.
  2. Mahasiswa FTUI yang berpredikat “Maha” atas kesiswaannya sudah sebaiknya menata ulang mental dan mindset bahwa suasana dan proses belajar di perkuliahan sangat berbeda dengan di sekolah menengah. Bagi mahasiswa yang terbiasa dibimbing materi oleh guru di sekolah, sudah waktunya untuk beradaptasi dengan sistem Problem-Based Learning yang menuntut keaktifan mahasiswa. Mahasiswa bisa membentuk kelompok belajar yang saling membantu ketika kesulitan dalam belajar ataupun menggali ilmu lebih dalam melalui materi-materi lain yang dapat dengan mudah diakses melalui internet ataupun melalui senior. Mahasiswa perlu menanamkan pemikiran bahwa dosen/asisten hanyalah fasilitator yang membimbing sehingga perlu untuk mengeskplorasi lebih jauh dan dalam.
  3. Mahasiswa FTUI yang seringkali menyontek dapat saling menghargai dan menaruh respek kepada sesama teman terutama bagi yang tidak menyontek. Dengan saling menghargai dan tidak menimbulkan kecemburuan sosial, maka perilaku menyontek akan hilang dengan sendirinya. Selain itu, perlu dipahami bahwa pantang menyontek adalah bagian dari membangun kembali harapan bangsa dan menyelaraskan prinsip mahasiswa yang sering menyuarakan pendapat kritisnya kepada pejabat yang melakukan korupsi. Menyontek adalah awal dari korupsi di masa yang akan datang.

Saran untuk Stakeholders

  1. Secara teknis, ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pihak Dekanat terutama bagian penyediaan fasilitas FTUI. Usulan yang didapatkan dari hasil survei adalah:
    1. Pemasangan CCTV di setiap kelas yang digunakan untuk ujian, sehingga mahasiswa akan merasa diawasi.
    2. Penyediaan alat jammer portable atau penghilang sinyal telepon genggam. Beberapa usulan serupa ditemukan dalam hasil survei sehingga dinilai cukup efektif apabila diterapkan di era yang sangat familiar dengan smartphone yang seringkali disalahgunakan oleh mahasiswa untuk menyontek. Alat jammer portable yang relatif murah (kurang dari Rp 1 juta) ini dapat menghilangkan sinyal mahasiswa yang berada di kelas tersebut. Apabila pendanaan terbatas, maka dapat diterapkan sistem peminjaman kepada penjaga gedung kelas oleh Dosen atau Pengawas Ujian setiap kali akan digunakan.
  2. Secara non teknis, diberikan beberapa usulan sebagai berikut:
    1. Dekanat dapat melakukan penyuluhan kepada Dosen atau pengawas ujian untuk memperketat pengawasan ujian secara operasional sehingga sanksi atas perilaku tidak jujur mahasiswa dapat benar-benar terealisasikan.
    2. Selain itu Dekanat juga dapat dilakukan dengan pemberian penyuluhan dan publikasi secara masif mengenai bahaya menyontek dan sanksi yang akan diberikan kepada mahasiswa sehingga mahasiswa akan lebih aware dan memberikan dorongan untuk berperilaku jujur.
    3. Dekanat dapat meningkatkan peran asisten dosen dalam melakukan pengawasan ujian dengan memberikan reward bagi pengawas yang dapat menangkap basah mahasiswa yang ketahuan menyontek.
    4. Seluruh Lembaga Kemahasiswaan FTUI perlu untuk bersama-sama menyuarakan propaganda kejujuran sehingga menimbulkan rasa sungkan pada pelaku menyontek untuk tidak meneruskan perbuatan salahnya. Kejujuran atau integritas perlu dipupuk sejak mahasiswa atau mungkin dapat dimasukkan dalam salah satu poin pembinaan mahasiswa FTUI. Bisa juga dengan dilakukan pemilihan Duta Kejujuran yang dapat mendorong teman-temannya untuk bertindak jujur ketika ujian.
    5. Lembaga Kemahasiswaan FTUI juga sebaiknya bijak dalam menentukan agenda kegiatan terutama apabila mendekati masa ujian akhir, mengurangi jumlah program kerja yang tidak memberikan manfaat, serta berkoordinasi secara lebih intensif sehingga tidak sering terjadi tumpang tindih kegiatan dalam satu hari yang menyebabkan mahasiswa kelelahan dan tidak belajar.
    6. Bagi Dosen yang mengajar juga dituntut untuk memberikan inovasi sistem penilaian atau ujian yang lebih kreatif, sehingga dapat meminimalisasi kesempatan mahasiswa dalam melakukan perbuatan menyontek. Seperti contohnya ujian menggunakan laman scele.ui.ac.id, atau dengan menambah variasi kode soal, atau dengan memberikan skema penilaian yang bertingkat (20 pengumpul pertama dikali dengan 1,0; 20 pengumpul kedua dikali dengan 0,9; dan seterusnya) sehingga bagi mahasiswa yang mencoba untuk menyontek akan mendapatkan nilai yang tidak setara dengan yang dicontek.

 

      

Tulisan ini dibuat dalam Riset dan Kajian bertemakan #KolaborasiGerakanUASJujur yang dilaksanakan oleh Akpro BEM FTUI dengan seluruh Akpro IMD/IMPI dan Teknika FTUI 2018.

 

 

 



Mungkinkah LPJ IKM FTUI Bertransformasi?

  Bagi mahasiswa yang bergelut dengan dunia kemahasiswaan IKM FT UI, tentu sudah tidak asing lagi dengan istilah LPJ. LPJ yang merupakan akronim dari Laporan Pertanggung Jawaban merupakan sebuah laporan rutin yang dibuat setiap triwulannya oleh lembaga di IKM FT UI. LPJ triwulan 1, 2, 3A, dan 3B dibuat oleh BEM dan IMD/IMPI serta semester 1, 2, dan 2A dibuat oleh BO,BSO,BOK, dan KPD.

Secara umum, laporan di IKM FT UI ada 2 jenis, yaitu laporan keuangan dan Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ). Laporan keuangan biasanya berisikan cashflow, triwulan budget report, dan RKAT pengeluaran internal. Sedangkan LPJ sendiri umumnya berisikan gambaran umum, pencapaian visi misi, pencapaian IKG, keharmonisan lembaga, pemberdayaan stakeholder, penilaian ketua umum, deskripsi bidang, LPJ bidang, dan rencana strategis lembaga untuk ke depannya. Laporan-laporan tersebut belum termasuk detail yang harus dilampirkan seperti LPJ program kerja proyek, dokumentasi proker, HRE (Human Resource Evaluation), IKG (Indeks Kercapaian GBHI), tools evaluasi, notulensi dan presensi rapat, timeline, quality control. Apabila ditotal, maka dalam satu triwulan, rata-rata lembaga diharuskan untuk menyelesaikan lebih dari 10 jenis laporan.

Menurut Irfan Faisal Pane, Ketua MPM FT UI 2017, tujuan dari dibuatnya LPJ adalah untuk mempermudah pengarsipan, sebagai bukti apa yang sudah dikerjakan oleh lembaga di IKM FT UI. Selain itu, LPJ dibuat setiap triwulan atau semester agar kita dapat mengetahui perkembangan dari sebuah organisasi sehingga penerus dari organisasi tersebut dapat menjadikan laporan tersebut sebagai acuan. Pemaparan tersebut dapat menjelaskan bahwa LPJ memang dibuat secara detail mulai dari perencanaan, ketercapaian, hingga data yang membuktikan ketercapaian tersebut, kemudian laporan, evaluasi, dan rencana strategis.

        Mekanisme yang saat ini sudah dilakukan adalah LPJ yang telah dibuat oleh lembaga nantinya akan dikumpulkan ke MPM tiap triwulan, lalu akan dicek dan diperhitungkan untuk IP lembaga. IP lembaga ini sebagai ‘bukti representatif’ apakah kinerja dari suatu lembaga telah memenuhi parameter yang dibuat atau tidak atau telah mencapai capaian-capaian tertentu (MPM menyebut ini sebagai acuan rahasia). Selain itu, tiap akhir triwulan setelah pengumpulan LPJ di tiap lembaga juga diadakan Hearing LPJ, dimana tiap lembaga dan BPH mempresentasikan perbandingan kinerja dengan parameter mereka di hadapan warga yang bersangkutan, sehingga warga dapat mengerti progress dari lembaga tersebut seraya memberi masukan agar kinerja mereka lebih baik lagi. Tak jarang warga IKM FT UI terutama yang diwadahi oleh lembaga tersebut menjadikan acuan atau judgement MPM yang dimunculkan dalam IP lembaga untuk mengevaluasi dan memvonis berhasil atau tidaknya lembaga tersebut dalam satu tahun kepengurusannya.

        MPM sebagai pemegang peran legislasi dan yudikasi berdalih LPJ dibuat sedetail mungkin agar penilaian dan evaluasi dapat dilakukan secara efektif, dengan kata lain, mendapatkan hasil yang seoptimal mungkin. Namun, dengan laporan yang sedemikian banyaknya itu, pernahkah kita berpikir apakah laporan di IKM FT UI sudah cukup efektif dan efisien?

Apakah selama ini LPJ sudah efektif ?

Dari data survei yang dilakukan oleh Teknika FT UI pada 51 responden mahasiswa yang telah dan sedang menjabat sebagai Badan Pengurus Harian (BPH), didapatkan 27 % responden merasa bahwa LPJ tidak representatif berbanding 35% responden merasa LPJ cukup representatif, sedangkan 25% responden memilih netral.

Dari hasil indeks persepsi tingkat representasi LPJ tersebut, dapat disimpulkan bahwa 87% masih berada dalam rentang yang meragukan (tidak, netral, dan cukup representatif) sehingga LPJ yang dibuat saat ini perlu dianalisis lebih lanjut, apakah LPJ yang dibuat merepresentasikan pencapaian lembaga sebenarnya.

Jika 87% masih dalam angka ragu akan kerepresentatifan LPJ yang telah dibuat, maka dapat dikatakan bahwa masih dibutuhkan media atau cara penyampaian lainnya agar dapat menutup celah tersebut. Melihat banyaknya jumlah laporan yang dibuat dan juga banyak isi dari LPJ-LPJ yang telah ada maka cukup dipertanyakan keefektifan dari pembuatan LPJ ini. Untuk apa lembaga perlu membuat laporan yang sangat mendetail dan apalagi tidak hanya 1 jenis laporan yang harus digarap dalam satu tahun kepengurusan jika hasilnya masih memunculkan keraguan. Laporan yang efektif seharusnya tidak perlu sampai beratus-ratus halaman dan bertele-tele, Tempo Institute dalam lamannya mengatakan bahwa banyaknya laporan malah akan membuat banyak data dan hal penting lainnya yang seharusnya menjadi highlight dari laporan-laporan tersebut terkubur.

Mengenai tingkat keefektifan dari LPJ, dapat diketahui dari kemudahan pemahaman dalam membuat LPJ. Dari hasil survei, angka terbesar menunjukkan 39% responden survei merasa bahwa laporan di IKM FT UI tidak mudah untuk dipahami. Dengan bentuk LPJ yang meragukan untuk dapat dikatakan representatif ditambah dengan persepsi sulitnya LPJ untuk dipahami semakin menguatkan bahwa bentuk LPJ yang selama ini diadopsi tidak cukup efektif. Akan lebih baik jika LPJ dalam IKM FT UI ini menggunakan suatu format yang lebih mudah dipahami dikarenakan semakin mudah orang memahami isinya sehingga tujuan dari pembuatan LPJ yang dikemukakan di awal dapat tercapai.

Menguras Waktu, Namun Tak Berdampak Signifikan

LPJ yang menguras waktu seakan menjadi mitos yang tak pernah diungkap. Fakta menunjukkan bahwa dilihat dari waktu efektif kerja kepengurusan lembaga kemahasiswaan FT UI selama satu tahun kepengurusan atau dua semester, maka didapat rata-rata 98 hari efektif perkuliahan (sudah dikurangi dengan 17 hari Minggu dan 7 hari libur nasional) pada semester ganjil dan rata-rata 98 hari efektif perkuliahan (sudah dikurangi 16 hari minggu dan 3 hari libur nasional) pada semester genap yang jika ditotal terdapat 195 hari efektif perkuliahan.

Dengan waktu efektif kerja yang cukup sempit, dengan asumsi pengerjaan LPJ tidak dilakukan di masa libur, maka dari survei yang dilakukan oleh Teknika FT UI didapatkan bahwa mayoritas BPH di IKM FT UI membutuhkan waktu 4-7 hari untuk membuat LPJ dan jika ditambah dengan waktu merekap data, maka mayoritas membutuhkan waktu 8-14 hari untuk menyelesaikan LPJ per triwulannya. Apabila terdapat 4 tipe LPJ (triwulan 1,2, 3A, dan 3B) maka waktu efektif yang dihabiskan untuk membuat LPJ dapat mencapai 32-56 hari atau sama dengan 33%-57% kepengurusan. Perhitungan tersebut merupakan perhitungan kasar tanpa memperhitungkan faktor-faktor lain.

Dari fakta tersebut, dapat diambil kesimpulan waktu kerja efektif sebuah kepengurusan relatif sempit, apabila ditambah kewajiban membuat LPJ yang rumit dan membuang waktu, disinyalir program kerja-program kerja yang dicanangkan di awal kepengurusan hanya berorientasi menambah catatan-catatan manis untuk memenuhi dan mengejar parameter lembaga tanpa melakukan pengkajian evaluasi dan solusi strategis sehingga memberikan dampak yang signifikan bagi lembaga tersebut.

Dikutip dari grand design Hardiansyah (TI’14) saat mencalonkan diri menjadi ketua BEM FT UI 2017, rata-rata added value yang diberikan oleh lembaga kepada mahasiswa FT UI hanya berkisar di angka 2,61 dari 4.00. Hal ini jelas menggambarkan bahwasanya dampak yang diberikan lembaga bahkan terhadap warganya sendiri sangat minim. Dampak yang diberikan saja belum cukup optimal, namun lembaga sudah dibebani dengan laporan yang memperumit. Sudah saatnya kita memikirkan apakah memang LPJ dalam pengerjaannya sudah mengedepankan sisi efisiensi? Ataukah hanya menggugurkan kewajiban lembaga tanpa memikirkan dampak yang signifikan?

LPJ-ku sayang, LPJ-ku Dibuang

“Belajar dari pengalaman pribadi akan membuat Anda lebih baik, tetapi Anda tidak punya banyak waktu untuk mengalami semuanya sendiri. Belajarlah dari kumpulan pengalaman orang lain, dan Anda akan mempercepat kesuksesan” – Anonim

Era keterbukaan informasi saat ini mungkin sudah diadopsi dalam beberapa mekanisme di IKM FT UI, mulai dari LPJ, Laporan keuangan dan cashflow, notulensi, dan sebagainya. Namun apabila kita kembali kepada esensi IKM FT UI yang tertera dalam pembukaan IKM FT UI alinea pertama :

“…maka diperlukan suatu wadah perjuangan bagi mahasiswa agar terciptanya kehidupan yang positif, harmonis, dan saling membangun sebagai suatu keluarga di dalamnya.”

Pesan yang ingin disampaikan pendahulu kita adalah adanya suasana yang saling membangun antar lembaga maupun anggota yang berada di dalam IKM FT UI. Bagaimana suasana yang saling membangun itu dapat terjadi ? Kolaborasi, integrasi, singkronisasi, dan transparansi antar lembaga menjadi kunci utama sebelum suasana saling membangun tersebut dapat terjadi.

Membahas tentang transparansi data, fenomena yang terjadi di IKM FT UI seringkali menyebarluaskan data secara mentah tanpa adanya proses simplifikasi dan pengolahan hingga memberikan insight bagi pembaca. Padahal merujuk pada data resmi UNESCO mengenai tingkat minat baca generasi milenial Indonesia adalah sangat rendah, yaitu 0,01 persen setahun ( artinya dari 1000 orang di Indonesia, hanya 1 orang yang berminat membaca). Fakta tersebut menggambarkan bahwa penyebarluasan data secara mentah dinilai sangat tidak efektif dan hanya terkesan menggugurkan kewajiban transparansi data kepada warga IKM FT UI.  

 

 

Dari data yang dikumpulkan oleh Teknika FT UI, dalam 1 tahun kepengurusan, terdapat 8712 lembar LPJ yang dibuat oleh seluruh lembaga di FT UI. Apabila diasumsikan dalam satu tahun terdapat 365 hari, maka diperlukan waktu 23 lembar per hari untuk benar-benar membaca seluruhnya. Tentu ini menjadi sebuah angka yang cukup fantastis bagi sebuah lembaga kemahasiswaan yang hanya berskala fakultas. Dan tentu pertanyaan menggelitik akan muncul, “Kira-kira, dibaca semua tidak ya ?,” atau “jangan-jangan arsip-arsip tersebut hanya akan menjadi arsip usang yang tidak pernah dibaca lagi, lalu hilang ditelan zaman, toh juga ada TWTW (Tukar Wawasan) secara lisan yang lebih praktis dan to the point ?”

Kembali pada Pembukaan IKM FT UI yang telah memberikan mandat pada lembaga di IKM FT UI untuk saling membangun, faktanya  lembaga hanya menyebarluaskan data LPJ maupun Laporan Keuangan secara mentah di media sosial. Tentu akan muncul sebuah pertanyaan, apakah iklim saling membangun dan berbagi pengalaman antar lembaga di IKM FT UI untuk menuju continuous improvement IKM FT UI dapat terlaksana dengan baik ? Sudahkah ? Atau belum sama sekali ?

Hal tersebut mengindikasikan bahwa lembaga IKM FT UI seringkali berjalan sendiri dengan arah sendiri (atau bahkan tak punya arah) tanpa saling membangun satu sama lain, tanpa memberikan insight, dan tanpa berbagi pengalaman positif maupun negatif sehingga percepatan inovasi program kerja dan kegiatan di seluruh Lembaga IKM FT UI tidak akan pernah tercapai. Ini adalah pekerjaan rumah yang besar bagi kita semua.

Mencari Titik Temu Efektivitas dan Efisiensi LPJ IKM FT UI

Laporan Pertanggung Jawaban seringkali menjadi pisau bermata dua. Ia bisa memperkuat organisasi yang rapi dan detail LPJ-nya, namun bisa juga membunuh organisasi secara perlahan dengan segala bentuk kerumitan birokrasi, tidak efisien dan efektif, serta dianggap kuno sehingga dapat berdampak pada regenerasi organisasi tersebut. Laporan yang begitu banyak dan detail tentu akan memakan energi dan waktu yang tidak sedikit meskipun laporan tetap dibutuhkan sebagai bagian dari bukti atas kinerja satu tahun kepengurusan. Laporan yang bertumpuk juga belum tentu dibaca seluruhnya oleh pengurus internal lembaga tersebut ataupun MPM selaku pemeriksanya.

Di era yang serba cepat ini, tentu organisasi, lembaga, maupun pemerintahan harus melakukan adaptasi diri dengan memberlakukan aturan-aturan yang lebih up to date, fleksibel, dan sesuai dengan karakter generasi milenial. Apabila kita melihat situasi saat ini, laporan yang bertumpuk-tumpuk dianggap sudah kuno dan hanya memperumit proses tanpa memberikan dampak signifikan bagi perbaikan kinerja. Presiden RI, Joko Widodo, sering mengingatkan jajarannya soal pembuatan laporan pertanggung jawaban. Selama ini, dia menilai para pejabat justru sibuk membuat laporan, bukannya fokus bekerja. Jokowi mengatakan, selama ini laporan bisa beranak-pinak ketika dibawa dari pusat sampai ke daerah. “Empat puluh empat saja sudah terlalu banyak, ditambah lagi anaknya jadi 108, sudah pusing semuanya kita. Habis-habisin kertas saja,” ujar Jokowi saat membuka Rakernas Akuntansi dan Laporan Keuangan Pemerintah di Istana Negara, Jakarta, Kamis (14/9/2017) seperti dikutip pada liputan6.com.

Presiden RI, Ir. Joko Widodo memberikan pidato terkait laporan keuangan dan beberapa kementerian yang bertele-tele dalam sebuah rapat di Istana Negara (18/5/2017) (Foto : Fabian Januarius/kompas.com)

 

Dalam kesempatan lainnya, Presiden RI yang sempat memberikan pidato dalam kegiatan Dies Natalis UI ke-68 tersebut juga pernah menyampaikan, “”Enggak usah laporan itu bertumpuk-tumpuk, tapi duitnya juga hilang, untuk apa? Laporan seperti itu untuk apa? Enggak ada gunanya,” ujar Jokowi dalam acara pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Pengawasan Internal Pemerintah Tahun 2017 di Istana Negara, Kamis (18/5/2017) dikutip dari kompas.com.

Dengan membandingkan kondisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa kondisi kerumitan birokrasi pemerintah dan IKM FT UI relatif tak jauh berbeda. Namun, harapan perubahan LPJ itu masih ada. Semangat perubahan mahasiswa harusnya dapat lebih cepat menuju ke arah yang lebih baik. Beberapa contoh laporan yang bisa digunakan sebagai pengganti laporan administrasi yang rumit adalah laporan dalam bentuk infografis, video kreatif, ataupun website IKM FT UI yang terintegrasi.

Infografis misalnya, media yang menggabungkan antara desain visual dengan konten saat ini begitu viral di kalangan mahasiswa maupun masyarakat. Selain bentuknya yang ringkas, mudah dibaca, dan menarik, infografis seringkali lebih memicu pembaca untuk mendapatkan banyak insight dan pengetahuan baru. Lembaga IKM FT UI akan dengan mudah membuat sebuah infografis yang berisi tentang pencapaian secara umum dalam satu triwulan, kemudian setiap bidang menuliskan laporan program kerja dan evaluasi perencanaan (timeline dan keuangan), pelaksanaan (teknis dan publikasi), pelaporan, hingga quality control dan tools evaluasi. Infografis ini dapat menjadi media yang cukup efektif memberikan insight dan pemahaman serta tingkat representatif yang tidak kalah dengan laporan yang panjang, selain itu efisien dalam waktu dan tenaga yang dikeluarkan dalam pembuatannya.

 

 

Video kreatif juga dapat menjadi alternatif laporan yang menyenangkan dan mudah untuk dipahami pembaca atau warga IKM FT UI. Dengan video yang komunikatif dan tidak membosankan, laporan pertanggung jawaban akan lebih mendapatkan perhatian dan tanggapan sehingga proses saling membangun antar lembaga maupun warga FT UI dapat berlangsung dengan optimal. Selain video kreatif, website IKM FT UI yang terintegrasi dapat menjadi alternatif yang cukup kekinian. Sistem website yang dapat melakukan beberapa operasi seperti upload file, isi formulir, atau mengisi progress lembaga akan menjadi sistem pelaporan lembaga kemahasiswaan terbaik dan tercanggih di Indonesia bahkan dunia. Bukan tidak mungkin lembaga kemahasiswaan FT UI akan menjadi lembaga kemahasiswaan percontohan di Indonesia yang mampu menerapkan konsep Internet of Things (IoT).

Oleh karena itu, apabila kita bisa membuat laporan yang lebih sederhana dan ringkas (efisien) serta menarik, memberikan insight, dan dapat merepresentasikan pencapaian lembaga tersebut (efektif) sehingga dapat saling membangun dan bertukar informasi antar lembaga IKM FT UI sesuai mandat Pembukaan IKM FT UI yang tercantum pada PD/PRT IKM FT UI, untuk apa kita terus-menerus terjebak dalam belenggu peraturan-peraturan, TAP (Ketetapan), kesepakatan, dan birokrasi yang kita ciptakan sekaligus kita pusingkan sendiri yang pada akhirnya hanya akan menjadi bom waktu bagi IKM FT UI.

Penulis : Naufal Farras Fajar, Talitha Arista, Talitha Zada Gofara, Ahmad Syauqi

Editor : Redaksi Teknika FTUI

 



Rapat Perdana DP Muker IX

Selasa, 20 Maret 2018, pukul 19.00 telah dilaksanakan Rapat Perdana Dewan Pengarah Musyawarah Kerja (DP Muker) IX di K102 yang dihadiri oleh 38 dari 55 orang Dewan Pengarah (DP) yang terdaftar. Rapat Perdana ini berisi perkenalan satu sama lain, penjelasan dari Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) terkait persiapan dan pembuatan draft Muker selama setahun ke depan, dan juga pembahasan SOP rapat DP Muker. “Suasana selama rapat lumayan aktif dengan adanya tanggapan-tanggapan dari para peserta rapat, namun masih banyak juga yang pasif dalam forum,” ujar Sutan Akbar S.O., Ketua Umum MPM FTUI 2018.

Berdasarkan Peraturan Dasar Peraturan Rumah Tangga (PDPRT) IKM FTUI, Muker merupakan forum pengambilan keputusan tertinggi di IKM FTUI yang dilaksanakan setiap empat tahun atau sebelumnya bila dianggap perlu. Sebelum melaksanakan Muker. MPM harus membentuk DP Muker yang tujuannya adalah untuk membuat draft PDPRT yang akan menjadi bahasan di Muker tahun selanjutnya. Siklus muker adalah sebagai berikut: Muker dilaksanakan pada tahun pertama, selanjutnya hukum di IKM FTUI dilengkapi dengan TAP-TAP MPM pada tahun kedua, lalu diambillah evaluasi dari pelaksanaan TAP dan PDPRT pada tahun ketiga, dan dimulailah perumusan kembali draft muker oleh DP Muker pada tahun keempat. Dewan Pengarah Muker merupakan satu perwakilan dari setiap lembaga di IKM FTUI dan anggota IKM FTUI yang mendaftar. Persyaratan untuk menjadi DP Muker adalah Anggota Aktif IKM FTUI, tidak terancam DO, dan bersedia mengikuti seluruh rangkaian kegiatan Muker.

“DP Muker itu amanah yang berat buat IKM FTUI karena kitalah orang-orang pertama yang akan tanggung jawab ke IKM FTUI selama empat tahun ke depan setelah muker. Saya berharap kepada seluruh DP Muker untuk sadar betapa beratnya amanah yang dipikul, namun bukan untuk menakuti melainkan menjadi penyemangat untuk Muker IX tahun depan.” ujar Sutan.

“Ini merupakan awal permulaan yang baik untuk DP muker ini karena dengan udah adanya atmosfer diskusi yang terbentuk di rapat pleno perdana kemarin akan menciptakan diskusi-diskusi yang berbobot kedepannya terkait IKM FTUI.” ujar Fade Khalifah R., Sekum 1 MPM FTUI 2018

Berikut infografis terkait Muker IX IKM FTUI yang telah dibuat oleh bidang Research and Study Teknika FTUI 2018,

Penulis: Firda Aulia Sartika

Editor: Septiana Pratama Nugraheni dan Himawan Nurcahyanto